
Dari Pengajian Ahad Pagi di Masjid At-Taqwa Giri, pengusaha sukses Dr. Moh. Sulthon Amien mengingatkan pentingnya menanamkan jiwa wirausaha sejak dini sebagai bekal kemandirian dan dakwah ekonomi Muhammadiyah.
Tagar.co – Sinar matahari pagi menembus kaca lengkung kubah Masjid At-Taqwa Perguruan Muhammadiyah Giri, memantul lembut di karpet biru bermotif geometris.
Langit-langit masjid yang dilukis menyerupai awan cerah menambah keteduhan suasana. Di sisi kanan, duduk tenang Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. Moh. Sulthon Amien, M.M., menyampaikan tausiah dengan suara lembut namun mantap.
Baca juga: Ihsan: Jalan Sunyi yang Tak Dikenal Malaikat
Ratusan jemaah—bapak-bapak bersarung, ibu-ibu berhijab warna-warni, serta beberapa siswa muda Muhammadiyah—menyimak dengan penuh perhatian.
Kesejukan udara berpadu dengan hangatnya kebersamaan, menjadikan pengajian itu bukan sekadar ruang belajar agama, tetapi momentum meneguhkan semangat berkemajuan menjelang Milad Ke-113 Muhammadiyah.
Kegiatan Pengajian Ahad Pagi yang digelar pada Ahad (19/10/2025) tersebut mengusung tema “Menyongsong Milad Ke-113 Muhammadiyah”.
Acara yang berlangsung di Masjid At-Taqwa Perguruan Muhammadiyah Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur, ini diselenggarakan oleh Majelis Tablig PCM Kebomas untuk memperkuat dakwah sekaligus pemberdayaan umat.
Sejarah dan Tantangan Zaman
Dalam pembukaannya, Sulthon mengucapkan selamat kepada kontingen PCM Kebomas yang berhasil meraih beberapa kategori juara dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Ke-5 PDM Gresik pekan lalu. Ia kemudian menjelaskan bahwa perhitungan milad Muhammadiyah menggunakan kalender Masehi (Miladiah), bukan Hijriah.
Sulthon mengajak jamaah menelusuri perjalanan panjang Muhammadiyah yang telah lebih dari satu abad berkiprah menanamkan nilai keislaman dan kemajuan di berbagai bidang: pendidikan, kesehatan, dan sosial-ekonomi.
“Pemberdayaan umat menjadi kunci agar gerakan ini terus hidup dan memberi manfaat,” tegasnya. Menurutnya, tantangan zaman menuntut warga Muhammadiyah untuk terus berinovasi dan tidak berhenti belajar.

Menanamkan Jiwa Wirausaha sejak Dini
Ia juga menekankan pentingnya membangun mental entrepreneurship sejak usia dini. Sekolah-sekolah Muhammadiyah, katanya, perlu menanamkan keberanian berwirausaha di kalangan siswa agar mereka memiliki kemandirian ekonomi di masa depan.
“Ajarkan anak-anak untuk berjualan, berdagang, dan berani mengambil risiko kecil. Karena semangat wirausaha itu akan menjadi bekal hidup yang berharga di masa depan,” ujar pengusaha sukses pemilik Parahita Diagnostic Center itu.
Ia menambahkan, semangat berdagang tidak terpisah dari nilai keislaman. Dalam sejarah Islam, banyak sahabat Rasul yang sukses di dunia niaga namun tetap berakhlak mulia dan menjunjung tinggi kejujuran.
Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup dan Inspirasi Amal
Lebih lanjut, pendiri Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya itu mengingatkan agar Al-Qur’an tidak hanya dijadikan bacaan rutin atau hafalan semata, melainkan ditadabburi dan dihayati maknanya.
“Ketika kita memahami isi kandungannya, Al-Qur’an akan menjadi pedoman hidup yang menuntun setiap langkah,” tuturnya.
Di tengah kondisi perekonomian nasional yang lesu, ia menilai semangat kemandirian dan kreativitas warga Muhammadiyah harus terus digalakkan. “Inilah saatnya kita menjadikan dakwah ekonomi sebagai bagian dari jihad kemanusiaan,” tambahnya.
Akhir yang Hangat dan Penuh Kebersamaan
Pengajian Ahad Pagi itu ditutup dengan sarapan bersama berupa soto ayam hangat dan pembagian sayur gratis untuk jemaah. Suasana hangat, tawa ringan, dan aroma soto yang mengepul menjadi penanda indahnya kebersamaan.
Dakwah Muhammadiyah di Giri tidak berhenti di mimbar, tetapi hadir nyata dalam solidaritas sosial yang menyejukkan. (#)
Jurnalis Eli Syarifah Penyunting Mohammad Nurfatoni












