Feature

Mabit Jadi Momen Intim Siswa dan Orang Tua SD Sakri Hadapi Ujian Akhir

49
×

Mabit Jadi Momen Intim Siswa dan Orang Tua SD Sakri Hadapi Ujian Akhir

Sebarkan artikel ini
Peserta Mabit—siswa dan orang tua—antusias menyimak pemaparan materi (Yanuarti Pangestuningtyas/Tagar.co)

Mabit SD Sakri menjadi momen haru dan penuh makna. Siswa dan orang tua duduk bersama dalam doa, motivasi, dan refleksi, memantapkan langkah menuju ujian akhir kelas VI.

Tagar.co – Sabtu sore (12/4/2025), suasana masjid Baiturrahman di Krian terasa berbeda. Hening yang khusyuk, haru yang menyelinap, dan wajah-wajah penuh harap mewarnai kegiatan mabit yang diselenggarakan oleh SD Muhammadiyah 1 Krian (SD Sakri), Sidoarjo, Jawa Timur.

Tak hanya para siswa kelas VI yang hadir, para orang tua juga duduk bersama dalam satu saf, menyimak setiap rangkaian kegiatan yang sarat makna spiritual dan motivasi.

Kegiatan yang digelar hingga Ahad pagi (13/4/2025) ini merupakan bagian dari pembekalan menjelang Ujian Akhir Sekolah. Dengan tema “Pembekalan Menjelang Ujian Akhir Kelas VI”, SD Sakri ingin menghadirkan bukan hanya kesiapan akademik, tetapi juga kesiapan mental, spiritual, dan kebersamaan yang menguatkan.

Dimulai dengan Ibadah, Dihidupkan dengan Ilmu

Rangkaian mabit dibuka dengan salat asar berjemaah dan mengaji bersama. Usai itu, suasana mulai lebih tenang ketika Ratna Metasari, M.Pd., atau yang akrab disapa Bu Meta, menyampaikan materi pertama. Di hadapan siswa kelas VI, ia menyampaikan refleksi tentang hubungan manusia sebagai hamba dengan Rabb-nya, serta tanggung jawab sebagai makhluk sosial.

Baca Juga:  Sekolah Kreatif Baratajaya Perkuat Manhaj Muhammadiyah di Ruang Pendidikan

Baca juga: BIK SD Sakri: Membangun Karakter Islami sejak Usia Dini

Momentum puncak mabit dimulai selepas salat isya. Para wali murid kembali bergabung dalam forum yang penuh semangat dan kesungguhan. Kepala sekolah SD Sakri, Arum Ndalu, S.Pd., M.Pd., menyampaikan sambutannya yang menegaskan bahwa mabit ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bagian dari pembentukan karakter siswa yang religius, tangguh, dan beradab.

“Karakter cerdas secara intelektual saja tidak cukup. Harus didasari iman dan takwa agar siswa memiliki prinsip yang kuat dalam menjalani hidup, termasuk dalam menghadapi ujian,” ujar Arum.

Ustadz Novan Arifianto bersama seorang peserta (Yanuarti Pangestuningtyas/Tagar.co)

Sinergi Sekolah dan Keluarga

Hadir sebagai pemateri utama malam itu, Novan Arifianto, M.Pd., memompa semangat peserta melalui sesi motivasi dan parenting. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan dalam mendukung keberhasilan pendidikan anak.

“Acara seperti ini adalah contoh konkret bagaimana sinergi itu dibangun. Tidak cukup hanya guru di sekolah, tapi perlu dukungan nyata dari orang tua,” tegas Novan dengan gaya penyampaian yang komunikatif dan mudah dicerna.

Baca Juga:  Berhenti Sejenak di Mabit Sekolah Kreatif Baratajaya: Menata Niat, Menguatkan Loyalitas

Suasana kehangatan terasa sepanjang malam. Canda ringan, tangis haru, hingga doa yang khusyuk menjadi bagian dari perjalanan batin para siswa dan orang tua.

Tepat pukul 21.30 WIB, sesi bersama orang tua ditutup. Para wali murid pulang, sementara siswa melanjutkan malam dengan istirahat dan bangun dini hari untuk salat tahajud dan subuh berjemaah.

Harapan dan Doa untuk Masa Depan

Kegiatan mabit ditutup pada Minggu pagi dengan doa bersama dan bersih-bersih area masjid. Meski singkat, banyak siswa yang merasa mendapat bekal baru, bukan hanya untuk ujian sekolah, tapi juga untuk menjalani hidup yang lebih disiplin dan bermakna.

“Semoga sepulang dari sini, anak-anak membawa semangat baru. Ilmu yang mereka peroleh semoga menjadi pendorong untuk lebih giat belajar dan meraih hasil terbaik di ujian nanti,” harap Arum mengakhiri.

Dengan kegiatan ini, SD Sakri membuktikan bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal angka di rapor, tetapi juga tentang membangun manusia utuh: yang cerdas, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan. (#)

Baca Juga:  Mabit SD Muri: Mengajak Siswa Memaknai Ibadah Lebih dari Sekadar Rutinitas

Jurnalis Yanuarti Pangestuningtyas Penyunting Mohammad Nurfatoni