Feature

Matematika Rezeki: Menggali Rahasia Kehendak Allah

55
×

Matematika Rezeki: Menggali Rahasia Kehendak Allah

Sebarkan artikel ini
Ridwan Ma’ruf

Islam mengajarkan bahwa rezeki bukan sekadar angka, tetapi buah dari keimanan, amal kebaikan, dan ketundukan pada kehendak Allah yang Maha Mengetahui.

Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah(PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.

Tagar.co – Matematika rezeki adalah ungkapan populer dalam konteks spiritual Islam, yang didasarkan pada keyakinan bahwa cara Allah Swt. mengelola rezeki berbeda dengan perhitungan matematis manusia.

Konsep ini menekankan bahwa rezeki adalah misteri yang berada sepenuhnya di bawah kehendak Allah. Rezeki telah dijamin oleh Allah dan menjadi bagian dari takdir yang telah ditetapkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ankabut 62:

ٱللَّهُ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ وَيَقْدِرُ لَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Baca juga: Menemukan Jalan Keselamatan melalui Empat Anugerah Allah

Baca Juga:  Krisis BBM dan Seruan WFH Menurut Kaidah Fikih 

Allah memberikan rezeki—baik luas maupun sempit—kepada hamba-Nya dengan hikmah yang agung. Karena itu, ada manusia yang hidup kaya, sederhana, dan ada pula yang hidup miskin. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Allah berfirman dalam Surah An-Najm ayat 48:

وَاَنَّهٗ هُوَ اَغْنٰى وَاَقْنٰى

“Dan sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan.”

Hal itu merupakan kebijaksanaan Allah dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya.

Matematika Rezeki Terletak pada Amalan Sedekah

Logika Ilahi berbeda dengan logika manusia. Matematika manusia bekerja dengan pengurangan, sedangkan “matematika Allah” bekerja dengan pelipatgandaan yang tak terhingga dalam urusan rezeki bagi hamba-Nya.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah 261:

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍۢ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”

Baca Juga:  Wacana Dana Zakat untuk MBG dalam Sorotan Syariah

Jika seseorang ingin hartanya bertambah, maka perbanyaklah bersedekah di jalan Allah dengan niat ikhlas mengharap pahala. Nabi Saw. bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidak mengurangi harta.” (Muslim)

Berkurangnya harta karena sedekah justru akan diganti oleh Allah dengan pahala, serta dilipatgandakan pada harta yang telah dikeluarkannya.

Kemiskinan Bukan Alasan

Sedekah tidak harus dengan harta. Rezeki juga tidak selalu berupa keberlimpahan materi. Rezeki bisa berupa kesehatan, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh. Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 134:

لَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.”

Orang beriman, ketika lapang, memperbanyak sedekah; ketika sempit, mereka tetap tidak meremehkan kebaikan walau hanya sedikit. Nabi Saw. bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (Tirmizi, hasan)

Senyum bahkan dapat mengubah suasana hati dari sedih menjadi bahagia.

=Seseorang tidak perlu khawatir berlebihan tentang urusan rezekinya. Prinsipnya adalah menjalankan perintah agama dengan ketauhidan, serta meyakini bahwa jaminan rezeki dari Allah adalah pasti dan tidak akan pernah tertukar. Wallāhua‘lamu (#)

Baca Juga:  Kajian Ahad Pagi PRM Sekapuk Kupas Lima Macam Rezeki

Penyunting Mohammad Nurfatoni