OpiniUtama

Menulis agar Pikiran Tidak Membusuk

254
×

Menulis agar Pikiran Tidak Membusuk

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Di tengah dunia yang serbacepat, menulis menjadi jeda yang menyembuhkan—tempat kita merapikan pikiran agar tidak pelan-pelan membusuk oleh kebisingan.

Oleh Prof. Triyo Supriyatno, M.Ag.; Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tagar.co – Di tengah derasnya arus informasi hari ini, kita seperti hidup di sebuah pasar malam raksasa: penuh lampu, penuh suara, penuh godaan, tetapi miskin keheningan. Kita lebih sering digiring untuk menonton, menggulir, membalas, membagikan—apa saja, asal cepat.

Namun di tengah kesibukan yang berisik itu, ada satu suara kuno yang tetap menggema, berasal dari seorang lelaki kurus dari Basrah yang hidup lebih dari seribu tahun lalu. Namanya Al-Jahiz.

Ia pernah menulis kalimat yang tampaknya sederhana, tetapi kini terasa seperti tamparan bagi manusia modern: “Aku menulis bukan untuk dipuja, tetapi agar pikiranku tidak membusuk di dalam kepalaku.”

Baca juga: Silaf dan Khilaf: Jalan Manusia Mencari Kebenaran

Kalimat itu, pada hakikatnya, adalah definisi paling jujur tentang menulis. Menulis bukan pertunjukan. Ia bukan panggung untuk tepuk tangan. Ia bahkan bukan alat untuk menunjukkan betapa “pintar”-nya kita.

Menulis adalah tindakan merawat kewarasan—sebuah perlawanan terhadap pengapnya pikiran yang tidak pernah diberi kesempatan untuk bernapas.

Tetapi hari ini, menulis justru mengalami penyempitan makna. Banyak orang hanya menulis ketika harus: ketika ditugasi, ketika mengejar nilai, ketika ingin viral, ketika hendak memamerkan pengetahuan.

Menulis berubah dari kebutuhan batin menjadi strategi pencitraan. Kita menulis bukan untuk memahami diri sendiri, tetapi agar orang lain memahami kita seperti yang kita inginkan—atau lebih tepatnya, seperti yang kita tampilkan.

Baca Juga:  Mengokohkan Civilian Value di Tengah Bayang-Bayang Militerisme

Ironisnya, justru karena menulis menjadi alat pencitraan, manusia modern kian kehilangan kejernihan berpikir. Kita sibuk memproduksi kalimat demi kalimat, tetapi sedikit yang benar-benar kita pahami. Kita banyak menghasilkan kata, tetapi miskin makna.

Pikiran kita dipenuhi serpihan informasi yang berserakan, tetapi tidak pernah ditata. Dalam kondisi seperti itu, benarlah kata Al-Jahiz: pikiran kita membusuk—bukan karena tidak ada ide, tetapi karena ide-ide itu tidak pernah diolah.

Menulis dan Ruang Batin

Menulis adalah cara paling sederhana untuk membersihkan ruang batin. Ia memaksa kita berhenti sejenak, duduk, dan memeriksa ulang apa yang sebenarnya kita pikirkan.

Ketika kita menulis, kita tidak bisa lagi berbohong pada diri sendiri. Kalimat yang kacau mencerminkan pikiran yang kacau. Tulisan yang tergesa mencerminkan jiwa yang gelisah. Kekosongan halaman mencerminkan kekosongan nalar yang selama ini kita tutupi dengan kesibukan.

Banyak orang salah paham bahwa untuk menulis, seseorang harus pintar terlebih dahulu. Padahal yang benar adalah: seseorang menulis justru karena ia ingin menjadi pintar. Menulis bukan pamer kecerdasan, tetapi proses membangun kecerdasan itu sendiri. Kita merangkai kalimat untuk memahami diri, bukan untuk membuat orang lain terkesan.

Para pemikir besar sepanjang sejarah—baik dari dunia Islam maupun Barat—hampir semuanya adalah penulis sebelum mereka menjadi “tokoh besar”: Ibn Khaldun, Al-Ghazali, Descartes, Rousseau, bahkan Albert Einstein.

Baca Juga:  Spirit Maulid Nabi dan Generasi Z: Menjawab Krisis Identitas di Dunia Digital

Mereka menulis bukan supaya dikenang, tetapi karena tanpa menulis, pikiran mereka tidak akan menemukan bentuk. Mereka tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya mereka yakini.

Mungkin itulah mengapa Al-Jahiz menulis begitu banyak: dari zoologi sampai humor, dari teologi sampai politik. Baginya, menulis adalah cara mengatasi keruwetan pikirannya sendiri. Ia mencatat, menyalin, menganalisis, menertawakan, dan memperbaiki dirinya melalui tulisan. Menulis adalah terapi, bukan pameran.

Menulis dan Generasi Ponsel

Sekarang mari kita menengok diri kita sendiri, generasi yang terhubung 24 jam melalui ponsel. Kita membaca banyak, tetapi jarang menjalani proses pemahaman yang panjang. Kita menghabiskan waktu pada konten singkat yang dirancang untuk menyenangkan, bukan untuk memperdalam. Kita diberi akses ke ribuan tulisan, tetapi tidak punya ruang untuk menulis kepada diri sendiri.

Padahal menulis tidak harus selalu publik. Tidak harus selalu berujung likes, komentar, atau tepuk tangan digital. Kita bisa menulis dalam buku catatan, di aplikasi memo, atau bahkan di lembar kertas seadanya. Yang penting adalah membiarkan pikiran kita bergerak, mengalir, dan berwujud.

Jika membaca adalah memasukkan dunia ke dalam diri, maka menulis adalah mengeluarkan diri ke dalam dunia. Tanpa menulis, kita menjadi tumpukan informasi yang tidak pernah berubah menjadi kebijaksanaan.

Maka pertanyaannya sederhana: kapan terakhir kali kita menulis sesuatu yang benar-benar berasal dari dalam diri kita—bukan dari kewajiban, bukan dari ambisi tampil, bukan dari tuntutan sosial?

Baca Juga:  Santri dalam Berbagai Perspektif: Penjaga Nilai, Penuntun Zaman

Menulis dalam Era Serbacepat dan Instan

Di era serbacepat ini, menulis adalah bentuk perlawanan. Perlawanan terhadap keterburuan, terhadap kebisingan, terhadap banjir informasi yang menggerus kedalaman. Menulis adalah cara untuk memperlambat dunia agar kita bisa benar-benar memahaminya.

Ketika kita menulis, kita sedang mengatakan kepada kehidupan: “Berhenti sebentar. Aku perlu memahami apa yang sedang terjadi.” Dan dari sinilah muncul kedewasaan berpikir.

Mungkin kita tidak akan menjadi Al-Jahiz, tidak akan menulis karya tebal-tebal, tidak akan menjadi raksasa intelektual yang dikenang berabad-abad. Tetapi menulis satu paragraf jujur setiap hari bisa menyelamatkan kita dari kekacauan mental yang semakin merajalela.

Peradaban runtuh bukan karena manusia kehilangan teknologi, melainkan karena manusia kehilangan kemampuan merenung.

Hari ini, ketika dunia semakin sibuk meminta kita untuk melihat ke luar, menulis mengajak kita untuk melihat ke dalam. Inilah tindakan kecil yang memberi harapan: bahwa setiap dari kita bisa menjadi lebih jernih, lebih bijak, lebih manusia.

Dan ketika kita mulai menulis dengan jujur, mungkin kita baru akan memahami mengapa Al-Jahiz memilih kematiannya di bawah rak buku—tempat pikirannya hidup lebih lama daripada tubuhnya.

Karena bagi seorang pencinta pengetahuan, tidak ada kematian yang lebih indah daripada wafat dalam pelukan hal-hal yang membuat hidupnya bermakna.

Pada akhirnya, menulis bukan hanya tentang mengisi kertas. Menulis adalah tentang menyelamatkan diri.

Agar pikiran kita tidak membusuk. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni