Rileks

Silaturahmi 670 Kilometer: Menyusuri Kalimantan dari Banjarmasin ke IKN hingga Tenggarong

368
×

Silaturahmi 670 Kilometer: Menyusuri Kalimantan dari Banjarmasin ke IKN hingga Tenggarong

Sebarkan artikel ini
Perjalanan darat 20 jam ini bukan sekadar soal jarak. Dari rumah sakit ke rumah sakit, dari hutan ke ibu kota masa depan, dari alumni ke keluarga—sebuah kisah tentang silaturahmi, tadabur alam, dan harapan untuk Indonesia.
Penulis bersama istri di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN)

Perjalanan darat 20 jam ini bukan sekadar soal jarak. Dari rumah sakit ke rumah sakit, dari hutan ke ibu kota masa depan, dari alumni ke keluarga—sebuah kisah tentang silaturahmi, tadabur alam, dan harapan untuk Indonesia.

Oleh dr. Mohamad Isa; Dosen FK Universitas Lambung Mangkurat (ULM)

Tagar.co – Pukul 04.30 Wita, 8 Januari 2026, langit Banjarmasin masih gelap ketika perjalanan panjang ini dimulai. Dengan semangat silaturahmi dan rasa ingin menikmati setiap jengkal tanah Kalimantan, kami memilih jalur darat menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) hingga Tenggarong.

Pilihan perjalanan darat bukan sekadar soal jarak, tetapi tentang pengalaman: menyapa alam, menyusuri kehidupan, dan menjalin kembali ikatan persaudaraan dengan para alumni Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (FK ULM) yang tersebar di sepanjang rute.

Baca juga: Silaturahmi, Resep Sehat dan Bahagia

Kami menggunakan jasa rental mobil dengan kendaraan Innova Reborn, tarif Rp3.000.000 sekali jalan, termasuk pengemudi, bahan bakar, serta tol Balikpapan–Samarinda. Medan yang panjang dan beragam benar-benar menuntut pengemudi yang berpengalaman dan mengenal medan.

Perjalanan darat 20 jam ini bukan sekadar soal jarak. Dari rumah sakit ke rumah sakit, dari hutan ke ibu kota masa depan, dari alumni ke keluarga—sebuah kisah tentang silaturahmi, tadabur alam, dan harapan untuk Indonesia.
Bersama sejawat di RS Datu Sanggul Rantau

Silahturahmi di RS Datu Sanggul Rantau

Subuh pertama kami singgahi di Masjid Hidayatullah Kompi Senapan A, Batalyon Infanteri 623/BWU Km 22. Masjid yang besar, bersih, dan nyaman menjadi tempat menyelaraskan langkah sebelum melanjutkan perjalanan.

Melewati Martapura–Binuang sejauh 110 km, kami tiba di RS Datu Sanggul, Rantau pukul 08.00. Rumah sakit baru di Jalan Hasan Basri via jalan bypass itu tampil luas, bersih, dan modern—sebuah lompatan dari bangunan lama.

Baca Juga:  Selamat Tahun Baru 2026: Belajar dari Kegagalan, Bersiap untuk Bertumbuh

Di sini kami bersilaturahmi dengan para alumni FK ULM:
dr. Muhammad Ajib Nuzila, SpP; dr. Aprilia Tanjung, SpP; dr. Rini W., MM; dr. Ahmad Murdillah, SpRad.

Setelah meninjau beberapa layanan, kami dijamu sarapan khas Banjar: ketupat kandangan dan nasi kuning di rumah makan depan RS lama. Kebahagiaan bertambah ketika di tempat yang sama kami bersilaturahmi dengan Wakil Bupati Rantau, H. Juanda.

Perjalanan darat 20 jam ini bukan sekadar soal jarak. Dari rumah sakit ke rumah sakit, dari hutan ke ibu kota masa depan, dari alumni ke keluarga—sebuah kisah tentang silaturahmi, tadabur alam, dan harapan untuk Indonesia.
Bersama sejawat di RS Datu Kandang Haji

Silahturahmi di RS Datu Kandang Haji Balangan

Perjalanan berlanjut melalui Kandangan dan Barabai. Tepat pukul 11.00 kami tiba di RS Datu Kandang Haji, Paringin, Kabupaten Balangan—85 km dari Rantau. Rumah sakit baru yang luas dan megah ini menjadi simbol keseriusan daerah dalam membangun layanan kesehatan.

Kami disambut para alumni dan sejawat: dr. Widya, SpP; dr. Ahmad Nurdani, SpPD; dr. Reynold Rahman, SpOrt; dr. Eko.

Bersama sejawat di RS Badaruddin Tanjung

Silahturahmi di RS Badaruddin Tanjung

Rumah sakit berikutnya: RS Badaruddin Tanjung, kini berdiri megah di Jalan Tanjung Baru, Desa Maburai, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong, dekat Islamic Center Tanjung.

Di sini kami bertemu dr. Herry Ilmiawan, SpP, alumni PPDS Paru FK ULM yang baru menyelesaikan pendidikan dan mulai mengabdi, serta dr. Wahyu.

Baca Juga:  Tupoksi Pemimpin dalam Kereta Cepat Whoosh

Terasa betul semangat daerah-daerah ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui infrastruktur yang baik dan tenaga profesional.

Perjalanan darat 20 jam ini bukan sekadar soal jarak. Dari rumah sakit ke rumah sakit, dari hutan ke ibu kota masa depan, dari alumni ke keluarga—sebuah kisah tentang silaturahmi, tadabur alam, dan harapan untuk Indonesia.
Penulis bersama istri di kawasan di perbatasan Kalsel–Kaltim

Menuju Perbatasan Kalsel–Kaltim

Dari Tanjung menuju perbatasan Kalimantan Selatan–Kalimantan Timur sejauh 65 km ditempuh sekitar 1,5 jam. Gapura perbatasan berdiri megah, lengkap dengan kantin, toilet, musala, dan taman. Tempat singgah yang ramah, cocok untuk beristirahat dan berfoto dengan latar hutan lebat.

Kami menikmati durian, rambutan, duku, pentol, dan nasi sop. Harga durian saat itu: empat buah Rp50.000—rezeki perjalanan yang manis.

Menuju Simpang Tiga Silkar

Jalan mulus, menanjak dan berkelok sepanjang 172 km, menyuguhkan panorama yang memanjakan mata. Kami singgah di Air Terjun Gunung Rambutan, menikmati air pegunungan yang segar dan dingin.

Setiap kecamatan yang dilewati tampak hidup oleh aktivitas perdagangan dan ragam kuliner. Hingga akhirnya kami tiba di Simpang Tiga Silkar, wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pukul 18.30, setelah lima jam perjalanan.

Simpang ini memisahkan arah menuju Balikpapan via ferry Penajam atau ke jalur darat menuju IKN–Sepaku–Semboja–Samarinda–Tenggarong.

Perjalanan darat 20 jam ini bukan sekadar soal jarak. Dari rumah sakit ke rumah sakit, dari hutan ke ibu kota masa depan, dari alumni ke keluarga—sebuah kisah tentang silaturahmi, tadabur alam, dan harapan untuk Indonesia.
Penulis di Ibu Kota Nusantara (IKN)

Menuju IKN

Dari Silkar menuju IKN sejauh 55 km, ditempuh sekitar dua jam. Jalan lebar, mulus, menanjak, dan berkelok—namun gelap karena malam.

Ketika cahaya lampu mulai tampak, IKN menyambut dengan bangunan baru dan megah, jalan-jalan lebar, serta tata kota yang menjanjikan masa depan, meski suasana masih relatif sepi. Di kawasan Sepaku mulai tumbuh bangunan-bangunan baru. Kami makan malam di rumah makan Padang.

Baca Juga:  Save Sumatra!

IKN menghadirkan dampak positif dan negatif. Harapannya, dampak positiflah yang kelak lebih dominan.

IKN–Semboja–Tenggarong

Perjalanan berlanjut menuju Tol Semboja km 38, sejauh 54 km, dua jam perjalanan dengan lalu lintas truk material pembangunan yang padat.

Masuk Tol Balikpapan–Samarinda (BalSem) melalui pintu km 38 Semboja menuju Pelaran ditempuh 39 menit. Dari Pelaran ke Tenggarong dua jam lagi. Kami tiba di kediaman putra kami di Loh Ipoh pukul 00.30.

Di sanalah perjalanan ini berujung: bertemu putra dan menantu kami dr. Mustaqim, SpBS dan dr. Bella Salsabella (Alumni FK ULM), serta cucu tercinta Luqman. Putra kami kini mengabdi di RS Parikesit Tenggarong, Kutai Kartanegara.

Penutup

Perjalanan 670 km selama 20 jam ini, dengan niat silaturahmi dan tadabur alam, terasa nyaman, bahagia, dan menyehatkan jiwa.

Melintasi bentang alam dan kehidupan, kami kembali diingatkan untuk bersyukur dan melakukan introspeksi tentang makna kehidupan.

Indonesia yang subur dan kaya ini harus dikelola dengan baik demi kemaslahatan seluruh rakyat. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni