Telaah

Iktikaf Bertenda: Kreativitas di Penghujung Ramadan

28
×

Iktikaf Bertenda: Kreativitas di Penghujung Ramadan

Sebarkan artikel ini
Iktikaf dengan tenda di salah satu halaman masjid. (Foto Antara)

Fenomena iktikaf dengan mendirikan tenda di masjid kian marak. Kreatif sekaligus spiritual, tradisi ini menggambarkan semangat umat Islam menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dengan penuh makna.

Kajian Ramadan bersama Ketua ICMI (Seri 31): Iktikaf Bertenda: Kreativitas di Penghujung Ramadan

Oleh Ulul Albab; Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur; Ketua Litbang DPP Amphuri, Pembina Yayasan Masjid Subulus Salam GWA Sidoarjo; dan Akademisi Universitas Dr. Soetomo Surabaya.

Tagar.co – Di sepuluh hari terakhir bulan yang penuh rahmat ini, umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah mereka. Salah satunya adalah dengan beriktikaf—berdiam diri di dalam masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Namun, belakangan ini muncul fenomena yang menarik sekaligus unik: mendirikan tenda di masjid untuk melaksanakan iktikaf.

Baca juga: Momen Berkesan di Kajian Ramadan: Ketika Ilmu, Kebersamaan, dan Spiritualitas Menyatu

Fenomena ini menunjukkan adanya kreativitas umat Islam dalam mencari cara terbaik untuk memperbanyak ibadah, khususnya di sepuluh malam terakhir Ramadan. Salah satu contoh yang mencolok adalah di Masjid Raya Habiburrahman, Bandung, Jawa Barat, yang dipenuhi tenda-tenda demi memberikan ruang lebih bagi jemaah yang ingin beriktikaf. Ini menunjukkan bagaimana umat Islam, meski dengan keterbatasan ruang, berusaha tetap khusyuk dalam beribadah.

Menyimak Fenomena Ini dalam Perspektif Ajaran dan Fikih Islam

Fenomena mendirikan tenda di masjid tidak bisa dilepaskan dari aspek fikih dan ajaran Islam. Dalam syariat, iktikaf adalah ibadah yang dilakukan dengan cara berdiam diri di dalam masjid, dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Syarat utamanya adalah berada di masjid, dan tidak ada ketentuan khusus mengenai bentuk fisik ruang tempat iktikaf, selama berada di area masjid.

Menurut Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama RI, Arsad Hidayat, mendirikan tenda di area masjid merupakan bentuk usaha untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui aktivitas ibadah. Tenda yang didirikan di dalam atau dekat masjid dapat dipahami sebagai bagian dari area masjid itu sendiri. Namun, perlu digarisbawahi bahwa dalam fikih Islam, hal terpenting adalah niat iktikaf itu sendiri—yakni demi meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan semata-mata mencari kenyamanan fisik.

Ragam Tanggapan Masyarakat

Fenomena ini memunculkan berbagai tanggapan di kalangan masyarakat dan ulama. Sebagian melihatnya sebagai bentuk kreativitas dan semangat umat Islam dalam melaksanakan ibadah, apalagi dengan dukungan teknologi dan fasilitas di sekitar masjid yang terus berkembang.

Namun, sebagian lain mengingatkan agar iktikaf tidak justru mengganggu kenyamanan jemaah lain. Tenda yang didirikan perlu ditempatkan secara tertib agar tidak mengurangi ruang dan ketenangan orang lain yang juga ingin beribadah.

Kementerian Agama sendiri mengapresiasi niat para jemaah yang ingin beriktikaf secara lebih intensif. Arsad Hidayat menekankan bahwa mendirikan tenda merupakan bagian dari semangat menjaga kemurnian ibadah dan menghidupkan malam-malam penuh berkah. Yang terpenting tetaplah menjaga niat ikhlas dan tidak terjebak pada aspek fisik semata.

Iktikaf Menurut Teladan Rasulullah

Iktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan merupakan amalan utama yang sangat dianjurkan. Rasulullah Saw., sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah Ra., selalu memperbanyak ibadah dan beriktikaf selama sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut beribadah.

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa siapa pun yang menghidupkan malam Lailatulqadar dengan penuh keimanan dan harapan akan pahala, maka dosa-dosanya akan diampuni. Lailatulqadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Maka, tidak heran jika iktikaf menjadi jalan untuk meraihnya.

Bagi Rasulullah, iktikaf adalah cara untuk sepenuhnya memusatkan diri kepada Allah—lepas dari hiruk-pikuk dunia. Ia bukan sekadar berdiam, melainkan peningkatan kualitas ibadah, zikir, doa, dan perenungan diri.

Kiat Beriktikaf secara Khusyuk dan sesuai Sunah

Mengingat Ramadan segera berakhir, sangat penting untuk memanfaatkan sepuluh hari terakhir ini sebaik mungkin. Berikut beberapa kiat agar iktikaf yang kita jalani sesuai dengan sunah Rasulullah Saw. dan penuh keberkahan:

  1. Niat yang ikhlas
    Luruskan niat semata-mata karena Allah. Jangan sampai niat beriktikaf dicampuri keinginan mencari kenyamanan atau eksistensi di mata manusia.

  2. Fokus pada ibadah
    Perbanyak zikir, doa, membaca Al-Qur’an, serta perenungan diri. Jadikan masjid sebagai ruang spiritual, bukan sekadar tempat menginap.

  3. Menjaga kenyamanan jemaah lain
    Jika membawa tenda, pastikan tidak mengganggu orang lain. Atur penempatan dan ukuran agar tetap tertib dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan.

  4. Menghidupkan malam-malam Ramadan
    Ikuti jejak Rasulullah yang menghidupkan malam dengan ibadah dan membangunkan keluarganya untuk ikut meraih keberkahan.

  5. Menjaga kebersihan dan ketertiban masjid
    Pastikan lingkungan tetap bersih dan nyaman. Hargai adab berada di rumah Allah.

Jangan Sia-siakan Keberkahan Ramadan

Ramadan adalah bulan penuh keberkahan. Sepuluh malam terakhir adalah kesempatan emas untuk meraih pembebasan dari api neraka. Maka, jangan sia-siakan malam-malam mulia ini dengan berpangku tangan.

Mari manfaatkan setiap malam dengan ibadah yang sungguh-sungguh. Semoga kita diberi kekuatan untuk beriktikaf secara khusyuk, mendapatkan Lailatulqadar, serta meraih rahmat, ampunan, dan jaminan keselamatan dari api neraka. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni