Feature

Kisah Hamidah, Penjual Nasi yang 13 Tahun Setia Berdonasi

27
×

Kisah Hamidah, Penjual Nasi yang 13 Tahun Setia Berdonasi

Sebarkan artikel ini
Hamidah, penjual nasi sekaligus marbot masjid asal Desa Putat, Tanggulangin, Sidoarjo, menunjukkan buku kwitansi donasi Lazismu yang telah ia kumpulkan selama 13 tahun menjadi donatur tetap. (Tagar.co/Yekti Pitoyo)

Dari penghasilan yang terbatas, Hamidah istikamah—sang penjual nasi dan marbot masjid—berdonasi sejak 2012. Baginya, berkah bukan soal jumlah, melainkan ketulusan hati.

Tagar.co – Hidup sederhana tak membuat Hamidah berhenti berbagi. Perempuan berusia 68 tahun itu, yang sehari-hari berjualan nasi dan merangkap sebagai marbot masjid, telah 13 tahun istikamah menjadi donatur Lazismu Sidoarjo. Sejak 2012, ia selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk orang lain.

Bagi Hamidah, keberkahan bukan diukur dari besar kecilnya angka, melainkan dari ketulusan hati. “Saya ingin bermanfaat, rezeki yang saya peroleh bisa menjadi barokah,” ucapnya sambil berkaca-kaca saat ditemui penulis di rumahnya, Desa Putat, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (15/9/2025).

Baca juga: TK Hampir Ambruk, Harapan Tumbuh Bersama Program Save Our School Lazismu

Hamidah tampak tersenyum ramah ketika ditemui di teras rumahnya. Mengenakan jilbab cokelat sederhana, ia dengan bangga memperlihatkan buku kwitansi donasi Lazismu yang telah ia kumpulkan bertahun-tahun.

Raut wajahnya memancarkan ketulusan dan keteguhan hati, seakan menegaskan bahwa berbagi adalah bagian dari napas hidupnya sehari-hari.

Baca Juga:  Amil Naik Level: Tata Kelola Kuat, Kolaborasi Hebat, Kinerja Meningkat

Aktivitas Sehari-Hari yang Penuh Makna

Hari-harinya dimulai sejak pukul 02.00 dini hari. Seusai salat tahajud, ia menanak lima kilogram beras, menyiapkan lauk, lalu berangkat ke masjid pukul 03.30 untuk menyapu dan mengepel lantai agar jamaah subuh merasa nyaman.

Usai salat berjemaah, ia kembali ke rumah untuk menyiapkan makanan bagi 50 santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam bersama adiknya.

Penghasilannya memang tak seberapa. Dari berjualan nasi dan tambahan marbot, rata-rata hanya sekitar Rp600 ribu per bulan. Namun sejak awal ia konsisten menyisihkan Rp10 ribu setiap bulan untuk Lazismu.

Jumlah itu perlahan meningkat menjadi Rp15 ribu, dan kini Rp25 ribu per bulan. Bahkan, setahun terakhir ia berhasil mengajak adik dan cucunya ikut menjadi donatur.

Bahagia Membaca Kisah Manfaat

Selain bersedekah, kebahagiaan lain yang ia rasakan adalah saat menerima majalah Lazismu setiap bulan. Dari situ ia membaca kisah anak yatim yang mendapat beasiswa, kaum duafa yang terbantu usahanya, hingga program sosial lainnya.

“Saya terharu membaca berita-berita itu. Saya berdoa semoga Lazismu Sidoarjo tetap berkiprah dan semua petugasnya diberi kesehatan,” tuturnya tulus.

Baca Juga:  Noe Letto di Milad Ke-50 Smamda: Dari Gundul-Gundul Pacul, Berkibarlah Benderaku, hingga Sebelum Cahaya

Kisah BuHamidah menjadi bukti nyata bahwa semangat filantropi Islam tak hanya lahir dari orang yang berlimpah harta. Dari sosok sederhana yang setiap hari menyapu masjid, memasak untuk santri, dan berjualan nasi di kampung, terpancar keteladanan besar: memberi bukan soal angka, melainkan soal jiwa.

Lebih dari satu dekade ia istikamah berbagi, meski dengan penghasilan terbatas. Ia bahkan menularkan semangat itu kepada keluarga terdekat. Dari kampung kecil di Tanggulangin, Hamidah mengirim pesan sederhana: “Jangan menunggu kaya untuk berbagi, tapi mulailah dari yang kecil, dari yang kita mampu, dan dari sekarang.” (#)

Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni