Kultum Ramadan

Kultum Ramadan: Bulan Magfirah, saatnya Membersihkan Dosa dan Luka

53
×

Kultum Ramadan: Bulan Magfirah, saatnya Membersihkan Dosa dan Luka

Sebarkan artikel ini
Aji Damanuri

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga membuka hati untuk memaafkan. Raih magfirah Allah dan kedamaian batin dengan taubat sungguh-sungguh serta saling memberi maaf sesama manusia.

Kultum Ramadan (Seri 30); Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Ketua Dewan Pengawas Syariah Lazismu Tulungagung.

Tagar.co – Bulan Magfirah: Saatnya Membersihkan Dosa dan Luka tepat untuk menjadi bahan Kultum Ramadan kali ini. Baca selengkapnya:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَحْمُوْدِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، اَلْمَوْصُوْفِ بِصِفَاتِ الْجَلاَلِ وَالْكَمَالِ، الْمَعْرُوْفِ بِمَزِيْدِ اْلإِنْعَامِ وَاْلإِفْضَالِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَاَنَهُ وَهُوَ الْمَحْمُوْدُ عَلَى كُلِّ حَالٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ذُو الْعَظَمَةِ وَالْجَلاَلِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخَلِيْلُهُ الصَّادِقُ الْمَقَالِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ صَحْبٍ وَآلٍ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan kita kesempatan untuk berkumpul dalam majelis ilmu ini. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umat beliau yang setia mengikuti ajaran-ajarannya.

Baca juga: Kultum Ramadan: Silaturahmi, Kunci Harmoni dan Kemajuan Umat

Pada kesempatan kali ini, izinkan saya menyampaikan renungan singkat tentang bulan magfirah, bulan penuh ampunan. Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk memohon ampunan kepada Allah. dan meminta maaf kepada sesama manusia. Ketika Allah memberikan magfirah (ampunan) dan manusia saling memaafkan, maka akan tercipta kedamaian dalam hati.

Baca Juga:  Hisab Dituding Menyimpang dari Sunah—Benarkah?

Makna Magfirah

Kata magfirah berasal dari bahasa Arab “gafara” (غَفَرَ) yang berarti “mengampuni” atau “menutupi”. Dalam konteks Islam, maghfirah merujuk pada ampunan Allah Swt. terhadap dosa dan kesalahan hamba-Nya. Magfirah mencakup pengampunan dosa, penutupan aib, serta penyelamatan dari azab.

Allah Swt. berfirman:

وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 199)

Allah Swt. sangat penyayang dan senantiasa membuka pintu ampunan. Bahkan meskipun dosa setinggi gunung, ampunan Allah tetap luas, sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa: 110)

Tobat dan Permohonan Maaf

Allah Swt. memerintahkan kita untuk bertobat:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (An-Nur: 31)

Imam an-Nawawi dalam Riyadus Salihin menyebutkan bahwa taubat dari dosa hukumnya wajib. Jika dosa itu hanya terkait hubungan kita dengan Allah, maka ada tiga syarat: (1) menghentikan perbuatan dosa, (2) menyesali perbuatan tersebut, dan (3) bertekad tidak mengulanginya lagi. Bila salah satu dari ketiganya tidak terpenuhi, maka taubatnya tidak sah.

Baca Juga:  Sujud di Tanah Basah: Tafsir Spiritual Lailatulqadar

Jika dosa berkaitan dengan sesama manusia, maka ada syarat keempat, yaitu menyelesaikan hak orang lain: mengembalikan harta, mencabut tuduhan, atau meminta maaf atas ucapan atau perbuatan menyakitkan.

Segera Meminta Maaf

Permohonan maaf tidak perlu menunggu Idulfitri. Justru, sebaiknya dilakukan segera setelah melakukan kesalahan. Rasulullah Saw. bersabda:

“Barang siapa yang memiliki kesalahan terhadap saudaranya, baik dalam hal kehormatan atau lainnya, maka hendaklah ia meminta maaf hari ini, sebelum datang hari di mana tidak ada lagi dinar atau dirham…” (H.R. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan pentingnya menyelesaikan urusan antarmanusia sebelum hari kiamat tiba. Rasulullah Saw. juga bersabda:

تَعَافَوْا الْحُدُودَ بَيْنَكُمْ

“Saling maafkanlah di antara kalian dalam hal-hal yang berkaitan dengan hukuman, karena jika sampai kepadaku, maka hukuman itu wajib dilaksanakan.” (H.R. Abu Dawud)

Keutamaan Memaafkan

Memaafkan adalah kunci kedamaian sosial. Memaafkan mengurangi permusuhan dan mempererat tali persaudaraan. Bahkan secara psikologis, memaafkan mengurangi stres, kecemasan, dan depresi. Sebaliknya, menyimpan dendam bisa mengganggu ketenangan jiwa.

Rasulullah Saw. menjadi teladan dalam memaafkan. Ketika diusir dan dilempari batu oleh penduduk Thaif, beliau tidak membalas, malah memohonkan ampun bagi mereka. Begitu juga Nabi Yusuf As. memaafkan saudara-saudaranya dan berkata:

Baca Juga:  Sedekah Oksigen dan Arah Baru Kesalehan

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Tidak ada cercaan terhadap kalian pada hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 92)

Menjadi Pribadi Pemaaf

Bagi yang bersalah, hendaknya meminta maaf. Bagi yang disakiti, hendaknya memberi maaf. Firman Allah:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?” (An-Nur: 22)

Setiap manusia pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera meminta maaf. Maka mari kita bersihkan dosa kepada Allah dengan tobat, dan bersihkan dosa kepada sesama dengan meminta dan memberi maaf.

Penutup

Ramadan adalah bulan maghfirah. Bulan ini adalah kesempatan untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan, dan meraih ampunan Allah. Dengan meminta maaf dan memaafkan, kita menciptakan kedamaian hati dan harmoni sosial.

Dengan meminta maaf, kita tidak akan menjadi hina, justru terangkat martabatnya. Dengan memaafkan, kita mendekatkan diri kepada Allah dan membangun kehidupan sosial yang damai dan penuh rahmat.

Semoga kita semua dapat menjadi pribadi yang mudah memaafkan dan meraih maghfirah dari Allah Swt. Amin. (#)

Nasrumminallah wafathunqarib. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penyunting Mohammad Nurfatoni