
Selain dalam hal kekuasaan, contoh lain dari perilaku mengejar gengsi dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti seseorang yang selalu ingin pamer pencapaian di media sosial agar mendapat pengakuan dari orang lain.
Membeli Gengsi; oleh Masro’in Assafani Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Lamongan.
Tagar.co – Kebutuhan dasar manusia untuk menunjang hidup sebatas makan, minum, pakaian, dan papan (rumah). Namun, di luar kebutuhan dasar, seringkali manusia tergoda untuk mengejar hal-hal lain yang bersifat sekunder, bahkan tersier, salah satunya adalah gengsi.
Bila hidup mengejar gengsi, maka akan melahirkan kegaduhan, kegalauan, dan kerisauan hidup. Karena mengejar gengsi, atau bahkan “membeli” gengsi, maka segala cara akan ditempuh.
Baca juga: Pesona Indah dalam Lingkaran Waktu: Tafsir Surat Al-Asr
Manusia yang dikuasai gengsi kadang lupa diri, lupa Tuhan, hanya berkutat pada angan-angan yang ingin terpenuhi dan tidak mengukur diri. Mereka senang dipuji, disanjung-sanjung, dan dihormati. Sebagai contoh, lihatlah bagaimana gengsi dapat membutakan seseorang dalam berbagai aspek kehidupan.
Berkuasa demi dihormati, maka akan melahirkan:
- Ketakaburan: Ketika memegang kekuasaan dengan sanjungan-sanjungan, maka bila tanpa iman dan takwa yang kokoh, seseorang menjadi pongah bahkan bengis, diktator, dan tidak berprikemanusiaan pada yang dibawah. Contoh nyata adalah Fir’aun. Kisah lengkapnya dapat dibaca dalam Al-Qasas 3-40.
- Kemarahan: Ketika memimpin dengan merasa besar, maka bila tidak dihormati, seseorang menjadi mudah marah kepada bawahan bahkan akan menjatuhkan hukuman tanpa keadilan. Hal ini dapat kita lihat pada para pemimpin yang otoriter di berbagai belahan dunia.
- Kekecewaan: Ketika harapan akan pujian tidak didapat, maka kekecewaan akan merayapi benaknya. Bahkan setelah jabatan lepas, akan berlanjut kekecewaan dengan menggerutu dan menyalahkan keadaan.
Selain dalam hal kekuasaan, contoh lain dari perilaku mengejar gengsi dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang yang rela berutang demi membeli barang-barang bermerek agar terlihat kaya, atau seseorang yang selalu ingin pamer pencapaian di media sosial agar mendapat pengakuan dari orang lain.
Semua ini adalah contoh bagaimana gengsi dapat membutakan seseorang dan membuatnya rela melakukan apa saja demi pengakuan semu.
Mengejar gengsi dan “membeli” gengsi bagaikan minum air laut, semakin diminum semakin haus berkepanjangan.
Hindari
Lantas, bagaimana agar kita terhindar dari jebakan gengsi?
Terapi hidup yang indah dan menggembirakan adalah dengan mensyukuri apa yang ada, hidup menerima anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Berusaha dengan segala yang menjadikan Allah ridha.
Ketawaduan (rendah hati) akan melahirkan:
- Kehormatan: Rendah hati melahirkan simpati alami dari dan di dalam hati sesama manusia, akibat pengaruh kejiwaan yang dipenuhi spiritual yang tinggi. Maka tanpa menginginkan kehormatan diri, orang lain akan dengan sendirinya menghormati.
- Kecintaan: Rendah hati secara alami pula akan melahirkan bobot kecintaan orang-orang di sekitar sebagai efek dari mencintai sesama, maka akan memetik buah cinta (kecintaan) dari sesama.
- Keikhlasan: Rendah hati juga membuka pintu keikhlasan diri, tanpa mencari pujian manusia. Dia merunduk hanya menuju pencarian rida Sang Maha Suci.
Semoga Allah Swt, memberi anugerah kepada kita sehingga mampu menjalani kehidupan sebagaimana Surat Ali Imran: 26
“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












