Feature

Nepotisme Mengorbankan Rakyat: Khotbah Busyro Muqoddas di Sidoarjo

51
×

Nepotisme Mengorbankan Rakyat: Khotbah Busyro Muqoddas di Sidoarjo

Sebarkan artikel ini
Busyro Muqoddas menyampaikan khotbah Iduladha di Perguruan Muhammadiyah Sidoarjo (Tagar.co/Mahyuddin Syaifulloh)

Dari mimbar Iduladha di Sidowayah, Sidoarjo, Dr. Busyro Muqoddas menegaskan: jangan korbankan rakyat demi memperpanjang kekuasaan keluarga dan kelompok. Nepotisme politik, katanya, merusak demokrasi dan menistakan keadilan.

Tagar.co – Pagi yang cerah di halaman Perguruan Muhammadiyah Sidowayah, Jalan Majapahit No. 666, menjadi saksi ribuan warga Sidoarjo menunaikan salat Iduladha 1446, Jumat (6/6/2025). Sejak pukul 05.00 WIB, jemaah dari berbagai penjuru mulai memadati kawasan kantor Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sidoarjo.

Suasana khusyuk menyelimuti pelaksanaan ibadah. Bertindak sebagai khatib adalah tokoh nasional, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum dan HAM, Dr. H. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum. Dalam khotbahnya yang bertema Agama Keadilan Paripurna (Mutiara Hikmah Idulkurban), Busyro mengajak umat Islam merenungi makna terdalam dari perintah penyembelihan Ismail oleh Nabi Ibrahim.

Baca juga: Busyro Muqoddas Khotbah Iduladha di Sidoarjo, Muhammadiyah Gelar Salat di 100 Lebih Lokasi

“Alhamdulillah, pada hari ini, 10 Zulhijah 1446 Hijriah bertepatan dengan tanggal 6 Juni 2025 hari ini, umat Islam sedunia merayakan hari raya kurban. Dalam hari ini pula dan tiga hari ke depan (hari tasyrik), umat Islam yang sedang dianugerahi kecukupan rezeki, diwajibkan untuk menyembelih hewan kurban sebagai wujud dan bukti nyata rasa kesyukuran dan ikhlas kita atas nikmat yang dianugerahkan Allah Swt,” ujarnya membuka khutbah.

Baca Juga:  Foskam Sidoarjo Kirim 96 Siswa dan 24 Guru ke Ajang Internasional MYPO 3.0 Malaysia–Singapura

Busyro menegaskan bahwa perintah salat dan berkurban adalah bentuk pendidikan spiritual dari Allah Swt. Ia merujuk pada Surah Al-Kautsar ayat 1–2 yang menyerukan pendirian salat dan penyembelihan kurban sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan.

Dalam khotbah yang penuh nuansa reflektif itu, Busyro mengajak jemaah menggali mutiara hikmah dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Ia memaparkan bagaimana kurban bukan hanya sebatas ritual penyembelihan hewan, melainkan simbol pengorbanan ego dan sifat-sifat negatif dalam diri manusia.

“Berkorban juga mengandung makna agar kita membakar sifat-sifat kebinatangan seperti serakah, rakus, tamak, bengis, keji, dan sebagainya,” katanya. Ia juga mengingatkan tentang bahaya hoaks, fitnah politik, serta egoisme kelompok dan keluarga dalam berbangsa.

Busyro Muqoddas bersama PCM Sidoarjo usai salat Iduladha di Perguruan Muhammadiyah Sidoarjo (Tagar.co/Mahyuddin Syaifulloh)

Busyro secara khusus menyoroti maraknya praktik nepotisme dan fanatisme politik yang bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia. Ia menyebut kondisi ini sebagai sumber ketidakadilan dalam ekonomi, politik, dan hukum.

“Saat sekarang sangat disayangkan menguatnya mentalitas, budaya, dan praktik nepotisme politik yang telah terbukti justru mengorbankan pihak lain, termasuk rakyat,” tegasnya.

Baca Juga:  Hari Pertama di Malaysia, Rombongan Pelajar Muhammadiyah Sidoarjo Kunjungi Ikon Nasional

Ia juga mengangkat keteladanan Nabi Ibrahim dalam berdialog dengan anaknya, Ismail, sebagai simbol pentingnya proses kaderisasi dan pendidikan generasi muda.

“Ibrahim memberi contoh regenerasi dan kaderisasi terhadap kaum muda (generasi milenial, Gen Z, Gen A). Dan Ismail adalah lambang generasi muda yang taat patuh, bukan pengekor fanatik eksklusif,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Busyro mengajak seluruh pejabat dan penyelenggara negara untuk meneladani semangat pengorbanan Nabi Ibrahim dengan menunjukkan ketulusan dan keberanian melawan korupsi serta ketamakan kekuasaan.

“Mari kita renungi sejenak dari kisah ini untuk kita seluruhnya terutama untuk saudara kita yang sedang mengemban amanat mulia. Yaitu mereka yang berada di pemerintah, DPR/Parpol, DPD, KPU, Polri, Kejaksaan, Hakim, TNI,” pungkasnya.

Khotbah Iduladha di Sidowayah kali ini menjadi lebih dari sekadar ritual. Ia menjadi ruang refleksi moral dan etika sosial-politik, menyerukan kebangkitan kembali kesadaran akan keadilan, keikhlasan, dan pengorbanan sejati dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (#)

Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni