Kultum Ramadan

Kultum Ramadan: Silaturahmi, Kunci Harmoni dan Kemajuan Umat

81
×

Kultum Ramadan: Silaturahmi, Kunci Harmoni dan Kemajuan Umat

Sebarkan artikel ini
Kultum ini mengajak kita menjadikan silaturahim bukan sekadar rutinitas Lebaran, tapi sebagai energi sosial dan spiritual untuk membangun umat yang kuat, harmonis, dan saling menguatkan.
Kultum Ramadan Aji Damanuri

Kultum ini mengajak kita menjadikan silaturahmi bukan sekadar rutinitas Lebaran, tapi sebagai energi sosial dan spiritual untuk membangun umat yang kuat, harmonis, dan saling menguatkan.

Kultum Ramadan (Seri 28); Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Ketua Dewan Pengawas Syariah Lazismu Tulungagung.

Tagar.co Silaturahmi: Kunci Harmoni dan Kemajuan Umat tepat untuk menjadi bahan Kultum Ramadan kali ini. Baca selengkapnya:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan kita kesempatan untuk berkumpul dalam majelis ilmu ini. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti ajaran beliau.

Baca juga Kultum Ramadan: Menjaga Lisan, Memupuk Perdamaian dalam Puasa

Pada kesempatan ini, izinkan saya menyampaikan renungan tentang silaturahim (menyambung tali persaudaraan) dan bagaimana ia dapat menjadi energi perubahan untuk memajukan umat. Silaturahim bukan sekadar tradisi atau kebiasaan, apalagi hanya dilakukan setiap Idulfitri, tetapi merupakan perintah agama yang memiliki dampak besar dalam kehidupan sosial.

Mari kita bahas berdasarkan Al-Qur’an, hadis sahih, teori sosial, pandangan ulama, serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Allah Swt. menerangkan konsep silaturahmi dalam firman-Nya:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menyebut) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim.” (An-Nisa: 1)

Allah menegaskan pentingnya menjaga silaturahim sebagai bagian dari ketakwaan. Silaturahim bukan hanya tentang hubungan keluarga, tetapi juga membangun relasi sosial yang harmonis. Di Indonesia, kita mengenal trilogi ukhuwah:

  • Ukhuwah basyariah, hubungan atas dasar kemanusiaan,

  • Ukhuwah wataniah, hubungan sebagai sesama anak bangsa,

  • Ukhuwah islamiah, hubungan sebagai sesama muslim.

Ketiga bentuk ukhuwah ini penting dijaga sebagai wujud ketakwaan untuk menciptakan harmoni dan kedamaian.

Silaturahim berasal dari dua kata: silah yang berarti hubungan, dan rahim yang berarti kandungan. Maka, silaturahim bermakna hubungan kasih sayang yang merujuk pada asal usul kita yang sama, yakni dari rahim Hawa alaihissalam. Karena itu, tidak sepantasnya kita sebagai saudara saling memutus tali silaturahim, apalagi bermusuhan.

Namun demikian, Allah Swt. memperingatkan kita bahwa akan ada orang-orang yang karena kekuasaan, justru merusak silaturahmi:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan silaturahim?” (Muhammad: 22)

Memutus silaturahmi adalah perbuatan yang merusak dan dilarang. Nafsu ingin menguasai, serakah terhadap harta, bersaing dalam urusan perempuan, berebut jabatan, mengejar pengaruh sosial, hingga fanatisme kelompok sering kali menjadi penyebab retaknya silaturahim—baik antar sesama manusia, sesama anak bangsa, bahkan sesama muslim.

Rasulullah Saw. sangat menginginkan umatnya hidup dalam kasih sayang. Beliau bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Silaturahmi bukan hanya bermanfaat secara sosial, tetapi juga membawa keberkahan pribadi. Semakin luas jaringan sosial kita (networking), semakin terbuka pula pintu rezeki. Sebaliknya, permusuhan yang kita bangun justru bisa menutup rezeki. Silaturahmi juga menjadi sarana penyaluran kebutuhan psikologis kita sebagai makhluk sosial.

Dengan silaturahmi, beban psikologis berkurang, stres pun hilang, sehingga kita lebih sehat dan berpotensi berumur panjang. Penelitian medis membuktikan bahwa banyak penyakit bersumber dari pikiran yang tertekan. Maka, secara ilmiah, silaturahim dapat memperpanjang usia.

Namun silaturahim harus dilakukan dengan tulus, bukan transaksional. Rasulullah Saw. bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang menyambung silaturahmi bukanlah yang sekadar membalas kebaikan, melainkan orang yang tetap menyambung hubungan meskipun keluarganya memutuskan hubungan.” (H.R. Bukhari)

Silaturahmi membutuhkan inisiatif aktif dari semua pihak. Bila salah satu pasif, maka yang lain harus proaktif. Bila semuanya pasif, maka hancurlah silaturahmi.

Menurut teori modal sosial Robert Putnam, hubungan sosial yang kuat (seperti silaturahmi) adalah sumber daya penting untuk mencapai tujuan bersama. Silaturahmi membangun kepercayaan, kerja sama, dan solidaritas dalam masyarakat.

Dr. Abdullah Nashih Ulwan, pakar pendidikan Islam, menyebut silaturahmi sebagai fondasi masyarakat yang sehat. Ia mengajarkan nilai kasih sayang, saling menghormati, dan kerja sama.

Silaturahmi memperkuat jaringan sosial. Misalnya, dalam komunitas atau organisasi, silaturahim mempererat kerja sama antaranggota dan antarormas, yang pada akhirnya memberi manfaat untuk kemajuan umat.

Silaturahim juga membantu kita mengatasi persoalan sosial seperti kemiskinan, pengangguran, dan pendidikan. Kita bisa membentuk kelompok usaha, lembaga pendidikan, atau gerakan bantuan sosial.

Silaturahmi pun bisa menjadi alat menyelesaikan konflik. Berapa banyak konflik reda karena ternyata kedua belah pihak saling kenal, bahkan memiliki nasab yang sama? Kerukunan antarormas dapat terjalin karena pengurusnya adalah teman masa kecil, teman kuliah, atau kerabat.

Silaturahmi mendorong partisipasi aktif dalam kegiatan sosial: gotong royong, bakti sosial, dan kegiatan keagamaan. Komunitas yang kuat dalam silaturahmi akan mudah bersatu membangun masjid, menyelenggarakan pendidikan, dan menjaga kesejahteraan.

Sebaliknya, masyarakat yang memutus silaturahmi cenderung saling acuh, mudah bertengkar, dan tidak peduli terhadap masalah sosial. Akibatnya, masyarakat menjadi rapuh dan penuh konflik.

Penutup

Silaturahim adalah perintah agama yang memiliki dampak besar dalam kehidupan sosial. Dengan menjalin silaturahim secara tulus, kita membangun masyarakat yang harmonis, kuat, dan penuh kasih sayang. Silaturahmi adalah energi perubahan untuk memajukan umat, baik di bidang ekonomi, pendidikan, maupun sosial.

Semoga kita semua dapat menjaga silaturahmi dengan tulus dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk memajukan masyarakat. Amin. (#)

Nasrumminallah wafathunqarib. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni