
Catatan oleh Ahmadie Thaha; Kolumnis
Tagar.co – Bayangkan seorang presiden Amerika Serikat berjenggot lebat—bukan jenggot Instagramable ala hipster yang dipelihara demi gaya, tetapi jenggot yang menggambarkan keseriusan moral sekaligus misteri takdir sejarah.
Itulah James A. Garfield, presiden ke-20 Amerika, yang naik ke tampuk kuasa dengan janji progresif dan idealisme yang jarang ditemukan pada politisi zaman kapan pun. Ia tampil menjadi harapan reformasi yang mulai terbit di Amerika.
Baca juga: Film Conclave: Ketika Politik Masuk Surga di Kapel Sistina
Namun, kariernya berakhir lebih cepat dari episode drama Netflix yang kini menghidupkan kembali kisah hidup dan kematiannya melalui serial Death by Lightning.
Judul serial yang terdengar seperti film bencana alam ini justru mengisahkan bencana yang jauh lebih manusiawi: bencana politik, birokrasi, dan kedokteran. Bukan petir yang menyambar, tetapi sistem yang menggeletar.
Judul itu bukan metafora kosong. Koran-koran Amerika pada 1881 menyebut serangan Charles J. Guiteau sebagai tindakan “a sudden flash of madness — like lightning.” Tidak ada Zeus, tidak ada langit murka. Hanya seorang manusia dengan ambisi bercampur delusi, yang merasa Tuhan sendiri mengutusnya menyelamatkan republik.
Guiteau bukan pembunuh profesional, bukan pula bagian dari konspirasi besar. Ia seorang penganggur yang menginginkan jabatan, merasa dirinya protagonis dunia, dan menjadikan pistol sebagai tiket pendek menuju ketenaran. Serangannya seperti kilat: tiba-tiba, absurd, dan membingungkan semua orang.
Garfield bukan mati oleh konspirasi negara, tetapi oleh kegilaan kecil yang menyambar tanpa permisi. Bahkan ia tidak seketika tumbang. Peluru itu bukan penyebab langsung kematiannya. Yang membunuhnya justru malapraktik para dokter yang masih menolak teori kuman yang sedang berkembang waktu itu. Ego medis lebih mematikan daripada tembakan.
Riwayat James A. Garfield
Serial itu membawa kita mundur ke masa ketika Garfield lahir di kabin kayu pada 1831—bukan di hotel mewah. Ayahnya wafat saat ia masih bayi, dan ibunya, Eliza, membesarkan lima anak dengan ketabahan yang membuat pekerjaan rumah tangga tampak sebagai olahraga ekstrem.
Garfield bekerja di kanal sebagai awak kapal, membaca buku tanpa henti, mendidik dirinya sendiri hingga menjadi pengacara, pendeta, presiden Hiram College, mayor jenderal Union, anggota Kongres, dan akhirnya presiden.
Kalau Garfield punya LinkedIn hari ini, riwayatnya pasti sepanjang jalan tol Cikampek. Ia dikenal sebagai pemimpin yang justru tidak mendambakan jabatan. Di tengah politik patronase, ia menolak ikut pesta rakus kekuasaan.
Di Kongres, ia memukau kawan maupun lawan: fasih Latin, hafal Aeneid, bahkan menulis bukti teorema Pythagoras versinya sendiri. Ia mendukung hak pilih warga Afrika-Amerika dan menolak patronase korup yang menjadi wabah politik masa itu.
Komedi Gelap Sejarah Manusia
Di film itu pula ia digambarkan berani menantang tokoh besar seperti Roscoe Conkling—raja mesin politik Partai Republik—yang kelimpungan karena Garfield tidak mau tunduk pada aturan gelap partai.
Namun serial ini bukan sekadar ode terhadap kejeniusannya. Ini juga komedi gelap sejarah manusia. Pada 2 Juli 1881, Garfield ditembak oleh Charles Guiteau: pengemis jabatan dengan delusi lebih tebal daripada ego influencer zaman sekarang.
Ironisnya, peluru itu seharusnya tidak fatal. Tetapi dokter bernama Dr. Doctor Willard Bliss (ya, namanya memang Doctor Doctor) memutuskan untuk menjadi lebih berbahaya daripada penyakit.
Ia merogoh luka dengan tangan kotor, mengabaikan pengobatan antiseptik, dan mengundang Alexander Graham Bell dengan detektor logam yang gagal mendeteksi lokasi peluru karena ranjang Garfield terbuat dari logam.
Selama 79 hari Garfield menahan derita, kehilangan hampir 100 pon berat badan, dan menulis catatan “strangulatus pro republica” — tercekik demi republik — sebelum akhirnya meninggal akibat infeksi yang sepenuhnya dapat dicegah.
Maka judul Death by Lightning bukan sekadar sensasi visual. Ia menangkap absurditas tragedi Garfield: kilat yang bukan turun dari langit, tetapi dari sistem yang bobrok, ambisi yang tak terkendali, dan ilmu kedokteran yang belum siap menyelamatkan nyawa.
Sementara Guiteau menjerit menyebut dirinya pahlawan, Amerika kehilangan seorang pemimpin yang berpotensi menjadi ikon reformasi civil service dan kemajuan hak sipil. Inilah sejarah ketika negara besar pun luluh oleh kesombongan kecil.
Bagi kita di Indonesia, kisah ini bukan sekadar tontonan Netflix. Kita yang pernah belajar bahasa Inggris dari BBC World Service atau mengikuti berita internasional bisa merasakan kejutannya: bahkan pemimpin terbaik sekalipun bisa jatuh bukan oleh peluru, tetapi oleh struktur yang gagal dan manusia yang tersesat.
Kisah Garfield mengajarkan bahwa integritas tidak selalu cukup untuk melawan dunia yang absurd. Namun karakter, visi, dan keteguhan hati meninggalkan jejak panjang.
Tragedi yang merenggut kariernya bukan sekadar kisah duka. Ia justru menjadi cahaya yang membongkar kecacatan sistem, dan mengajak kita bertanya ulang siapa sebenarnya yang memegang senjata: pelaku atau zaman itu sendiri?
Maka tragedi ini bukan hanya tentang kematian seorang presiden. Ia adalah kilat sejarah yang menyinari pelajaran bagi masa depan: bahwa potensi yang terhenti bukan berarti sia-sia. Ia justru memaksa kita merenungi bagaimana sejarah bekerja dalam keheningan.
Selamat menonton Death by Lightning, dan siapkan diri untuk tersenyum getir. Ternyata, kilat yang paling berbahaya tidak selalu datang dari langit—kadang ia lahir dari manusia itu sendiri. (#)
Ma’had Tadabbur Al-Qur’an, 30 November 2025






