Opini

Ketika Remaja Berada di Hutan Belantara Bernama Fomo

41
×

Ketika Remaja Berada di Hutan Belantara Bernama Fomo

Sebarkan artikel ini
Ketika Remaja Berada di Hutan Belantara Bernama Fomo
Ilustrasi opini Ketika Remaja Berada di Hutan Belantara Bernama Fomo (Al)

Fomo adalah rasa takut tertinggal atau tidak mengikuti tren yang sedang dilakukan, dimiliki, atau diketahui oleh sebagian besar remaja.

Oleh Achmad Indra Baskoro, S.Psi.; guru Bimbingan Konseling (BK) SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik

Tagar.co – Fear of Missing Out (Fomo) merupakan istilah yang sering digunakan di kalangan remaja saat ini. Fomo adalah rasa takut tertinggal atau tidak mengikuti tren yang sedang dilakukan, dimiliki, atau diketahui oleh sebagian besar remaja.

Mulai dari tren fesyen, gaya rambut, sepatu, hingga aktivitas atau kunjungan ke tempat yang sedang viral. Fomo bukan sekadar rasa penasaran, melainkan dorongan untuk memenuhi kebutuhan eksistensi—seolah-olah remaja harus mengetahui atau mengikuti apa yang dilakukan oleh orang lain.

Sering kali, kondisi ini membuat remaja cenderung mengejar atau melakukan sesuatu hanya berdasarkan tren, dengan mengabaikan sisi urgensi atau manfaatnya.

Sebagai contoh, momen pergantian tahun bagi sebagian remaja dianggap sebagai peristiwa yang tidak boleh dilewatkan. Mereka enggan menjalani malam seperti biasanya—misalnya tidur pukul 21.00 atau 22.00 WIB.

Baca Juga:  Iftar Gathering: Siswa Spemdalas Kuatkan Ukhuah dan Lokomotif Kebaikan

Sebagian remaja bahkan dapat merasa sangat menyesal dan terbebani pikirannya selama beberapa hari apabila tertidur saat malam tahun baru atau tidak dapat keluar rumah, misalnya karena sakit.

Kondisi ini semakin diperparah ketika teman-teman mereka mengunggah kegiatan tahun baru di media sosial, sementara mereka tidak memiliki konten untuk dibagikan. Belum lagi saat bertemu dan saling bertukar cerita, perasaan tertinggal bisa semakin kuat.

Secara perlahan, kondisi ini dapat mengubah cara pandang seseorang dalam menentukan aktivitas. Ukurannya bukan lagi apakah hal tersebut penting atau membawa kebaikan, melainkan apakah sedang tren dan dapat dijadikan konten untuk dipamerkan di media sosial. Muncul kebutuhan untuk dilihat, diakui, dan dinilai mengikuti tren yang ada.

Mengubah sudut pandang ini tentu tidak mudah, karena masa remaja merupakan fase pencarian jati diri, termasuk mencari figur yang dianggap keren untuk dijadikan panutan.

Media sosial menjadi sarana paling mudah untuk menemukan figur tersebut, meskipun standar yang digunakan sering kali subjektif—seperti jumlah pengikut, kemunculan di FYP, atau penampilan fisik yang dianggap menarik.

Baca Juga:  Kuas, Tinta, dan Karakter: Siswa ICP Spemdalas Belajar Budaya Mandarin lewat Shufa

Selain itu, tekanan dari lingkungan juga berpengaruh besar. Ketakutan akan mendapat label “cupu” atau “kudet” membuat remaja terdorong mengikuti tren, yang sering kali disertai dengan kebiasaan mendokumentasikan dan mengunggahnya di media sosial sebagai bukti bahwa mereka tidak tertinggal.

Lalu, bagaimana cara mengubah pola pikir Fomo ini? Remaja dapat memulai dengan melakukan self-talk atau refleksi diri.

Setelah sekian waktu mengikuti tren dan memperoleh sejumlah like di media sosial, coba tanyakan pada diri sendiri: keterampilan apa yang berkembang? Apakah ada dampak positif bagi masa depan, misalnya dalam karier akademik atau peluang masuk perguruan tinggi melalui jalur prestasi?

Bandingkan dengan penggunaan waktu luang untuk hal yang lebih produktif, seperti berlatih bela diri, bermain basket tiga hingga empat kali seminggu, atau mengikuti kursus drum maupun gitar.

Seiring waktu, kegiatan tersebut dapat membuka peluang nyata, seperti mengikuti kompetisi atau tampil dalam pentas seni.

Pada akhirnya, mana yang lebih bermakna: tepuk tangan atas kemampuan nyata, atau sekadar jumlah like karena mengikuti tren? (#)

Baca Juga:  Kegagalan Adalah Sesuatu yang Normal

Penyunting Ichwan Arif.