Feature

Ruang Sunshine SD Mugres, Sudut Tenang yang Sarat Makna dalam Visitasi LLSMS

54
×

Ruang Sunshine SD Mugres, Sudut Tenang yang Sarat Makna dalam Visitasi LLSMS

Sebarkan artikel ini
SD Mugres
Salman dan Syifa berpose bahagia bersama juri LLSMS, M. Nurfatoni dan Zufra Inayah, serta kepala SD Mugres Kampus A Luluk Subaidah (Tagar.co/Abizar Purnama)

Kami percaya, sekolah sehat adalah sekolah yang menyehatkan hati dan pikiran semua muridnya. Ruang Sunshine adalah bagian dari upaya kami membangun lingkungan pendidikan yang holistic.

Tagar.co – Saat sorotan utama Lomba Lingkungan Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Sehat (LLSMS) umumnya berfokus pada taman hijau, pengelolaan sampah, dan sanitasi sekolah, SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A justru memberi warna berbeda.

Dalam visitasi penilaian, Selasa (05/8/2025), dua juri LLSMS, Drs. Mohammad Nurfatoni (Majelsi Dikdasmen dan PNF PDM Gresik) Zufra Inayah, S.KM., M.Kes. (Majelsi Lingkungan Hidup PDM Gresik), diajak menyusuri area tenang bernama Ruang Sunshine, tempat belajar khusus bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Kunjungan ke ruang ini bukan tanpa tujuan. SD Mugres merupakan sekolah inklusi yang menjunjung tinggi nilai keadilan dalam pendidikan dengan berupaya memberi ruang bagi setiap murid untuk tumbuh, apa pun latar belakangnya. Ruang Sunshine adalah wujud nyata dari semangat itu.’

Baca juga:

Begitu memasuki ruangan yang bernuansa hangat dan menenangkan itu, kedua juri disambut oleh pemandangan menyentuh, yakni dua murid ABK kelas II, Muhammad Salman Alfarisi dan Assyifa Azzahra Rizqiana yang sedang menjalani sesi Satu Jam di Tempat Menyenangkan (Jam Tenang).

Baca Juga:  Berbagi Takjil dan Nobar Drama sambil Menunggu Magrib

Salman dan Syifa sedang dibimbing oleh Dwi Marini Shelly, S.Pd., guru pendamping khusus mereka. Hari itu, mereka tengah belajar tentang pengenalan emosi, sebuah pelajaran penting dalam pengembangan sosial-emosional anak berkebutuhan khusus.

Mereka duduk di atas karpet dengan media visual sederhana seperti gambar wajah bergambar emosi. Mereka menirukan dan menyebutkan ekspresi gambar satu per satu dengan antusias. Juri pun tampak terdiam sejenak, terkesan oleh suasana yang begitu intim, namun penuh makna.

Kepada Fatoni dan Zufra, Koordinator Guru Pendamping Khusus (GPK) SD Mugres Alfian Mufthi Yafi, S.Psi., menjelaskan Ruang Sunshine bukan hanya tempat belajar bagi ABK, tetapi juga ruang aman untuk menenangkan diri.

“Kami menyebutnya ruang regulasi emosi, satu jam di sini, di tempat yang menyenangkan. Anak-anak bisa belajar mengenali perasaan, mengelola emosi, dan mengembalikan fokus mereka sebelum kembali ke kelas reguler,” ungkapnya.

Alfian juga menambahkan program Jam Tenang seperti yang dilakukan Salman dan Assyifa telah terbukti membantu ABK dalam mengurangi kecemasan, meningkatkan kepercayaan diri, dan memperkuat komunikasi sosial.

Baca Juga:  Rajin Ibadah Bisa Gugur Jika Lima Hal Ini Tak Dijaga

“Kami percaya, sekolah sehat adalah sekolah yang menyehatkan hati dan pikiran semua muridnya,” imbuhnya.

Siswa SD Mugres
M. Nurfatoni dan Zufra Inayah, serta kepala SD Mugres Kampus A Luluk Subaidah saat penjurian LLSMS (Tagar.co/Abizar Purnama)

Ramah dan Setara

Sementara itu, Kepala SD Mugres Kampus A, Luluk Subaidah, S.Pi., S.Pd., menjelaskan sekolahnya sejak awal berkomitmen untuk mengembangkan pendidikan yang ramah dan setara.

“Inklusi bukan slogan di SD Mugres, tapi budaya. Ruang Sunshine adalah bagian dari upaya kami membangun lingkungan pendidikan yang holistik, dari taman sekolah hingga kesehatan mental murid,” tegasnya.

Dengan fasilitas seperti Ruang Sunshine, SD Mugres menunjukkan lingkungan sekolah sehat tidak selalu soal fisik dan kebersihan, tetapi juga tentang jiwa, rasa aman, dan keberpihakan kepada semua anak, termasuk mereka yang membutuhkan perhatian khusus.

Visitasi hari itu bukan sekadar penilaian, tetapi bukti bahwa SD Mugres sedang menanam masa depan yang lebih cerah lewat pendekatan yang penuh cinta. Ruang Sunshine menjadi sinar kecil yang membawa harapan besar. (#)

Jurnalis Abizar Purnama. Penyunting Ichwan Arif