
Warung kecil di pinggir sawah Ambarawa ini menyuguhkan soto murah, suasana syahdu, dan rasa yang membuat siapa pun ingin kembali.
Tagar.co — Pagi itu, Selasa (30/12/2025), hawa dingin Ambarawa terasa begitu bersahabat. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah yang membentang di sisi Jalan Pemuda, Pojoksari.
Di tengah suasana yang tenang dan menyejukkan itulah langkah saya bersama anak bungsu, Sultan Ahmad Ateem (7), dan Sri Utami (53) berhenti di sebuah warung kecil sederhana bertuliskan Soto Rodo Mroso.
Awalnya, tujuan kami hanya berjalan santai menyusuri kota kecil berhawa sejuk ini. Udara segar, panorama persawahan, dan siluet pegunungan di kejauhan membuat pagi terasa lengkap. Namun, semua rencana seketika buyar ketika Sultan menunjuk sebuah warung di pinggir jalan.
Baca juga: Wedang Ronde Ambarawa: Semangkuk Kehangatan di setiap Liburan
“Bunda, itu ada soto,” katanya penuh semangat.
Nama warungnya unik. Pengunjung belum terlalu ramai. Rasa penasaran pun membawa kami masuk.
Di salah satu meja, seorang pengunjung, Reni Widyastuti (32), yang datang bersama suaminya, memberi isyarat ramah.
“Agak siang nanti warung ini penuh,” ujarnya. “Bukanya dari jam setengah tujuh pagi sampai jam lima sore.”
Kami pun tahu, kami datang di waktu yang tepat.

Kejutan Besar
Warung sederhana itu ternyata menyimpan kejutan besar di mangkuk-mangkuknya. Soto Rodo Mroso menyajikan soto khas Semarang dengan kuah bening yang harum dan ringan.
Di dalamnya berpadu mi soun, suwiran ayam, bawang putih, seledri, dan taburan bawang goreng yang membuat aromanya kian menggoda.
Lebih mengejutkan lagi, harga satu mangkuk soto hanya Rp5.000.
Di atas meja, tersaji beragam lauk pelengkap: tempe, tahu, bakwan, perkedel kentang, sate usus, sate telur puyuh, sate keong, hingga sate bakso yang mengepul hangat.
“Lihat, Bunda, ada pentol bakarnya,” seru Sultan antusias sambil menunjuk sate bakso. Tanpa ragu ia mengambil lima tusuk sekaligus.
“Rasanya enak banget, ada pedasnya sedikit,” katanya, matanya berbinar.

Hawa dingin pagi perlahan tergantikan oleh kehangatan semangkuk soto. Kuah bening yang gurih berpadu sempurna dengan sejuknya udara Ambarawa. Di hadapan kami terbentang sawah hijau dan barisan pegunungan yang menjadi latar santap pagi yang terasa begitu syahdu.
Tanpa terasa, kami menghabiskan tiga mangkuk soto, lima tusuk sate bakso, lima gorengan, tiga gelas teh hangat, dua kerupuk, dan dua perkedel kentang.
Saat tiba waktu membayar, kami saling berpandangan tak percaya. Totalnya hanya Rp40.000. Murah, mengenyangkan, dan memanjakan lidah.
Soto Rodo Mroso bukan sekadar tempat makan. Ia adalah potongan kecil dari kenikmatan sederhana: kuliner rakyat, suasana desa, dan rasa yang jujur.
Di tengah dinginnya pagi Ambarawa, semangkuk soto di warung pinggir sawah ini menghadirkan kehangatan yang tak hanya terasa di perut, tetapi juga di hati. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












