
Kita sering mengejar dunia dengan nafas tersengal, hingga lupa mengambil jeda untuk bertanya: apakah langkahku ini menuju keridaan Allah? Hidup butuh koma, sebelum Allah meletakkan titik.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.
Tagar.co – Hidup itu tidak melulu tentang berlari dan mengejar. Ada saatnya kita harus berhenti sejenak, mengambil napas dalam-dalam, lalu bertanya dengan jujur pada hati sendiri: sudah sejauh mana kita melangkah di jalan yang diridai Allah? Karena hidup ini bukan soal cepat atau lambat, tapi tentang arah dan tujuan yang benar.
Dalam riuhnya rutinitas, kita sering lupa bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar dunia. Jam kerja yang padat, target yang tak habis-habis, notifikasi yang tak pernah berhenti semuanya seperti menyeret kita jauh dari heningnya jiwa. Padahal, jiwa butuh ruang. Hati butuh waktu. Dan roh butuh asupan yang tak bisa digantikan oleh prestasi duniawi.
Allah menciptakan waktu bukan hanya untuk bekerja dan beraktivitas, tetapi juga untuk merenung, mengevaluasi diri, dan kembali mengingat hakikat kehidupan.
Dalam Surah Al-‘Asr, Allah bersumpah dengan waktu:
وَالْعَصْرِ • إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ • إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.” (Al-‘Asr: 1-3)
Ayat ini seakan menjadi penegas bahwa hidup yang hanya berlalu tanpa iman dan amal saleh adalah kerugian nyata. Maka dari itu, hidup memerlukan tanda koma jeda untuk memperbaiki arah, untuk menakar kembali niat, dan untuk bertanya: apakah aku sedang menuju keridaan Allah atau justru tenggelam dalam kesibukan yang menjauhkan?
Nabi Muhammad mengajarkan pentingnya waktu luang dan kesehatan dalam sabdanya:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (H.R. Bukhari)
Jeda bukan berarti lalai. Koma bukan berarti berhenti selamanya. Justru dari jeda itulah kita bisa memperbaiki langkah. Hidup itu seperti kalimat panjang tanpa tanda baca, maknanya akan kacau. Dan tanpa jeda, jiwa akan kelelahan dan kehilangan makna.
Ada baiknya kita menengok kehidupan para salafushsalih. Mereka sangat menjaga waktu-waktu khusus untuk bermuhasabah. Umar bin Khattab pernah berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah).”
Mereka menyadari bahwa perjalanan hidup ini bukan tentang berapa banyak yang diraih, tetapi tentang seberapa jujur dan bersih hati kita saat kembali kepada-Nya.
Kita pun diajarkan untuk memiliki momen-momen kontemplatif. Misalnya, momen di sepertiga malam yang penuh rahmat. Allah turun ke langit dunia dan menyeru:
هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ؟ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ؟
“Adakah orang yang meminta, maka akan Aku beri? Adakah orang yang berdoa, maka akan Aku kabulkan? Adakah orang yang meminta ampun, maka akan Aku ampuni?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika Allah saja memberi kesempatan kita untuk mengadu dan memohon di waktu-waktu khusus, mengapa kita menolak jeda?
Sungguh, kehidupan yang terus berlari tanpa arah adalah kelelahan yang sia-sia. Kita perlu koma agar tidak meletakkan titik pada kesalahan. Kita perlu jeda agar tidak mengakhiri perjalanan menuju surga dengan kehampaan.
Jangan sampai dunia yang fana ini membuat kita lupa akan tujuan utama hidup: yaitu untuk beribadah kepada Allah.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (Az-Zariyat: 56)
Maka, bila engkau merasa lelah dalam perjalanan hidupmu, ambillah koma. Berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk menata kembali niat. Perbaiki ibadah. Luangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Sisihkan waktu untuk duduk sendiri dalam doa yang khusyuk. Teteskan air mata dalam istighfar yang mendalam.
Dan jika engkau merasa arah hidupmu telah melenceng, maka ambil waktu untuk kembali. Karena Allah tak pernah menutup pintu bagi hamba yang ingin pulang.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (Az-Zumar: 53)
Jika selama ini kita berlari tanpa arah, jadikan hari ini sebagai koma untuk berpaling kepada-Nya. Karena sebaik-baik perjalanan adalah ketika kita berjalan menuju cahaya hidayah-Nya.
Dan ketika waktunya titik itu tiba saat ajal menjemput kita tak lagi takut, karena kita sudah terbiasa mengambil jeda untuk bertanya, “Aku hidup untuk apa, dan akan kembali ke mana?”
Hidup bukan tentang terburu-buru. Hidup bukan tentang kesibukan semata. Hidup adalah tentang menyadari bahwa setiap detik adalah karunia. Dan karunia terbesar adalah ketika kita menyadari bahwa setiap langkah harus bermuara kepada-Nya. Maka ambillah koma itu hari ini sebelum Allah meletakkan titik. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












