Opini

Muhammadiyah dan Potensi Strategis untuk Membebaskan Palestina

36
×

Muhammadiyah dan Potensi Strategis untuk Membebaskan Palestina

Sebarkan artikel ini
Bukan dengan senjata, tapi lewat pendidikan dan amal usaha lainnya, Muhammadiyah menyimpan kekuatan strategis untuk turut membebaskan Palestina dan membangun kembali harapan peradaban Islam.
Alvin Qodri Lazuardy

Bukan dengan senjata, tapi lewat pendidikan dan amal usaha lainnya, Muhammadiyah menyimpan kekuatan strategis untuk turut membebaskan Palestina dan membangun kembali harapan peradaban Islam.

Oleh Alvin Qodri Lazuardy *)

Tagar.co – Malam itu, SM Tower menjadi tempat pilihan bagi sebuah diskusi yang awalnya saya kira akan berjalan biasa-biasa saja: seputar pengelolaan sekolah, service excellent, dan strategi kemajuan amal usaha Muhammadiyah.

Saya hadir sebagai bagian dari Majelis Tarjih dan Tajdid, memenuhi ajakan Ustaz Fatin Hammam, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tegal. Tak ada ekspektasi berlebihan.

Saya hanya berniat menyimak, mencatat, dan membawa pulang satu dua hal baru untuk diterapkan. Namun siapa sangka, justru malam itu menjadi titik balik dalam cara saya memahami arah perjuangan pendidikan Islam.

Baca juga: Para Pejuang Kemanusiaan Palestina dari Muhammadiyah

Pak Ghufron Mustaqim, tokoh IT yang pernah terlibat di startup Evermos dan kini bagian dari Sarekat Usaha Muhammadiyah (Sumu), tampil bukan sekadar sebagai teknokrat.

Saat para peserta menanti paparan teknis soal pengelolaan sekolah unggul, ia justru membuka layar dengan gambar Masjidilaqsa. Bukan sekadar gambar, tapi potongan sejarah. Bukan hanya pembuka, tapi pintu menuju visi besar—tentang keberkahan, peradaban, dan tanggung jawab kolektif umat atas Palestina.

Baca Juga:  Kontribusi Muhammadiyah Jatim Besar, Dukungan Pemerintah Harus Lebih Proporsional

Saya sempat tertegun. Ini forum pendidikan, mengapa bicara Al-Quds? Mengapa Mataram Islam disebut? Mengapa kutipan Prof. Abdul Fattah Al-Awaisi muncul?

Potesi Strategis Muhammadiyah

Tapi seiring penjelasan Pak Ghufron mengalir, saya mulai melihat jalinan benang merahnya: bahwa service excellent bukan cuma keramahan resepsionis atau kecepatan sistem absensi, tapi kesadaran bahwa sekolah adalah medan jihad peradaban.

Dia membangun argumen bahwa pendidikan Muhammadiyah—yang disebut sebagai organisasi Islam keempat terkaya di dunia—punya potensi luar biasa untuk membebaskan Palestina. Ya, membebaskan. Bukan sekadar menyumbang. Tapi merancang, mendirikan, dan mengelola amal usaha di tanah yang dijajah itu.

Ruangan mendadak senyap. Saya yakin, di benak banyak guru dan kepala sekolah mungkin muncul pertanyaan, “Kita butuh panduan teknis, bukan mimpi besar.”

Tapi justru di situlah letak perkaranya. Selama ini, mungkin kita terlalu sibuk mengejar branding sekolah, memburu piala, memoles citra. Padahal ada yang lebih besar, lebih mendesak, dan lebih bermakna: mendidik untuk peradaban. Mendidik untuk kemerdekaan. Mendidik untuk Palestina.

Pak Ghufron berkisah, pascagenosida 2023 di Gaza, ia mengubah haluan hidupnya. Urusan bisnis ia delegasikan, fokusnya kini satu: membebaskan Palestina. Bukan dengan senjata, tapi dengan amal usaha—dengan sekolah, rumah sakit, dan lembaga pelayanan umat lainnya.

Baca Juga:  Mengapa Muhammadiyah Selalu Tampak “Mendahului”?

Saya terdiam. Di tengah hiruk-pikuk dunia, ternyata masih ada yang menyimpan bara cita-cita itu dalam dadanya.

Ia tak menafikan pentingnya service excellent. Tapi ia memberi makna baru padanya. Pelayanan terbaik bukan cuma bagi wali murid, tapi bagi umat ini secara keseluruhan. Visi peradaban itu harus tertanam dalam sistem pendidikan kita. Palestina adalah simbol dari krisis peradaban itu.

Maka saat kita mendidik, kita tidak sedang memoles citra lembaga, melainkan menyiapkan generasi yang kelak mampu berdiri di tanah suci itu sebagai pendidik, penggerak, dan penolong.

Ego Kelembagaan

Sayangnya, sebagian dari kita masih terjebak dalam ego kelembagaan. Ingin unggul sendiri. Ingin hebat sendiri. Akibatnya, lahirlah bukan kolaborasi, tapi kompetisi berbumbu friksi. Sekolah-sekolah yang secara struktural satu keluarga, secara ideologis satu perjuangan, justru terjebak dalam lomba-lomba pencitraan. Ini bukan lagi service excellent, tapi service egosentris.

Narasi Pak Ghufron perlu kita dengar kembali. Bukan untuk dipuja, tapi untuk direnungi. Apakah benar orientasi sekolah-sekolah kita masih berada di rel peradaban? Atau sudah melaju cepat menuju jurang individualisme lembaga? Visi yang ia tawarkan bukan utopia. Ia berpijak pada realitas kekuatan umat dan sejarah perjuangan.

Baca Juga:  Perdamaian Gaza: Antara PBB dan BoP

Tapi juga menatap jauh ke depan: bahwa keberkahan (barakna haulahu) di Palestina tidak akan tergapai tanpa kemerdekaan. Dan kemerdekaan, sebagaimana Indonesia dulu, tidak lahir dari senjata semata, tapi dari kekuatan kolektif—pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

Saya menulis ini bukan sekadar catatan seminar, tapi sebagai ajakan. Agar kita—para pendidik, kepala sekolah, aktivis Muhammadiyah—kembali menyatukan langkah.

Kita tidak sedang berlomba mencetak brosur terbaik atau viral di TikTok, tapi sedang menyiapkan generasi pembebas. Jika Palestina adalah titik awal dan akhir perjuangan umat ini, maka sekolah kitalah tempat untuk memulainya.

Mari kita renungkan kembali setiap gejala egosentris kelembagaan. Mari kita naikkan level orientasi kita. Jadikan setiap ruang kelas sebagai ruang pembebasan. Jadikan setiap apel pagi sebagai penguatan ruh jihad. Jadikan setiap silabus sebagai jalan menuju kemerdekaan Palestina. Visi ini memang besar. Tapi bukan berarti tak mungkin. Kita hanya perlu memulainya—hari ini.

*) Alvin Qodri Lazuardy, pegiat literasi asal Tegal, kini membina gerakan literasi bernama Alfuwisdom melalui badan usaha CV. Alfuwisdom Mitra Prima yang bergerak di bidang penerbitan buku, bookshop, dan pelatihan literasi. Bermarkas di Piyungan, Yogyakarta.

Penyunting Mohammad Nurfatoni