Opini

Mengapa Muhammadiyah Jarang Mengucapkan Kata Berkah?

69
×

Mengapa Muhammadiyah Jarang Mengucapkan Kata Berkah?

Sebarkan artikel ini
Aji Damanuri

Di masjid, orang lain bilang ‘semoga berkah’, Muhammadiyah menjawab ‘semoga bermanfaat’. Apakah perbedaan diksi ini sekadar gaya, atau tanda pergeseran makna dalam beragama?

Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Tagar.co – Di tengah maraknya ekspresi spiritualitas Islam di ruang publik, ada fenomena linguistik yang menarik dicermati dalam tubuh Muhammadiyah.

Ucapan seperti “semoga berkah” atau “ambil berkahnya” jarang terdengar. Yang lebih akrab di telinga adalah frasa-frasa seperti “semoga bermanfaat,” “semoga diridai Allah,” atau “semoga membawa maslahat.”

Baca juga: Saat Akal Sehat Terseret Hastag: Fenomena Ekstremisme Digital di Indonesia

Apakah ini pertanda Muhammadiyah menolak konsep berkah? Atau justru terdapat penafsiran yang lebih mendalam di balik pilihan kata tersebut?

Pertanyaan ini bukan sekadar soal semantik, melainkan jendela untuk memahami cara beragama, berteologi, dan berbudaya sebuah organisasi Islam modern terbesar di Indonesia.

Makna Berkah dalam Al-Qur’an

Secara bahasa, berkah (البركة) berasal dari akar kata بَرَكَ – يَبْرُكُ yang bermakna tetap, menetap, dan bertambahnya kebaikan. Dalam Al-Qur’an, konsep ini menjadi salah satu pilar teologi Islam, menggambarkan limpahan kebaikan dan keberlanjutan manfaat yang bersumber mutlak dari Allah Swt.

Allah berfirman:

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِّنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ أُمَمٍ مِّمَّن مَّعَكَ

“Dikatakan: Wahai Nuh, turunlah dengan selamat dan penuh keberkahan dari Kami atasmu dan atas umat-umat yang bersamamu.” (Hūd: 48)

Baca Juga:  Kontribusi Muhammadiyah Jatim Besar, Dukungan Pemerintah Harus Lebih Proporsional

Ayat lain menegaskan:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (Al-A‘rāf: 96)

Hadis-Hadis: Berkah dalam Kebersamaan dan Keikhlasan

Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa berkah tidak identik dengan jumlah, melainkan dengan kebermanfaatan dan keikhlasan.

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِي الِاثْنَيْنِ، وَطَعَامُ الِاثْنَيْنِ يَكْفِي الْأَرْبَعَةَ

“Makanan satu orang cukup untuk dua orang, dan makanan dua orang cukup untuk empat orang.” (Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

الْبَرَكَةُ مَعَ الْجَمَاعَةِ

“Berkah itu bersama orang-orang yang berjemaah.” (Ahmad dan Abu Dawud)

Muhammadiyah dan Rasionalisasi Konsep Berkah

Mengapa kata berkah jarang terdengar dalam tradisi Muhammadiyah?

Bukan karena menolak maknanya, tetapi karena Muhammadiyah memilih jalan rasional dalam mengekspresikan keimanan. Berkah bukanlah konsep magis, melainkan prinsip ilahiah yang bekerja dalam relasi sosial, keikhlasan, dan kebersamaan.

Ketiadaan ucapan berkah dalam kosakata harian Muhammadiyah bukanlah penolakan terhadap doktrin, melainkan hasil dari proyek rasionalisasi yang menjadi jiwa gerakan tajdid-nya.

Lahir untuk memerangi takhayul, bidah, dan khurafat (TBC), Muhammadiyah sangat berhati-hati dengan istilah-istilah yang berpotensi dimuati makna mistis dan irasional.

Praktik “mencari berkah” dari benda, kuburan, atau orang suci yang marak dalam budaya Muslim tradisional Nusantara dianggap dapat mengaburkan kemurnian tauhid. Kekhawatirannya adalah pergeseran dari menyembah Allah menjadi “menyembah” berkah-Nya melalui perantara.

Baca Juga:  Putri dari Bayang-Bayang

Oleh karena itu, Muhammadiyah memilih kata bermanfaat dan maslahat sebagai terjemahan operasional dari berkah. Jika berkah adalah teori, maka manfaat adalah praktiknya.

Pilihan ini brilian dalam menjaga kemurnian tauhid, namun menuai kritik konstruktif: apakah pendekatan ini berisiko mereduksi spiritualitas yang dalam menjadi sekadar utilitarianisme (filsafat kegunaan) yang kering?

Dimensi Budaya dan Spiritualitas

Ini bukan hanya soal teologi, tetapi juga budaya. Ekspresi berkah telah menyatu dalam kultur keagamaan masyarakat Nusantara yang kaya dengan simbol dan metafora.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU) dan masyarakat Muslim tradisional lainnya, berkah adalah jembatan yang menghubungkan yang sakral dan yang profan, yang rasional dan yang spiritual. Konsep ini melekat pada kiai, tempat-tempat tertentu, dan tradisi, yang berfungsi sebagai perekat sosial dan penguat spiritual.

Pendekatan Muhammadiyah, dalam hal ini, bisa dilihat sebagai bentuk puritanisme budaya—upaya mendekonstruksi budaya lokal yang dianggap tidak sejalan dengan Islam “murni”.

Sikap ini memiliki nilai positif dalam melawan sinkretisme, tetapi juga menciptakan kesenjangan emosional bagi sebagian orang yang merindukan ekspresi spiritual yang lebih hangat dan personal.

Di sinilah pentingnya dialog. Bukan untuk menyamakan, tetapi untuk saling memahami. NU memelihara berkah sebagai spiritualitas kultural, sementara Muhammadiyah mentransformasikannya menjadi etos sosial.

Menafsirkan Ulang: Berkah sebagai Etos dan Sistem

Muhammadiyah tidak perlu meninggalkan warisan rasionalnya yang berharga. Namun, ada ruang untuk memperkaya narasi tanpa mengorbankan prinsip. Konsep berkah perlu ditafsirkan ulang secara kontekstual:

  1. Berkah sebagai Etos Kerja Kolaboratif
    Seperti dalam hadis “makanan untuk berempat,” berkah adalah prinsip sinergi dan kolaborasi dalam membangun peradaban.

  2. Berkah dalam Sistem
    Seperti dikatakan seorang tokoh muda Muhammadiyah, “Berkah itu menciptakan sistem yang membuat kebaikan bertambah.” Keberhasilan rumah sakit, sekolah, dan panti asuhan Muhammadiyah adalah bukti nyata berkah sistemik ini.

  3. Berkah sebagai Kedalaman Makna
    Bermanfaat itu baik, tetapi berkah mengandung dimensi yang lebih dalam: ada nuansa ketenangan, keridaan Ilahi, dan keberlanjutan yang mungkin hilang jika hanya memakai kata manfaat.

Kritik konstruktif bagi Muhammadiyah adalah: jangan biarkan kekhawatiran terhadap penyimpangan membuat kita kehilangan kekayaan kosakata Islam itu sendiri. Alih-alih menghindari kata berkah, Muhammadiyah justru bisa memimpin dalam mempopulerkan pemahamannya yang rasional dan terbebas dari TBC.

Baca Juga:  Mengapa Muhammadiyah Selalu Tampak “Mendahului”?

Penutup

Pada akhirnya, perdebatan tentang kata ini mencerminkan dinamika Islam Indonesia yang sehat. Muhammadiyah, dengan konsistensinya, telah menunjukkan bahwa substansi berkah lebih penting dari sebutannya. Amal nyata Kiai Ahmad Dahlan adalah bukti tertinggi dari living berkah—melanjutkan berkah dari bibir ke amal, dari amal ke makna.

Tugas kita adalah berikhtiar menciptakan kondisi untuk turunnya berkah melalui ilmu, amal saleh, keikhlasan, dan kerja kolektif yang membawa maslahat bagi semesta. Dalam konteks inilah, Muhammadiyah, meski jarang mengucapkannya, justru tengah menghidupkan berkah dalam bentuknya yang paling otentik, yaitu peradaban. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni