
Keselamatan manusia tidak hanya ditentukan oleh usaha lahiriah, tetapi oleh empat anugerah yang ditanamkan Allah dalam diri setiap insan. Empat hal ini, jika dirawat, menjadi kompas kehidupan yang tak pernah salah arah.
Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah(PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.
Tagar.co – Manusia adalah makhluk mulia yang diciptakan dalam kesempurnaan dan keseimbangan. Manusia memiliki potensi fisik, akal, dan spiritual yang utuh, serta mampu menyeimbangkan ketiganya untuk menjalankan tugasnya di bumi.
Kesempurnaan ini bukan berarti manusia tanpa kekurangan, melainkan memiliki kapasitas untuk terus berkembang melalui keseimbangan hubungan dengan Pencipta-Nya dan dengan sesama manusia.
Baca juga: Mengelola Kecemasan Masa Depan
Allah Ta’ala berfirman dalam surah At-Tin ayat 4:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Allah menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan kondisi fisik dan psikis terbaik. Diberi ilmu, kemampuan berpikir, komunikasi, kepemimpinan, dan kebijaksanaan, sehingga layak menjadi khalifah di muka bumi. Sebagaimana dikutip Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, dalam hadis mauquf:
أَرْبَعَةُ جَوَاهِرَ فِي جِسْمِ بَنِي آدَمَ يُزِيلُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ، أَمَّا الْجَوَاهِرُ فَالْعَقْلُ وَالدِّينُ وَالْحَيَاءُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ
“Ada empat kemuliaan dalam diri manusia yang bisa hilang karena empat hal. Kemuliaan itu adalah akal (ilmu), agama, sifat malu, dan amal salih.”
Artinya, Allah Taala memberikan empat kemuliaan agar manusia menemukan jalan keselamatan di dunia dan akhirat, yaitu:
1. Akal (Ilmu)
Akal adalah alat untuk memahami dan membedakan perintah dan larangan Allah Taala. Nabi Saw. bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memahamkan agama kepadanya.” (Bukhari dan Muslim)
Dengan akal, seseorang mampu berpikir, merenung, dan membedakan yang baik dari yang buruk.
2. Agama (Islam)
Agama adalah sistem pedoman hidup yang memberi makna, tujuan, dan panduan moral bagi pemeluknya. Allah berfirman dalam Ali Imran 19:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ …
“Sesungguhnya agama yang dirida di sisi Allah hanyalah Islam…”
Maksudnya, Islam adalah ajaran para rasul yang mencakup dakwah dan amalan sesuai zamannya.
3. Sifat Malu
Sifat malu adalah akhlak terpuji yang mendorong seseorang menjaga martabat diri dan menjauhi perbuatan yang merugikan orang lain. Nabi Saw. bersabda:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Malu tidak mendatangkan sesuatu selain kebaikan.” (Muttafaq ‘alaih)
Malu mengajak pemiliknya untuk menghiasi diri dengan akhlak yang indah.
4. Amal Salih
Amal salih adalah perbuatan baik yang bernilai ibadah, sesuai tuntunan, dan dilakukan dengan ikhlas karena Allah. Firman-Nya dalam An-Nahl 97:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا … فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barangsiapa mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.”
Kehidupan yang baik bermakna rida, kana’ah, dan rezeki yang halal.
Kesimpulan
Dengan merawat empat hal tersebut—akal, agama, sifat malu, dan amal salih—seseorang akan lebih mampu berinteraksi sosial, membentuk kearifan batin, serta memiliki ketangguhan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Wallaahualambisawab. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












