
Di kota yang tumbuh dari sejarah panjang Kutai, perjalanan berubah menjadi perenungan. Tenggarong menghadirkan ketenangan, tata kota yang rapi, serta layanan publik yang kian matang—sebuah potret daerah yang bergerak maju tanpa kehilangan akar.
Oleh dr. Mohamad Isa
Tagar.co – Ada kota-kota yang tidak sekadar dikunjungi, tetapi juga dirasakan. Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur, adalah salah satunya. Kota ini menyambut dengan tenang—tidak riuh, tidak tergesa—seakan memberi ruang bagi siapa pun yang datang untuk menata napas dan menyusun ulang ingatan.
Kabupaten Kutai Kartanegara membentang sangat luas, mencapai 27.263,10 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk sekitar 806.964 jiwa per 31 Desember 2024. Kepadatan penduduknya hanya sekitar 30 jiwa per kilometer persegi.
Baca juga: Silaturahmi 670 Kilometer: Menyusuri Kalimantan dari Banjarmasin ke IKN hingga Tenggarong
Angka ini kontras bila dibandingkan dengan Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang luasnya 714,24 kilometer persegi dengan penduduk lebih dari dua juta jiwa dan kepadatan mencapai 2.800 jiwa per kilometer persegi. Di Kutai Kartanegara, ruang masih lapang; alam dan manusia berbagi jarak yang wajar.
Secara demografis, mayoritas penduduk memeluk Islam (92,23 persen), disusul Kristen (5,44 persen), Katolik (1,96 persen), Hindu (0,33 persen), Buddha (0,03 persen), dan kepercayaan lainnya.
Harmoni sosial terasa sebagai keseharian, bukan sekadar slogan. Saat ini, Kutai Kartanegara dipimpin oleh Bupati dr. Aulia Rahman Basri, M.Kes., putra daerah kelahiran Kota Bangun, 23 Agustus 1985.
Saya berada di Tenggarong selama beberapa hari—menengok anak dan cucu yang menetap di kota ini. Namun, perjalanan keluarga itu perlahan berubah menjadi perjalanan batin, menyusuri jejak sejarah, tata kota, dan denyut layanan publik yang hidup.

Jejak Panjang Sejarah Kutai
Kutai adalah nama tua yang sarat makna. Sejarahnya berlapis, berawal dari Kerajaan Hindu tertua di Nusantara, Kerajaan Martapura, dengan Raja Mulawarman sebagai salah satu penguasa yang termasyhur. Waktu bergerak, keyakinan berganti.
Pada abad ke-17, Kutai bertransformasi menjadi kerajaan Islam dengan nama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, beribu kota di Tenggarong.
Pernah pula Kutai menyandang status Daerah Istimewa (1953–1960), dipimpin Sultan Kutai ke-19, Aji Muhammad Parikesit. Status itu berakhir pada 1959, dan secara resmi, pada 21 Januari 1960, kekuasaan diserahkan kepada Aji Raden Padmo sebagai Bupati Kutai.
Sejarah kemudian mencatat babak baru. Pada 1999, wilayah Kutai dimekarkan menjadi empat daerah otonom berdasarkan Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999, yakni Kabupaten Kutai dengan ibu kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Barat dengan ibu kota Sendawar, Kabupaten Kutai Timur dengan ibu kota Sangatta, serta Kota Bontang dengan ibu kota Bontang.
Untuk membedakan Kabupaten Kutai sebagai daerah induk hasil pemekaran, pada 2002 pemerintah menetapkan perubahan nama menjadi Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2002.

Tenggarong Hari Ini: Kota yang Tertata
Tenggarong didirikan pada 28 September 1782 oleh Raja Kutai Kartanegara Ke-15, Aji Muhammad Muslihuddin, atau Aji Imbut. Kini, kota ini terbagi atas 12 kelurahan dan dua desa, dengan luas 398,10 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 114.039 jiwa (2023).
Yang segera terasa adalah tata kota yang rapi dan bersih. Jalan protokol hingga jalan kampung telah beraspal atau bercor beton, trotoar kokoh, drainase berfungsi baik, dan pengelolaan sampah tampak teratur. Pemberdayaan UMKM dijalankan secara nyata—pasar malam dan kegiatan ekonomi rakyat difasilitasi dengan tenda seragam yang rapi, menciptakan keteraturan tanpa menghilangkan denyut kerakyatan.
Tepian Sungai Mahakam ditata dengan siring yang kuat, taman-taman tematik yang visioner, serta kawasan wisata seperti Pulau Kumala yang menjadi ruang rekreasi keluarga.
Di sudut-sudut kota, sejarah berdiri berdampingan dengan masa kini: Museum Mulawarman dan Kedaton Kutai Kartanegara tampil megah, sementara Masjid Agung Sultan Sulaiman dan Masjid Jami Adjie Amir Hasanoeddin memperkaya lanskap spiritual kota.
Menjelang malam, Jembatan Kutai Kartanegara membentang gagah di atas Mahakam. Lampu-lampu yang berkilau memantul di permukaan air, menghadirkan pemandangan yang nyaris kontemplatif—sebuah jeda yang mengajak diam sejenak.

Singgah di RSUD A.M. Parikesit
Perjalanan ini juga membawa saya berkunjung ke RSUD A.M. Parikesit, rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara yang berdiri di atas lahan 19,21 hektare dengan kapasitas 382 tempat tidur. RS tipe B pendidikan ini tampak megah, tertata, dan lengkap—baik dari sisi bangunan, peralatan, maupun sumber daya manusia.
Saya diterima dengan hangat oleh Wakil Direktur Penunjang, dr. Mauritz Silalahi, MARS, Sp.P(K), didampingi dr. Reny Tri Wahyuni, M.Adm.Kes., serta bersilaturahmi dengan Direktur RSUD, Dr. dr. Martina Yulianti, Sp.PD, FINASIM, MARS.
Saat itu bertepatan dengan peresmian Gedung Pusat Onkologi yang dilengkapi fasilitas radioterapi serta ruang eksekutif rawat jalan dan rawat inap—sebuah lompatan penting bagi layanan kesehatan di kawasan ini.
Secara personal, RSUD A.M. Parikesit juga menjadi ruang pengabdian putra saya, dr. Mustaqim AR, Sp.BS, M.Med.Klin., yang sejak 2023 bertugas sebagai dokter bedah saraf. Didukung fasilitas seperti MRI 1,5 tesla dan peralatan mutakhir lainnya, rumah sakit ini menangani berbagai kasus bedah saraf dengan tingkat profesionalisme yang membanggakan.
Saat ini, ia tengah mengikuti program fellowship bedah saraf di FK Undip Semarang—sebuah ikhtiar memperkuat kompetensi untuk kembali mengabdi.
Tentang Waktu dan Jejak
Setiap masa memiliki pemimpinnya. Setiap pemimpin memiliki masanya. Tak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan.
Yang diharapkan dari setiap kepemimpinan adalah legacy—jejak kebaikan yang dapat diwariskan dan diamalkan oleh generasi berikutnya. Tenggarong dan Kutai Kartanegara hari ini tampak bergerak ke arah itu: membangun, menata, dan melayani dengan kesadaran akan sejarah sekaligus tanggung jawab pada masa depan.
Di kota yang tenang ini, saya belajar bahwa perjalanan tidak selalu tentang jarak. Kadang, ia adalah tentang melihat dengan lebih jernih—bagaimana sebuah daerah tumbuh, dan bagaimana waktu meninggalkan tanda-tandanya.
Tenggarong, 17 Januari 2026
Penyunting Mohammad Nurfatoni












