
Pelajaran penting dari konflik AS-Iran bagi dunia pendidikan adalah belajar meningkatkan kemampuan diplomasi bagi siswa. Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan berdialog, memahami kepentingan pihak lain, dan mencari titik temu adalah keterampilan dasar yang justru semakin dibutuhkan di era sekarang.
Oleh Prof. Dr. Khoirul Anwar, M.Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik.
Tagar.co – Konflik AS-Iran masih mendominasi media sosial dan layar televisi. Berbagai komentar, analisis, dukungan, kecaman silih berganti mencoba untuk memberikan versi masing-masing untuk menjadi konsumsi publik.
Namun di balik konflik tersebut sebenarnya memberikan pelajaran yang mungkin sering kita abaikan yakni sekuat apa pun tekanan militer, pada akhirnya dunia tetap mencari jalan diplomasi.
Perpanjangan gencatan senjata pada April 2026, serta keterlibatan mediator seperti Oman dan Pakistan, menjadi bukti bahwa bahkan dalam situasi paling tegang sekalipun, ruang dialog tidak pernah benar-benar hilang.
Dari situ, saya melihat satu pelajaran penting bagi dunia pendidikan kita. Selama ini, diplomasi seolah hanya milik para diplomat dan elite negara. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan berdialog, memahami kepentingan pihak lain, dan mencari titik temu adalah keterampilan dasar yang justru semakin dibutuhkan di era sekarang.
Sayangnya, pendidikan kita masih terlalu sering berhenti pada hafalan dan reaksi cepat. Nasionalisme diajarkan sebagai semangat, tetapi belum sepenuhnya sebagai kemampuan berpikir.
Siswa didorong untuk mencintai bangsa, tetapi tidak cukup dilatih untuk memahami kompleksitas dunia. Akibatnya, mereka mudah terseret pada sikap emosional, tetapi belum tentu siap menghadapi perbedaan secara dewasa.
Karena itu, saya meyakini bahwa ruang kelas perlu mengalami transformasi pendekatan pembelajaran. Tidak cukup hanya mengajarkan teori konflik atau hubungan internasional secara konseptual, tetapi juga perlu menghadirkan pengalaman belajar yang mampu melatih cara berpikir diplomatis.
Dalam perspektif Experiential Learning Theory (ELT) yang dikembangkan oleh David A. Kolb (2015), pengetahuan dibangun melalui pengalaman langsung yang kemudian direfleksikan untuk membentuk pemahaman yang lebih mendalam.
Salah satu implementasi konkret dari pendekatan ini adalah melalui simulasi perundingan, di mana siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga aktor yang terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Selain itu, pendekatan ini juga sejalan dengan teori social constructivism dari Lev Vygotsky (1896-1934) seorang psikolog yang menekankan bahwa pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial dan dialog.
Dalam simulasi tersebut, siswa belajar memainkan peran, memahami posisi pihak lain, serta merumuskan solusi bersama melalui proses negosiasi.
Menurutnya, pembelajaran tidak hanya menghasilkan pemahaman kognitif, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial, empati, dan kemampuan berpikir kritis yang menjadi inti dari kompetensi diplomasi.
Di ruang seperti itu, siswa tidak hanya belajar “siapa benar dan siapa salah”, tetapi belajar bahwa dalam banyak situasi, yang lebih penting adalah “bagaimana menemukan jalan keluar”.
Mereka belajar bahwa perbedaan tidak selalu harus berakhir pada pertentangan, tetapi bisa dikelola melalui komunikasi yang rasional dan terbuka.
Gagasan ini tidak mudah diterapkan, mengingat bahwa di lapangan kurikulum yang padat, keterbatasan waktu, dan kesiapan guru menjadi tantangan nyata. Namun, perubahan tidak selalu harus besar.
Memberi ruang diskusi yang lebih hidup, membiasakan siswa melihat masalah dari berbagai sudut pandang, atau melatih mereka menyusun argumen yang berbasis data, sudah menjadi langkah awal yang berarti.
Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya bertugas mencetak siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga warga yang matang secara sosial dan politik.
Dunia hari ini tidak kekurangan orang yang mampu berdebat, tetapi kekurangan orang yang mampu menyelesaikan perbedaan.
Jika ruang kelas mampu menjawab tantangan itu, maka pendidikan kita tidak hanya relevan dengan zaman, tetapi juga berkontribusi pada masa depan yang lebih damai.
Di tengah dunia yang semakin mudah tersulut konflik, mungkin sudah saatnya kita belajar bahwa kemampuan berunding adalah bagian dari kecerdasan dan itu seharusnya dimulai dari ruang kelas. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












