Feature

Mengupas Makna Karamah Muhammadiyah di Masjid Al-Jihad Banjarmasin

165
×

Mengupas Makna Karamah Muhammadiyah di Masjid Al-Jihad Banjarmasin

Sebarkan artikel ini
Kajian subuh Fathurrahman Kamal di Masjid Al-Jihad Banjarmasin mengupas tuntas makna iman, urgensi jamaah, dan karamah Muhammadiyah sebagai anugerah Allah.
Fathurrahman Kamal di Masjid Al-Jihad Banjarmasin. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Kajian subuh Fathurrahman Kamal di Masjid Al-Jihad Banjarmasin mengupas tuntas makna iman, urgensi jamaah, dan karamah Muhammadiyah sebagai anugerah Allah.

Tagar.co — Fajar baru merekah di Banjarmasin, Jumat (14/11/2025). Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Al-Jihad. Ratusan jemaah memenuhi ruang masjid. Jemaah putra di lantai satu dan jemaah putri di lantai dua. Meski terpisah, fokus mereka tak terbagi. Pengelola masjid menyediakan empat layar televisi di lantai dua, memastikan para jemaah putri tetap dapat menyimak wajah dan gerak penceramah dengan jelas.

Pagi itu, H. Fathurrahman Kamal, Lc., M.Si., Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengisi Kajian Subuh Spesial. Ia membuka kajian dengan sebuah pengingat lembut namun menohok.

“Surga harus ditempuh dengan jalan berliku. Mudah-mudahan yang hadir pagi ini diberkahi hidupnya oleh Allah,” ucapnya.

Fathurrahman mengawali tausiahnya dengan landasan fundamental: iman. Menurutnya, iman adalah penggerak utama yang sering kali tidak disadari dalam setiap tindakan manusia.

“Ulama mengatakan, semua napas kehidupan, derap langkah, diakui atau tidak, merupakan representasi dari keyakinan dan keimanan yang ada dalam kalbu kita,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa iman adalah hal terpenting dalam hidup. Kehidupan yang manusia lalui bukanlah sekadar soal kesepakatan etika moral, melainkan sebuah manifestasi keyakinan kepada Allah yang tidak terbatas. Inilah yang menjadikan kehidupan benar-benar bermakna.

Fathurrahman lantas menyentil mereka yang mengingkari atau tidak yakin dengan eksistensi Tuhan. Ia menghadapkan mereka pada satu fakta yang tak mungkin dimungkiri: kematian.

“Kematian adalah fakta. Coba jelaskan kepada kami siapa yang bisa menghindari suatu fakta kematian? Tidak ada. Apapun keyakinannya,” tegasnya.

Dalam konteks inilah, kata dia, Islam hadir menginspirasi manusia untuk menjadikan hidup lebih bermakna. “Salah satunya [adalah] keberadaan kita di Muhammadiyah,” sambungnya.

Baca Juga:  Ukir Sejarah, Siswa Spemdalas Lolos Final OSN Matematika 2025
Fathurrahman Kamal di Masjid Al-Jihad Banjarmasin. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Muhammadiyah: Anugerah dan Komitmen Karakter

Ia mengajak jemaah untuk bersyukur atas kehadiran Muhammadiyah, yang ia sebut sebagai rezeki atau anugerah. Fathurrahman mengadaptasi sebuah doa syukur untuk menggambarkan hal ini.

“Ingin saya mengadaptasi ucapan ini, ‘Alhamdulillah hilladzi arrazaqa hadiyatana jamaatana Muhammadiyah…’. Artinya, Alhamdulillah yang telah menganugerahkan kepada kita rezeki berupa Muhammadiyah. Tidak mungkin kita merasakan rezeki Muhammadiyah kecuali dengan kehendak dan iradah Allah SWT,” tuturnya.

Ia kemudian mengupas makna nama “Muhammadiyah” secara mendalam. Menjadi bagian dari Muhammadiyah, menurutnya, bukanlah sekadar menjadi pengikut (follower).

“Kalau kita hanya followers, hanya disebut Muhammadiyun. Muhammadiyah maknanya mengarakterkan diri dengan semua karakter Muhammad. Meneguhkan komitmen dengan apa yang diajarkan beliau. Muhammadiyah itu representasi dari Muhammad,” jelasnya.

Karena tuntutan untuk merepresentasikan karakter Nabi itulah, ia menyimpulkan, “Berat jadi orang Muhammadiyah.”

Dengan cara pandang ini, Fathurrahman mengajak jemaah untuk mencapai apa yang Rasulullah janjikan, merujuk pada hadis tentang ismah (kemaksuman) kolektif yang didapat melalui jamaah (organisasi atau kebersamaan).

“Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umat Muhammad di atas kesesatan. Tangan dan kekuasaan Allah senantiasa bersama jamaah. Siapa yang menyimpang sendirian akan tersesat,” katanya, mengutip hadis.

“Saya menyeru kepada kita. Muhammadiyah bukan hanya organisasi gerakan, tapi satu pertaruhan kita di hadapan Allah untuk mendapatkan ismah (kemaksuman) yang bersifat kolektif dalam berjamaah,” tambahnya.

Fathurrahman Kamal di Masjid Al-Jihad Banjarmasin. (Tagar.co/Ichwan Arif)

Masjid Makmur dan Ismah Kolektif

Fathurrahman mengaitkan konsep ismah kolektif ini dengan eksistensi kelompok yang selalu tegak di atas kebenaran (Al-Haq) dan menjalankan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

“Dalam umat ini akan ada suatu kelompok yang senantiasa eksis di atas Al-Haq, karena itu, mereka tidak mungkin berkumpul di atas kesesatan… Yakinlah kebenaran tidak akan mungkin ditinggalkan,” paparnya.

Baca Juga:  Word Cafe Nasyiatul Aisyiyah, Ruang Meramu Gagasan Aksi Sosial

Islam, lanjutnya, mengatur mereka yang punya komitmen terhadap kebenaran untuk menjalankan amanah dakwah. Di sinilah peran sentral masjid dalam gerakan Muhammadiyah.

“Tagline kita, masjid makmur memakmurkan. Apapun masalahnya, masjid solusinya. Ingin membangun kesejahteraan umat, [mulailah dari] masjid. [Masjid bagi] umat bukan hanya pusat ibadah,” katanya.

Agar ismah yang dimaksud Rasulullah tetap lestari di lingkungan persyarikatan, Fathurrahman memberikan syarat mutlak. Tradisi ilmu di Muhammadiyah harus dijaga. Tanpa landasan ilmu agama yang kokoh, masjid tidak akan berfungsi optimal.

“Masjid harus ditopang orang yang paham beragama,” tegasnya.

Ia mencontohkan, ketika di Indonesia terjadi dinamika sosial atau politik, masyarakat akan kembali ke tokoh umat. “Dan yang dicari adalah masjid,” imbuhnya.

Mendefinisi Ulang Makna Karamah

Di pengujung kajian, Fathurrahman beralih ke topik yang sering disalahpahami: waliyullah (wali Allah) dan karamah (kemuliaan atau keajaiban).

Ia mendefinisikan waliyullah sebagai, “Orang-orang yang kita pahami, orang-orang yang dikasihi Allah, hidupnya tidak pernah risau, khawatir. Orang yang dapat karamah, kemuliaan Allah.”

Secara mengejutkan, ia kemudian menyebut bahwa Muhammadiyah memiliki karamah.

“Muhammadiyah itu sakral. Punya karamah. Hati-hati dengan Muhammadiyah. Jangan salah paham [dulu] kata karamah,” ujarnya, memancing rasa penasaran jemaah.

Ia lantas meluruskan mindset (pola pikir) yang keliru tentang karamah, yang sering diasosiasikan dengan kesaktian fisik, seperti kebal senjata tajam.

“Mindset tentang karamah itu dirusak. [Mengira] kalau kena tusuk tidak terasa. Padahal itulah serendah-rendahnya karamah,” kritiknya.

Karamah yang sesungguhnya, menurut Fathurrahman, jauh lebih subtil namun lebih agung: kemampuan menggerakkan hati untuk berkumpul dalam kebaikan.

Baca Juga:  Atlet Catur Muda dari Gresik Raih Medali Perak di Kompetisi Sains Nasional

“Anda kumpul di sini apa tidak sadar? Siapa yang bisa menggerakkan kita? Itulah karamah,” tandasnya.

Ia membandingkan dengan Ka’bah, benda mati yang sangat mulia, namun tidak bisa bertakbir atau menggerakkan dirinya sendiri. Manusia, bahkan yang kafir sekalipun, wajib dimuliakan karena merupakan ciptaan Allah.

Fathurrahman menutup kajian dengan refleksi mendalam tentang eksistensi persyarikatan sebagai syiar Allah.

“Masjid [adalah] agama Allah juga, syiar. Muhammadiyah minnsyaa irillah (termasuk syiar Allah). [Usia] 113 tahun tidak mungkin [bertahan] tanpa intervensi Allah,” pungkasnya.

“Bukan sakralisasi, tetapi mentakzim instrumen. Kalau Muhammadiyah tidak pernah ada dalam pentas sejarah, saya tidak membayangkan betapa sulitnya kita membersihkan aspek-aspek yang tidak bagian dari agama.”

Muhammadiyah Sarana Masuk Surga

Ia mengajak jemaah bersyukur dan menunaikan kesyukuran itu melalui iman.

“Aktif di Muhammadiyah jalan sarana masuk surga. Orang Muhammadiyah harus punya visi manfaat. Apa pun perjuangan kita di Muhammadiyah, semua ibadah kepada Allah. Kebenaran harus diperjuangkan dengan struktur organisasi, maka Kiai Dahlan mengatakan, organisasi jalan efektif untuk berjuang. Organisasi bukan politik. Cita-cita Anda mengurus LPCRPM, dapat tiket masuk surga.”

Ia mengutip Surah At-Tur ayat 21 tentang keberkahan generasi beriman yang diangkat derajatnya tanpa mengurangi pahala pendahulunya.

“Orang bisa diangkat derajat surganya bukan semata-mata hubungan anak–orang tua–suami, tetapi juga dari orang-orang yang serius mengurus Muhammadiyah.”

Fathurrahman menutup dengan satu kalimat kunci, “Apa alasan Anda tidak masuk surga? Iblis saja percaya doanya dikabulkan Allah. Bagaimana mungkin kita tidak percaya?” Ia juga mengajak jemaah harus menjadi duta rahmat bagi siapapun. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni