Kultum Ramadan

Kultum Ramadan: Puasa, Menundukkan Nafsu Meraih Kemuliaan

52
×

Kultum Ramadan: Puasa, Menundukkan Nafsu Meraih Kemuliaan

Sebarkan artikel ini
Aji Damanuri

Nafsu yang tak terkendali dapat menghancurkan manusia. Puasa hadir sebagai solusi spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu—dari nafsu seksual, kerakusan harta, hingga haus kekuasaan.

Kultum Ramadan (Seri 8): Puasa Menundukkan Nafsu, Meraih Kemuliaan; Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Ketua Dewan Pengawas Syariah Lazismu Tulungagung.

Tagar.co – Puasa sebagai pengendali hawa nafsu adalah materi kultum yang sangat tepat disampaikan di hari kedua Ramadan. Berikut naskah lengkapnya:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ اَلنَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan kita kesempatan untuk menikmati bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan rahmat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti ajaran beliau.

Baca juga: Kultum Ramadan: Menjaga Lisan, Memupuk Perdamaian dalam Puasa

Pada kesempatan ini, izinkan saya menyampaikan sedikit renungan tentang bagaimana puasa mampu menaklukkan tiga nafsu manusia yang sering kali merusak: libido seksual, kerakusan akan harta, dan haus kekuasaan. Ketiga nafsu ini, jika tidak dikendalikan, dapat menghancurkan kehidupan individu dan masyarakat. Mari kita bahas berdasarkan tafsir Al-Qur’an, hadis, pandangan ulama salaf dan khalaf, serta analisis ilmu politik modern.

Baca Juga:  Powerbank di Barisan Demonstran

Puasa dan Pengendalian Libido Seksual

Libido seksual adalah sesuatu yang normal, anugerah Allah kepada manusia. Namun, anugerah ini dapat membawa malapetaka ketika tidak dikendalikan secara bijak. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra: 32)

Puasa adalah sarana untuk mengendalikan nafsu seksual. Rasulullah Saw. bersabda:

”Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu menikah, maka menikahlah, karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa itu adalah perisai baginya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Puasa melatih kita untuk menahan diri dari dorongan seksual yang tidak halal. Dengan menahan diri selama puasa, kita belajar untuk mengendalikan nafsu ini dan mengarahkannya pada jalan yang halal, yaitu melalui pernikahan.

Puasa dan Pengendalian Kerakusan Harta

Kita tidak mati karena tidak makan sehari, paling kita hanya merasa lemas, dan hanya butuh beberapa suap ketika berbuka untuk kembali bugar. Allah SWT berfirman:

وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Baca Juga:  Ketika Jalan Raya Kehilangan Adab

“Dan berikanlah haknya (zakat) pada hari memetik hasilnya (panen), dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al-An’am: 141)

Puasa mengajarkan kita untuk tidak serakah dan berlebihan dalam mengonsumsi harta. Dengan menahan diri dari makan dan minum, kita belajar untuk hidup sederhana dan tidak terikat pada materi. Rasulullah Saw. bersabda:

“Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Puasa membantu kita meraih kekayaan jiwa, yaitu merasa cukup dengan apa yang kita miliki dan tidak selalu mengejar harta secara berlebihan.

Puasa dan Pengendalian Haus Kekuasaan

Allah Swt berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di bumi dan tidak berbuat kerusakan. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)

Puasa mengajarkan kita untuk tidak sombong dan tidak haus kekuasaan. Dengan menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu, kita belajar untuk rendah hati dan tidak merasa lebih tinggi dari orang lain. Rasulullah SAW bersabda:

Barang siapa yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Baca Juga:  Masjid sebagai Bank Amal: Aksi Muhammadiyah Mengembalikan Rumah Ibadah ke Jantung Umat

Puasa melatih kita untuk menjadi pemimpin yang adil dan tidak korup, karena kita telah terbiasa menahan diri dari keinginan-keinginan pribadi.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa adalah latihan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu, termasuk nafsu seksual, kerakusan harta, dan haus kekuasaan. Yusuf Al-Qaradawi, seorang ulama kontemporer, menekankan bahwa puasa adalah sarana untuk membangun karakter yang kuat dan bertanggung jawab.

Dalam ilmu politik modern, kekuasaan sering kali dianggap sebagai sumber korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Lord Acton pernah mengatakan: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut pasti korup.

Puasa, dengan mengajarkan pengendalian diri dan kerendahan hati, dapat menjadi solusi untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Seorang pemimpin yang terbiasa berpuasa akan lebih mungkin untuk bertindak adil dan tidak korup.

Puasa adalah sarana yang efektif untuk menaklukkan tiga nafsu manusia yang sering kali merusak: libido seksual, kerakusan akan harta, dan haus kekuasaan. Dengan puasa, kita belajar untuk mengendalikan diri, hidup sederhana, dan bertindak adil. Semoga puasa kita tahun ini membawa manfaat yang besar, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi masyarakat sekitar. Aamiin.

Nasrumminallah wafathunqarib. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni