
Meski libur Ramadan, santri putri Ponpes Al-Fattah Sidoarjo tetap aktif mengaji dan iktikaf. Dengan metode sorogan, mereka mendalami Surah Luqman dan nilai birulwalidain secara mendalam.
Tagar.co – Pagi yang cerah menyapa halaman Masjid Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fattah, Banjarsari, Buduran, Sidoarjo, Senin (24/3/2025). Meskipun masa libur telah tiba usai acara Resepsi Ramadan dan Buka Bersama Ahad (23/3/25) malam, tapi suasana di lingkungan pondok masih hidup.
Beberapa santri putri dari jenjang SMP dan SMA, bersama asatizah yang belum pulang ke kampung halaman, tetap mengisi waktu dengan kegiatan keilmuan seperti biasa.
Baca juga: Muslim tanpa Islam? Refleksi Ustaz Sulthon Amien di Resepsi Ramadan Al-Fattah
Hari itu, para santri tampak khusyuk menyimak bacaan Al-Qur’an. Mereka mengaji dan menghafal Surah Luqman sembari beriktikaf di masjid. Tradisi mengaji tetap berjalan, tak terputus oleh libur.
Di Al-Fattah, mengaji bukan sekadar membaca. Para santri menggunakan metode sorogan, yaitu membaca per lafaz dan menerjemahkannya dalam bahasa Jawa. Metode ini sudah menjadi ciri khas pondok, mengakar kuat dalam tradisi pesantren Jawa.
“Ada empat tahapan dalam metode ngaji di sini: lafadze (lafaznya), maknane (maknanya), pengertiane (pemahamannya), dan amalane (pengamalannya),” ujar Ustaz Ridwan, M.Pd., pengampu mata pelajaran tafsir.
Ia menambahkan, metode tersebut bukan hanya bertujuan agar santri paham isi Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan nilai akidah yang kuat dan kemampuan menjaga diri, baik di dalam maupun di luar lingkungan pondok.
Surah Luqman yang menjadi fokus hafalan hari itu, menurut Ustaz Ridwan, memiliki banyak keutamaan. Salah satunya adalah pesan birrul walidain, yaitu perintah berbakti kepada orang tua. “Kami berharap, dari mengaji ini lahir generasi putri yang salihah, kuat iman, dan cinta kepada orang tuanya,” tuturnya.
Kegiatan semacam ini menjadi napas harian di Pondok Al-Fattah. Bahkan di masa libur, tradisi keilmuan tetap hidup, menjadi pengingat bahwa belajar agama bukan soal waktu, tetapi komitmen seumur hidup. (#)
Jurnalis Nur Djamilah Penyunting Mohammad Nurfatoni












