
Di SMA Muhiba polisi, jaksa, dan pelajar berbaur dalam panggung edukasi yang tak biasa. Simulasi hukum dan yel-yel penuh semangat menjadi cara mereka menegaskan: ikut-ikutan tawuran bisa berujung penjara.
Tagar.co – Sorak-sorai “SMA Muhiba… Hobi Berkarya, Tradisi Juara, Raih Pahala!” membahana di Masjid A.R. Fachrudin SMA Muhammadiyah 1 Babat (SMA Muhiba), Lamongan, Jawa Timur, Selasa (5/8/2025).
Yel-yel itu bukan sekadar pemanis acara, melainkan pembakar semangat bagi ratusan pelajar yang duduk rapi berseragam abu-abu putih. Pantulan suaranya memantul di sela-sela roster merah, menciptakan resonansi yang memacu adrenalin.
Pemandangan siang itu tak biasa. Ruangan yang biasanya khidmat untuk salat berjemaah, kini disulap menjadi panggung edukasi sosial bertajuk Pencegahan Kenakalan Remaja untuk Generasi Emas. Deretan narasumber—polisi, jaksa, hingga perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan—duduk berjejer di depan backdrop bertulsikan Sosiaisasi Konflik Sosial.
Sapari, Kabid Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik (Wasnas) Bakesbangpol Lamongan, memimpin langsung yel-yel pembuka dengan semangat menggelegar. Ia mengajak siswa-siswi bukan hanya berteriak, tetapi meresapi bahwa sorakan itu adalah bentuk ikrar menjaga diri dan lingkungan dari kenakalan remaja.
Baca juga: Raker SMA Muhiba: Wujudkan Sekolah Unggul lewat Kepemimpinan Visioner dan Literasi Digital
“Ini bukan sekadar acara, tapi langkah nyata menjaga keamanan Lamongan. Jadikan momentum ini sebagai pembentuk karakter bangsa yang berintegritas!” serunya. Sontak, tepuk tangan riuh menggema, menciptakan suasana hangat di tengah forum yang sarat pesan serius.
Momen puncak terjadi saat Aipda Yuli, Kanit Bintibsos Polres Lamongan, maju ke depan. Ia tampil dengan gaya khas yang langsung membangun koneksi dengan siswa. Tak hanya ceramah, Yuli mengajak salah satu siswa untuk memeragakan adegan nyata bagaimana seseorang bisa terjerat hukum hanya karena ikut-ikutan dalam tawuran.
Dengan gestur tegas, ia menunjuk ke arah siswa tersebut dan berkata, “Pelajar SMA tetap bisa dipenjara meski hanya menonton tawuran.” Simulasi interaktif itu menjadi peringatan keras bahwa hukum tak mengenal istilah “sekadar ikut-ikutan”.
Ia lalu mengupas satu per satu isu yang kerap menjerat remaja: minuman keras, judi online, bullying, seks bebas, hingga narkoba. Yuli mengingatkan, “Bela diri itu keren, tapi jangan sampai salah arah. Pendekar sejati adalah yang menjaga kedamaian, bukan pembuat onar.”
Tak hanya itu, ia menyinggung pula fenomena Fomo (fear of missing out) yang membuat pelajar terjebak dalam arus pergaulan negatif. “Bahagia itu sederhana. Jangan cari sensasi dengan hal negatif. Teman yang baik adalah yang membawa kita maju, bukan yang menjerumuskan,” tutupnya dengan tatapan tajam ke arah siswa.

Sementara itu, Nugroho Setyo Basuki, Kasubsi I Intelijen Kejari Lamongan, mematahkan mitos bahwa anak di bawah umur tak bisa dipenjara. “Usia 12–18 tahun tetap bisa diproses pidana, bahkan yang hanya menonton tawuran bisa dijerat hukum,” tegasnya sambil menampilkan data bahwa 40 persen kasus yang ditangani Kejari Lamongan melibatkan pelajar.
Diskusi makin hangat saat sesi tanya jawab dibuka. Siswa-siswi tak ragu melontarkan pertanyaan kritis tentang cara menghadapi provokator konflik, mengajak teman keluar dari jerat Fomo, hingga isu peredaran narkoba yang menyasar pelajar dari keluarga ekonomi rendah. Bahasan soal modus penyelundupan narkoba lewat jasa ekspedisi pun memancing diskusi serius tentang pengawasan hukum.
Kepala SMA Muhiba, Agus Al Chusairi, menegaskan dalam sambutannya di awal acara bahwa kenakalan remaja bukan hanya tanggung jawab sekolah. “Kalian harus getuk tular kepada teman-teman, bahwa tawuran, narkoba, dan perilaku buruk lainnya itu merusak masa depan,” ujarnya serius.
Aminulloh Fatkhur Roziqi, Sekretaris Lembaga Kerja Sama PDM Lamongan, menegaskan pentingnya sinergi Muhammadiyah dengan Pemkab Lamongan. “Kami ingin sinergi ini tidak berhenti di sini. Muhammadiyah dan Pemkab Lamongan harus terus bergerak bersama demi membangun generasi muda yang kuat secara karakter dan pemikiran,” ucapnya.
Di akhir acara, para siswa berdiri tegap, tersenyum namun penuh tekad. Mereka berjanji menjauhi segala bentuk kenakalan remaja, bijak bermedsos, dan siap menjadi bagian dari Generasi Emas 2045. Bagi SMA Muhiba, ini bukan penutup, melainkan awal dari perjalanan panjang membentuk pelajar cerdas, berintegritas, dan siap menjaga nama baik sekolah, bangsa, dan agamanya. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












