
Meski hidup di benua dan abad berbeda, Hamka dan Abdul Hamid Al-Kathib sepakat: menulis adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 12 judul lainnya
Tagar.co – Hamka dan Abdul Hamid Al-Kathib, dua pengarang besar. Keduanya hidup di zaman yang berbeda, berselisih lebih dari 1.200 tahun. Hamka wafat pada tahun 1981 dan Abdul Hamid Al-Kathib meninggal pada tahun 750.
Meski terpisah jarak waktu yang sangat panjang, keduanya meninggalkan warisan pokok yang terbilang sama, berupa karangan yang potensial membangun peradaban. Secara khusus, Hamka dan Abdul Hamid Al-Kathib mewariskan karangan yang bisa memompa semangat juang para pengarang. Mereka menyemangati lewat nasihat penuh hikmah di karangannya.
Baca juga: Hamka dan Amanat Berat sang Pengarang
Secara umum, kedua tokoh itu menggunakan pena untuk memengaruhi masyarakat. Keduanya menunjukkan bahwa tulisan bukan sekadar catatan, melainkan warisan yang mampu menembus zaman dan menggerakkan hati.
Sungguh, keduanya menggugah, kapan pun. Hamka, di antara buku-bukunya—setidaknya di tiga buku—memberikan pedoman kepada (calon) pengarang agar sukses. Ketiga buku itu adalah Falsafah Hidup, Lembaga Budi, dan Kenang-Kenangan Hidup. Sementara, Abdul Hamid Al-Kathib menulis Risalatu ila al-Kuttab (Surat kepada para Pengarang).
Kesamaan Spirit
Sekali lagi, cukup banyak persamaan Hamka dan Abdul Hamid Al-Kathib, meskipun punya latar belakang berbeda. Hamka berasal dari Minangkabau (Indonesia) dan Abdul Hamid Al-Kathib dari dunia Arab.
Pertama, sebagai pengarang, Hamka dan Abdul Hamid Al-Kathib menempati posisi penting. Keduanya bukan sekadar menguasai teknik menulis, tetapi juga menjadikan pena sebagai media dakwah, pendidikan, dan pembinaan akhlak masyarakat.
Kedua, Hamka dan Abdul Hamid Al-Kathib memandang bahwa tulisan adalah sarana membangun peradaban. Hamka menghidupkan semangat pembaca lewat karya semisal Lembaga Budi. Abdul Hamid Al-Kathib menegaskan bahwa pengarang harus menjadi guru bagi umat, membimbing pembaca ke arah kebaikan.
Ketiga, bagi keduanya, penguasaan bahasa bukan hanya soal teknis, tetapi juga melibatkan kepekaan batin. Hamka menekankan bahwa bahasa indah hanya akan lahir dari hati yang bersih. Abdul Hamid Al-Kathib mengatakan, pengarang sejati harus menguasai tata bahasa (rasanya, rahasianya, halusnya, dan kasarnya).
Keempat, karangan Hamka tetap hidup dan dibaca lintas generasi. Begitu juga pesan-pesan Abdul Hamid Al-Kathib (yang di antaranya dikutip Hamka dalam Lembaga Budi).
Kelima, keduanya berhasil meninggalkan spirit yang relevan di sepanjang masa, bahwa buah pena adalah amanah. Setiap kata yang ditulis harus dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Sang Penguat
Hamka, insyaallah sudah kita kenal. Lalu, siapa Abdul Hamid Al-Kathib? Dia hidup di abad ke-8 M pada masa Bani Umayyah. Dia dikenal sebagai sekretaris (kathib) istana Khalifah Marwan bin Muhammad. Dia dianggap sebagai salah satu perintis gaya prosa Arab klasik yang padat dan indah.
Gaya bahasa Abdul Hamid Al-Kathib menjadi acuan para pengarang dan orator di kemudian hari. Dia merumuskan prinsip-prinsip menulis surat resmi dan pidato politik yang ringkas namun penuh wibawa. Dia menekankan pentingnya kekuatan pesan lewat keteraturan ide dan kecermatan kata—hal yang relevan hingga kini.
Abdul Hamid Al-Kathib adalah sekretaris yang sangat terkenal pada masa Dinasti Umayyah dan berperan penting di masa Khalifah Marwan bin Muhammad (khalifah terakhir Bani Umayyah). Dia bertugas menulis surat-surat resmi, perintah kenegaraan, dan komunikasi diplomatik. Bahasa dan gaya surat diatur agar singkat, padat, dan penuh wibawa.
Tulisan Abdul Hamid Al-Kathib berpengaruh—misalnya, mampu menguatkan semangat tentara dan memengaruhi opini publik, bahkan di tengah situasi politik kritis.
Sekilas Situasi
Dalam memahami sesuatu, lingkup zaman sangat membantu. Di masa apa Abdul Hamid Al-Kathib berperan?
Dulu, dalam pemerintahan Islam, para pengarang mempunyai kedudukan istimewa. Ketika surat kabar belum ada, kelancaran pemerintahan—termasuk administrasi, keuangan, ekonomi, perdagangan, serta urusan perang dan damai—sangat bergantung pada komunikasi tertulis.
Surat, dari siapa dan kepada siapa? Dari khalifah atau sultan kepada relasinya. Semuanya memerlukan pengarang surat yang pandai agar pesan diterima dengan baik.
Maka, para pengarang yang dibutuhkan harus mengerti politik pemerintahan, adat-istiadat yang disukai atau tidak oleh penerima surat, serta pengetahuan memadai tentang Islam sebagai agama kerajaan. Mereka juga perlu memahami agama dan adat kerajaan tetangga yang menjadi tujuan surat.
Kerajaan Islam di zaman Bani Umayyah maupun Abbasiyah memiliki sidang pengarang di istana, duduk sebagai tangan kanan kepala negara bersama para menteri. Salah satunya ialah Abdul Hamid Al-Kathib yang menjadi pengarang di istana Khalifah Marwan bin Muhammad (127–132 H/744–750 M)【Tim Riset dan Studi Islam Mesir, 2024: 207】..
Sang Pengarang
Abdul Hamid Al-Kathib lahir di Syam (Syria) dari golongan Bani Amir. Dia meninggal pada tahun 135 H (750 M).
Dia pernah menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang pendidikan dalam Risalatu ila al-Kuttab (Surat kepada para Pengarang), yang berisi ulasan adab dan persyaratan pengarang dalam berperilaku dan bersikap. Tujuannya, agar pengarang menjadi panutan masyarakat—mengetahui tugasnya, berhati-hati, terus belajar, dan memperluas pengalaman.
Pendapatnya disetujui para ahli balaghah dan sastra. Dia tercatat sebagai guru pertama bagi para penulis surat, bahkan disebut pengembang pertama teknik penulisan surat resmi. Kualitas tulisannya begitu tinggi hingga “sihir pun lemah” dibanding balaghahnya.
Nama “Al-Kathib” adalah gelar yang berarti “sang penulis”. Dia bersahabat dengan Khalifah Marwan【Sumber: https://prezi.com/ewqsttom-1aa/abdul-hamid-bin-yahya-al-katib/, akses 12 Agustus 2025】.
Risalah Indah
Hamka menghormati Abdul Hamid Al-Kathib. Buktinya, dalam Lembaga Budi Bab IX, Hamka menulis “Budi yang Mulia pada Pengarang (Nasihat Abdul Hamid Al-Kathib untuk Pengarang)”.
Lewat Risalatu ila al-Kuttab, Abdul Hamid Al-Kathib memberikan pedoman berharga. Berikut ringkasannya dari Lembaga Budi (2018: 129–135):
-
Menahan perasaan hati di waktu yang diperlukan; tegas di tempatnya, menjaga rahasia, dan meletakkan sesuatu pada tempatnya.
-
Arif melalui jalan yang patut.
-
Menggunakan siasat jika perlu.
-
Bekerja dengan hati-hati dan tenang.
-
Tidak bersikap melebihi kapasitas diri.
-
Menjaga harga diri tanpa berlebihan.
-
Tidak tunduk pada orang lain.
-
Hati-hati di majelis, tidak boros pendapat.
-
Memperdalam pengetahuan adab, sastra, dan agama, mendahulukan ilmu terkait Al-Qur’an.
-
Menghafal syair, memahami arti dan rahasia katanya.
-
Belajar sejarah bangsa dan pepatah setempat.
-
Membersihkan karya dari hal-hal rendah; menjauhi gunjingan, umpatan, dan fitnah.
-
Tidak sombong atau mengaku serbatahu.
-
Menjaga solidaritas antarpengarang karena Allah.
-
Saling mengingatkan dan menasihati.
-
Membantu pengarang yang kesulitan.
-
Menghormati pengarang sepuh, meminta nasihat, dan memberi bantuan tanpa menyinggung perasaan.
Risalah itu ditutup doa: Semoga Allah senantiasa melindungi saya dan Anda, duhai semua penuntut ilmu dan para pengarang.
Jadilah, Teruslah!
Hamka dan Abdul Hamid Al-Kathib mengajarkan bahwa kejayaan umat Islam tidak hanya dibangun oleh kekuatan militer atau ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan kata melalui karya bermutu.
Hamka mewariskan Tafsir Al-Azhar, bahkan saat dipenjara rezim zalim. Abdul Hamid Al-Kathib mewariskan Risalatu ila al-Kuttab, yang kemungkinan ditulis di ruang istana Bani Umayyah.
Teruslah mengarang kapan pun dan di mana pun. Istikamah menulis. Tetaplah di jalan mulia itu. Jadilah seperti Hamka dan Abdul Hamid Al-Kathib yang karyanya abadi, tak lekang dimakan waktu. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












