Opini

Makan Bergizi Gratis: Benarkah Mendesak?

27
×

Makan Bergizi Gratis: Benarkah Mendesak?

Sebarkan artikel ini
Makan Bergizi Gratis (Foto antaranews.com)

Keinginan Presiden untuk memberikan makanan bergizi gratis patut dihargai, sebagai bentuk tanggung jawab kepala negara.

Namun, dengan populasi Indonesia sebesar 281,6 juta jiwa, luas wilayah 1.916.906 kilometer persegi, dan 17.000 pulau, program ini menjadi persoalan yang memerlukan pertimbangan matang.

Makan Bergizi Gratis: Benarkah Mendesak? Opini oleh dr. Mohamad Isa

Tagar.co – Dalam dunia kedokteran, kita mengenal istilah seperti gawat darurat, urgent, abnormal, dan normal. Masing-masing memiliki makna dan konsekuensi tersendiri. Seorang dokter harus memahami dan menghayati istilah-istilah ini, karena akan berdampak pada cara menangani pasien.

Gawat darurat medis adalah kondisi yang mengancam nyawa pasien secara langsung dan memerlukan tindakan medis secepatnya untuk mencegah kematian atau kecacatan permanen. Situasi ini menuntut respons segera dan umumnya ditangani di ruang gawat darurat rumah sakit. Contohnya adalah serangan jantung, trauma kepala berat, dan gagal napas akut.

Baca juga: Muhammadiyah di Mata Seorang Dokter: Amal atau Usaha?

Urgent berarti kondisi yang memerlukan perhatian medis segera, tetapi tidak secara langsung mengancam nyawa. Contohnya adalah trauma tertutup pada ekstremitas atau demam tinggi.

Baca Juga:  Silaturahmi Alumni FK ULM di Samarinda, Merajut Kembali Ikatan Guru dan Murid

Abnormal adalah kondisi yang tidak seperti biasanya. Misalnya, kadar Hb seorang laki-laki dewasa normal berada di rentang 13-17 gram/dL. Jika hasil pemeriksaannya menunjukkan Hb 8 gram/dL, maka itu disebut abnormal. Namun, kondisi ini bisa jadi tidak urgent atau darurat, tergantung pada penyebabnya.

MBG Termasuk Gawat Darurat?

Lalu, bagaimana dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)? Apakah termasuk gawat, urgent, abnormal, atau biasa saja (normal)?

Menurut hemat saya, program ini tidak termasuk gawat darurat, karena secara umum tidak mengancam nyawa. Kecuali, jika ada kasus perorangan yang tergolong darurat karena kondisi penyakit tertentu atau keadaan darurat lainnya.

Apakah termasuk urgent? Untuk menentukannya, kita perlu melihat seberapa banyak anak dan ibu hamil yang mengalami gizi buruk. Jika data menunjukkan angka gizi buruk tidak signifikan, maka program ini tidak bisa dikategorikan urgent, artinya tidak harus segera diatasi.

Jika tidak urgent, maka program ini termasuk kondisi biasa saja dan tidak memerlukan intervensi yang segera.

Program MBG ini bisa dikategorikan normal dan dapat dimasukkan dalam skala prioritas. Namun, apakah masuk prioritas utama, sedang, atau ringan? Penggolongan ini harus dikaitkan dengan kemampuan finansial dan operasional.

Baca Juga:  Zakat untuk Program MBG? Ini Penjelasan Amil Lazismu

Keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan makanan bergizi gratis patut dihargai, sebagai bentuk tanggung jawab kepala negara.

Namun, dengan populasi Indonesia sebesar 281,6 juta jiwa, luas wilayah 1.916.906 kilometer persegi, dan 17.000 pulau, program ini menjadi persoalan yang memerlukan pertimbangan matang. Apa sasaran dan targetnya? Jika tidak tepat, maka perlu dievaluasi, bahkan ditinjau ulang.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa anggaran MBG bisa mencapai Rp420 triliun jika berjalan secara penuh dalam setahun. Oleh karena itu, telaah akademis oleh tenaga ahli yang independen sangat diperlukan.

Bukan Satu-satunya Penentu

Untuk menuju Indonesia Emas, faktor gizi bukan satu-satunya penentu. Faktor karakter bangsa juga sangat penting. Berikut beberapa karakter yang perlu ditanamkan:

  • “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” Karakter ini mengajarkan bahwa memberi lebih baik daripada menerima. Kebiasaan menerima yang gratis berpotensi melemahkan etos kerja orang tua dalam mencari nafkah untuk keluarga dan sesama.
  • “Memberi kail lebih baik daripada memberi ikan.” Artinya, dengan memiliki alat dan keterampilan, seseorang bisa mendapatkan berbagai jenis ikan tanpa bergantung pada orang lain (mandiri).
  • Solidaritas antar anggota keluarga. Kebutuhan gizi dalam keluarga tidak harus selalu terpenuhi setiap saat. Terkadang, suasana prihatin dan kreatif dalam kekurangan justru dapat memperkuat solidaritas keluarga.
Baca Juga:  Tenggarong yang Tenang: Menyusuri Jejak Sejarah dan Wajah Kota di Tepian Mahakam

Saran

  1. Perlu evaluasi pelaksanaan MBG dengan mempertimbangkan segmentasi pada anak, ibu hamil, dan orang tua yang betul-betul memerlukan.
  2. Jangan sampai mengganggu pembiayaan lain, khususnya yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
  3. Jangan jadikan program ini sebagai arena pencitraan politik untuk komoditas elektabilitas seseorang atau partai.
  4. Dana MBG harus berasal dari sumber yang halal, bukan dari utang, agar makanan yang masuk ke tubuh menjadi berkah.

Banjarmasin, 24 Januari 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni