Feature

Ihsan: Jalan Sunyi yang Tak Dikenal Malaikat

41
×

Ihsan: Jalan Sunyi yang Tak Dikenal Malaikat

Sebarkan artikel ini
K.H. Nidhol Masyhud di Masjid At-Taqwa Giri (Tagar.co/Mahfudz Efendi)

Dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid At-Taqwa Giri, K.H. Nidhol Masyhud mengajak jemaah merenungi kedalaman ihsan—sebuah perjalanan rohani yang bahkan malaikat pun tak bisa menempuhnya.

Tagar.co — Masjid At-Taqwa Giri kembali menghidupkan suasana pagi dengan pengajian rutin Ahad, 20 Juli 2025. Di tengah sejuknya udara Giri, Kebomas, Gresik, jemaah berkumpul untuk menyimak siraman ruhani bertema “Indahnya Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah” bersama K.H. Nidhol Masyhud, Lc., Dpl., pengasuh Pondok Pesantren Maskumambang, Dukun, Gresik.

Kiai Nidhol membuka ceramahnya dengan ajakan sederhana namun dalam makna: bersyukur. “Sebagaimana kopi yang kita minum pagi ini. Dari secangkir kopi saja kita bisa sangat bersyukur,” ujarnya, membangkitkan kesadaran bahwa nikmat Allah hadir dalam hal-hal yang sering kali luput dari perhatian.

Baca juga: Estafet Kepemimpinan di SD Almadany: Lilik Isnawati Dilantik sebagai Kepala Sekolah Baru

Selanjutnya, beliau menyampaikan hadis masyhur yang diriwayatkan Imam Muslim. Hadis ini mengisahkan percakapan antara Rasulullah Saw. dan seorang lelaki asing—yang belakangan diketahui sebagai malaikat Jibril As.—yang datang untuk mengajarkan agama Islam melalui tanya-jawab.

Baca Juga:  Jelang TKA April, Siswa SD Almadany Jalani Try Out hingga Gladi Bersih

Pertanyaan demi pertanyaan diajukan: tentang Islam, tentang iman, dan kemudian tentang ihsan. Rasulullah Saw. menjawab bahwa ihsan adalah “engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Namun, yang menarik dari kisah ini, tutur Kiai Nidhol, adalah bahwa Jibril hanya membenarkan jawaban Rasulullah saat menjelaskan Islam dan iman. Tetapi ketika sampai pada ihsan, Jibril tidak mengatakan “sadakta” (engkau benar), melainkan langsung beralih ke pertanyaan berikutnya tentang kiamat.

“Kenapa?” tanya Kiai Nidhol retoris, lalu menjawab sendiri. “Karena Jibril tidak mengetahui hakikat ihsan. Ihsan adalah wilayah eksklusif insan kamil. Bahkan malaikat Jibril pun tidak punya akses penuh ke wilayah itu.”

Izzatun Nisa Yumnaira Shezan Arsyila Putri kelas 4 SD Almadany Qoriah Pengajian Ahad Pagi (Tagar.co/Mahfudz Efendi)

Menurut dia, ihsan bukan sekadar praktik, tetapi puncak dari perjalanan ruhani manusia menuju makrifatullah. Malaikat—yang suci dan tunduk tanpa syarat kepada perintah Allah—tidak punya hawa nafsu dan tidak melalui ujian mujahadah sebagaimana manusia. Karena itulah, mereka tidak mengalami proses menuju makrifat sebagaimana manusia yang harus menundukkan diri dan nafsunya.

Baca Juga:  Puluhan Siswa SD Almadany Ramaikan Lomba Mewarnai Damar Kurung

“Ihsan adalah interaksi batin yang paling dalam antara hamba dan Penciptanya. Rasulullah Saw. telah mencapainya dalam peristiwa mi’raj. Jibril pun hanya mampu mengantarkan beliau sampai batas alam Jabarut. Ia tak mampu masuk ke alam Lahut. Di sanalah perbedaan insan dan malaikat. Itulah mengapa derajat manusia yang mampu menundukkan hawa nafsunya bisa melebihi malaikat,” terang beliau.

Pengajian pagi itu menjadi peneguhan kembali bahwa akidah Ahlussunnah wal Jama’ah tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menuntun hingga kepada penghayatan dan perjalanan ruhani yang mendalam. Dari secangkir kopi hingga pelajaran tentang ihsan, pagi itu menjadi pertemuan ilmu dan kesadaran spiritual yang menggetarkan. (#)

Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni