
Di tengah zikir dan doa usai salat berjemaah, masih ada yang sibuk mengusap layar HP. Masjid kehilangan khusyuk, hati pun tak lagi sepenuhnya terikat pada rumah Allah.
Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 12 judul lainnya
Tagar.co – Pada kebanyakan orang, HP menjadi sesuatu yang sulit dipisahkan. HP menjelma menjadi fokus. Bahkan, bagi sebagian orang, di masjid pun HP menjadi yang “nomor satu”.
Lihatlah fakta ini! Di sebuah masjid, salat Magrib berjemaah baru saja ditunaikan. Sebagian besar jemaah lalu khusyuk berzikir dan berdoa sebelum melanjutkan dengan salat sunah ba’da Magrib.
Di suasana itu, tampak seorang laki-laki serius dengan HP-nya. Di layarnya, bukan ayat-ayat Al-Qur’an yang tampak. Dia sedang browsing. Hal yang lebih memprihatinkan, apa yang dikerjakan lelaki itu dilihat oleh dua anak kecil yang ada di dekatnya (sangat mungkin keduanya adalah anak si lelaki).
Baca juga: Spirit Abadi dari Hamka dan Abdul Hamid Al-Kathib untuk para Pengarang
Di masjid yang sama, di hari yang sama—jika pada paragraf di atas terjadi saat Magrib, berikut ini kala Isya dan terkait imam masjid. Setelah mengimami salat dan melanjutkan dengan zikir, sang imam bangkit. Dia menuju ruang transit, sebuah ruangan di sebelah selatan mihrab yang dari situ bisa keluar masjid.
Terlihat sang imam, di ruang transit itu, sambil berdiri serius menatap layar HP. Setelah sekitar tiga menit, ternyata dia masih di ruang transit dan tetap tekun menatap HP. Bedanya, jika tadi berdiri, kini posisinya duduk di kursi. Luar biasa!
Undang Prihatin
Selain dua fragmen di atas, jika kita memberi sedikit perhatian maka akan mudah tampak hal-hal lain yang juga memprihatinkan terkait “HP di masjid”.
Pertama, saat azan dikumandangkan, ada saja yang masih “mengelus-elus” layar HP. Sementara, pahala menjawab azan itu besar.
Perhatikan sabda Nabi Saw.: “Barang siapa ketika mendengar azan lalu mengucapkan seperti yang muazin ucapkan, lalu berselawat kepadaku, dan memohon wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat” (HR Muslim).
Kedua, ketika menunggu ikamah, ada saja yang masih “main-main” dengan HP-nya. Padahal, waktu antara azan dan ikamah adalah waktu yang istimewa untuk diisi dengan doa.
Simaklah hadis ini: “Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara azan dan ikamah. Maka, berdoalah (kala itu)” (HR Ahmad).
Ketiga, sesaat setelah salat berjemaah selesai ada saja yang segera membuka HP-nya. Padahal, sunahnya adalah berdzikir dan berdoa sebelum mengerjakan hal yang lain (termasuk menunaikan salat sunah jika ada).
Selesai salat, berzikir dan berdoalah. Perhatikan hadis ini: “Siapa yang bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setelah salat sebanyak 33 kali dan menutupnya dengan membaca lâ ilâha illallâh lâ syarîka lahu lahul mulku wa lahulhamdu wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr, maka dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan” (H.R. Imam Malik).
Doa setelah salat adalah salah satu doa yang didengar Allah. Perhatikan riwayat dari Imam Tirmizi berikut ini: “Wahai Rasulullah, doa manakah yang didengar Allah?” tanya sahabat.
“Doa pada akhir malam dan setelah salat maktubah (salat wajib),” jawab Rasulullah Saw.
Jika diringkas urutannya:
-
Tunaikan salat wajib berjemaah di masjid.
-
Berzikir dan berdoa.
-
Baru mengerjakan hal yang lain.
Sekadar menegaskan, setelah selesai mengerjakan salat hendaknya kita tidak langsung mengerjakan hal lain selain yang telah disebut di atas. Berdzikir dan berdoalah. Tetaplah khusyuk menghadap Allah.
Rusak Khusyuk
HP banyak mengganggu kenyamanan jemaah di masjid. Lihatlah fenomena berikut ini. Jika sebelumnya imam hanya mengomando jemaah agar meluruskan dan merapatkan saf, kini bertambah.
Banyak imam sekarang menambah “komando”-nya, yaitu agar jemaah mematikan HP. Tentu, ini untuk menjaga agar tak terdengar bunyi dering HP.
Atas hal tersebut, pertama, ini berlebihan karena hampir di tiap masjid di pintu masuknya sudah ada petunjuk untuk mematikan HP.
Kedua, meski sudah berlapis peringatan yang disampaikan, masih saja di saat jemaah khusyuk menegakkan salat tiba-tiba terdengar “kring”. Rasanya, atas bunyi ini, semua jemaah akan terganggu. Bukankah esensi salat itu memahabesarkan Allah? Kita salat untuk mengagungkan Allah.
Di dalam salat banyak doa kepada Allah. Bayangkan, misalnya, ketika kita melafalkan iyyâkana’budu waiyyâka nasta’în yang artinya “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”, sekonyong-konyong pecah suara: “Tingtong”.
Rumah Allah
Masjid itu sangat istimewa. Pertama, perhatikan peristiwa hijrah yang sangat penting itu. Setelah Rasulullah Saw. melewati perjalanan yang tak mudah dari Mekkah ke Madinah, sesampainya di sana hal pertama yang dilakukannya adalah mendirikan masjid, yaitu di Quba’. Peristiwa ini mengirim pesan kepada segenap umat Islam bahwa masjid harus kita utamakan.
Kedua, posisi masjid itu luar biasa karena “kepunyaan Allah” sebagaimana petunjuk di ayat ini: “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah” (QS al-Jin [72]: 18). Masjid merupakan Baitullah (Rumah Allah).
Ketiga, di masjid seharusnya kita menjaga adab. Perhatikan yang ketiga dari tujuh golongan dalam hadis berikut ini:
“Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, (3) Seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya
(5) Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Aku benar-benar takut kepada Allah’, (6) Seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya, dan (7) Seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya” (H.R. Bukhari-Muslim).
Mari ulang yang urutan ketiga: “Seorang yang hatinya bergantung ke masjid”. Hati kita bergantung kepada masjidkah jika saat berada di dalamnya sibuk dengan HP?
Jaga Nafsu
Semoga kita segera merdeka dari HP, terutama saat ada di dalam masjid. Caranya, kendalikan nafsu ber-HP kita. Selalulah ingat ayat ini:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (l-Jasiah: 23).
Mari, usahakan semua masjid merdeka dari gangguan HP. Upayakan, segenap masjid bebas dari rongrongan HP. Yaa Allah, ampuni kami. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












