Feature

Kreatif! Pop-up Tiga Dimensi Siswa Smamsatu Ungkap Misteri Rekaman Proklamasi

47
×

Kreatif! Pop-up Tiga Dimensi Siswa Smamsatu Ungkap Misteri Rekaman Proklamasi

Sebarkan artikel ini
Disekap, disiksa, dan pincang seumur hidup—itulah harga yang dibayar Yusuf Yonodiputro demi menyiarkan kemerdekaan. Kisahnya kini hidup kembali dalam pop-up kreatif siswa Smamsatu Gresik dalam Ujian Proyek P5 dan Tematik PSAT 2025 bertema 3D Pop-up Masa Pendudukan Jepang dan Sekitar Proklamasi.
Kreatif! Pop-up Tiga Dimensi Siswa Smamsatu. Salah satu karya Pop-up Siswa Smamsatu Gresik. Dari kiri: Raymond Mahesya Syarifuddin Al-Ghony, Wiwit Dwi Wahyu S.Sos M.Pd, Sava Al Qotrun Nada, Estu Rahayu S.Ag, Elvira Dwi Rahmawati, Lalyta Nafisah Bella SPd, Mazaya Abdillah Nisa. (Tagar.co/Istimewa)

Disekap, disiksa, dan pincang seumur hidup—itulah harga yang dibayar Yusuf Yonodiputro demi menyiarkan kemerdekaan. Kisahnya kini hidup kembali dalam pop-up kreatif siswa Smamsatu Gresik dalam Ujian Proyek P5 dan Tematik PSAT 2025 bertema 3D Pop-up Masa Pendudukan Jepang dan Sekitar Proklamasi.

Tagar.co – Sebuah ruangan di Radio Hoso Kyoku tiba-tiba dikunci dari luar. Kabel-kabel siaran mendadak terputus. Insting Yusuf Yonodiputro, seorang jurnalis muda, langsung bergejolak. Ada sesuatu yang tidak beres. Ia memeriksa kembali sistem siaran dan menemukan bahwa sambungan ke luar negeri tidak berfungsi. Anehnya, siaran radio dalam negeri masih berjalan.

Yusuf bersama Bachtiar Lubis dan sejumlah teknisi mencoba menyambung kembali jaringan yang terputus secara diam-diam. Namun, upaya mereka dibatasi. Akses keluar-masuk kantor radio tertutup. Mereka dan rekan-rekan jurnalis disekap. Para kompei—sebutan untuk polisi militer dan polisi rahasia Jepang—berjaga ketat, mondar-mandir mengawasi siapa pun yang lewat atau mendekat.

Baca juga: Hanum Rais Kirim Surat Terbuka ke Erina Gudono: Lukai Perjuangan Kami

Di tengah penjagaan itu, wartawan senior kantor berita Domei, Sjachrudin, berhasil menyusup masuk ke kantor militer Jepang. Ia membawa dua lembar kertas penting. Lembar pertama adalah surat dari Adam Malik, berisi permintaan agar lembar kedua dibacakan. Lembar kedua adalah teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga:  Belajar Lintas Negara: Murid ICO Smamsatu Rasakan Kelas Digital dan Budaya Sekolah Malaysia

Pada 17 Agustus 1945 pukul 19.00 WIB, berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia akhirnya berhasil disiarkan lewat radio. Teks proklamasi dalam Bahasa Indonesia dibacakan oleh Yusuf Yonodiputro. Terjemahan dalam Bahasa Inggris dibacakan oleh Soeprapto. Peristiwa penting ini mengudara secara resmi ke seluruh penjuru negeri.

Jiwa Jurnalis: Menggapai Proklamasi yang Terlewat

Namun perjuangan Yusuf tidak berhenti di situ. Karena sempat disekap, ia tidak berhasil merekam langsung momen sakral pembacaan Proklamasi oleh Soekarno pada pagi hari 17 Agustus. Yusuf merasa kehilangan momen paling bersejarah bangsa. Ia lalu berusaha menemui Soekarno dan memintanya membacakan kembali teks Proklamasi untuk direkam melalui radio.

Permintaan itu tidak mudah. Soekarno awalnya menolak. Baginya, pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan adalah peristiwa sakral dan tidak dapat diulang. Namun Yusuf tak menyerah. Ia mendesak Soekarno dengan alasan bahwa bangsa Indonesia memerlukan dokumen otentik dari sumber utama.

“Bangsa Indonesia perlu dokumen otentik dari sumber utama,” kata Yusuf meyakinkan. Ia ingin rekaman tersebut bisa menjadi warisan sejarah bagi generasi mendatang.

Adu argumen antara Yusuf dan Soekarno berjalan alot. Namun akhirnya, Soekarno luluh. Ia bersedia membacakan kembali teks proklamasi untuk direkam. Rekaman tersebut kemudian disiarkan ulang melalui saluran udara ke dalam negeri dan luar negeri. Suara Proklamasi dari Indonesia akhirnya menggema ke seluruh dunia, termasuk ke Amerika Serikat, Australia, dan Belanda.

Baca Juga:  Buka Puasa Bersama Smamsatu, Ustaz Sholihin Fanani Kupas Hakikat Puasa dengan Humor Segar
Kreatif! Pop-up Tiga Dimensi Siswa Smamsatu. Pop-up berjudul Misteri di Balik Rekaman Proklamasi karya Kelompok 4 Kelas XI Soshum 1 (Tagar.co/Istimewa)

Pincang Seumur Hidup demi Kemerdekaan

Kesuksesan Yusuf sebagai jurnalis tidak tanpa risiko. Keberhasilannya menyiarkan kemerdekaan Indonesia membuat tentara Jepang semakin frustrasi. Negara mereka tengah berada di ambang kekalahan setelah dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki. Kini, salah satu negara jajahan mereka, Indonesia, justru hendak merdeka.

Baca juga: Maket Ajaib dari Smamsatu: Di Balik Rumah Bolon, Tersimpan Gagasan Kota Masa Depan

Yusuf, yang saat itu berusia 26 tahun, diseret dan disiksa oleh tentara Jepang. Ia dipukul bertubi-tubi. Sekujur tubuhnya memar dan berdarah, hingga tak sanggup berdiri. Namun semangat juangnya tak padam. Ia tetap teguh membela kemerdekaan, mengalahkan rasa sakit yang dideritanya. Akibat penyiksaan itu, salah satu kakinya menjadi pincang seumur hidup.

Diangkat ke Pop-up Tiga Dimensi oleh Siswa Smamsatu

Kisah heroik Yusuf Yonodiputro itu kini diabadikan oleh siswa SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik dalam bentuk buku pop-up tiga dimensi. Setiap lembarnya menampilkan adegan sejarah yang seolah hidup dan keluar dari halaman, memberi pengalaman visual dan emosional bagi pembacanya.

Baca Juga:  Dari Serius Menjadi Seru: Upgrading PR IPM Smamsatu Tinggalkan Kesan Mendalam

Karya berjudul Misteri di Balik Rekaman Proklamasi ini merupakan proyek tematik Kelompok 4 Kelas XI Soshum 1 dalam rangka Ujian Proyek P5 dan Tematik Penilaian Sumatif Akhir Tahun (PSAT) 2025. Mereka adalah Elvira Dwi Rahmawati, Mazaya Abdillah Nisa, Raymond Mahesya Syarifuddin Al-Ghony, dan Sava Al Qotrun Nada. Keempatnya dibimbing oleh Estu Rahayu, S.Ag., sebagai guru fasilitator.

Pop-up tersebut diuji bersama karya 18 kelompok siswa Soshum 1, 2, dan 3 yang bertema 3D Pop-Up Masa Pendudukan Jepang dan Sekitar Proklamasi. Berbagai karya menarik dipresentasikan di hadapan fasilitator dan penguji, pada Selasa (10/6/25). Misalnya pop-up berjudul Senjata Biologis 731 Jepang.

Melalui karya ini, kami ingin menghadirkan kembali perjuangan tokoh-tokoh sejarah dengan cara yang menyentuh dan tidak membosankan. Sejarah bisa dihidupkan, dan pop-up ini menjadi salah satu jalannya.

Semengtara itu Kelas XI Saintek menampilkan tema Tanaman Toga: Pengolahan Tanaman Toga Menjadi Produk Kesehatan dan Kecantikan. (#)

Jurnalis Estu Rahayu Penyunting Mohammad Nurfatoni