Opini

Kerupuk yang Menyatukan: Filosofi di Balik Lomba Favorit 17 Agustusan

62
×

Kerupuk yang Menyatukan: Filosofi di Balik Lomba Favorit 17 Agustusan

Sebarkan artikel ini
Di balik tawa riuh saat lomba makan kerupuk, tersimpan makna yang dalam: tentang kesederhanaan, perjuangan, dan kebersamaan. Dari gigitan kerupuk yang rapuh, kita belajar arti persatuan yang kokoh—sebuah filosofi merdeka yang terus hidup di setiap Agustusan.
Ilustrasi AI

Di balik tawa riuh saat lomba makan kerupuk, tersimpan makna yang dalam: tentang kesederhanaan, perjuangan, dan kebersamaan. Dari gigitan kerupuk yang rapuh, kita belajar arti persatuan yang kokoh—sebuah filosofi merdeka yang terus hidup di setiap Agustusan.

Oleh Prof. Triyo Supriyatno, Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tagar.co – Setiap bulan Agustus, ruang-ruang kehidupan masyarakat Indonesia berubah menjadi panggung kegembiraan. Bendera merah putih berkibar di depan rumah, jalan-jalan dihias umbul-umbul, dan suara riuh terdengar dari arena lomba tujuhbelasan.

Dari sekian banyak jenis lomba, ada satu yang hampir selalu menjadi favorit: lomba makan kerupuk. Pemandangan anak-anak, remaja, hingga orang tua yang berusaha menggigit kerupuk yang digantung dengan tali rafia selalu menghadirkan tawa. Lalu, mengapa lomba sederhana ini begitu populer dan tidak pernah hilang dari perayaan kemerdekaan?

Sederhana, Merakyat, dan Egaliter

Kerupuk adalah makanan rakyat. Murah, mudah ditemukan, dan hampir selalu hadir di meja makan. Ia dikonsumsi oleh siapa saja, tanpa memandang status sosial. Dari petani di sawah hingga pejabat di kantor, kerupuk adalah teman makan yang merakyat. Menjadikannya objek perlombaan adalah simbol kesederhanaan bangsa: bahwa kemerdekaan bisa dirayakan dengan apa yang kita miliki, tanpa harus mewah.

Baca Juga:  Antara AI, Guru, dan Masa Depan Nalar: Menjaga Api Berpikir Kritis di Era Society 5.0

Baca juga: Indonesia Raya sebagai Cermin Jiwa Merdeka Bangsa

Kesederhanaan itu pula yang membuat lomba ini egaliter. Siapa pun bisa ikut serta—tidak butuh keterampilan khusus, modal besar, atau peralatan rumit. Cukup mulut, semangat, dan sedikit keberanian untuk menertawakan diri sendiri. Dalam konteks masyarakat yang majemuk, lomba ini menghadirkan kebersamaan yang alami.

Simbol Perjuangan yang Lucu

Walau mengundang gelak tawa, lomba makan kerupuk sesungguhnya menyimpan simbol perjuangan. Kerupuk yang digantung tinggi, bergoyang tertiup angin, mengingatkan kita bahwa setiap cita-cita butuh perjuangan untuk meraihnya. Mulut harus menjangkau, leher menegang, tubuh berjingkat, semua dilakukan demi menggigit sedikit demi sedikit kerupuk yang rapuh.

Kita bisa melihatnya sebagai alegori perjuangan kemerdekaan: penuh kesulitan, tidak mudah, tetapi bisa dicapai dengan ketekunan. Bung Karno pernah mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Lomba makan kerupuk adalah cara ringan untuk mengajarkan kepada generasi kini bahwa perjuangan, sekecil apa pun bentuknya, tetap memerlukan semangat pantang menyerah.

Tawa yang Menyatukan

Tidak ada lomba 17 Agustusan lain yang bisa menghasilkan tawa bersama sebanyak lomba makan kerupuk. Orang yang menonton tertawa karena melihat tingkah lucu peserta; sementara peserta sendiri tak jarang ikut tertawa melihat dirinya.

Baca Juga:  Pers Indonesia: Antara Idealitas Demokrasi dan Realitas Kekuasaan

Dalam suasana itu, sekat sosial runtuh. Tidak penting apakah peserta anak pejabat, guru, buruh, atau ibu rumah tangga—semua sama-sama menganga ke atas, berebut menggigit kerupuk yang bergoyang.

Tawa itu adalah energi persatuan. Dalam satu arena, orang-orang yang berbeda latar belakang bisa larut dalam suasana gembira yang sama. Bukankah salah satu makna kemerdekaan adalah kemampuan untuk tertawa bersama, tanpa takut, tanpa sekat?

Pelajaran Hidup dari Kerupuk

Sedikitnya ada tiga pelajaran yang bisa kita petik dari lomba ini. Pertama, kesabaran. Tak mungkin kerupuk habis dalam sekali gigitan; perlu strategi, ketenangan, dan konsistensi. Kedua, keuletan. Angin yang menggoyangkan kerupuk bisa diibaratkan tantangan hidup yang membuat kita harus terus beradaptasi. Ketiga, kebersamaan. Kemenangan sejati bukan hanya milik yang paling cepat menghabiskan kerupuk, melainkan milik semua yang hadir dalam tawa bersama.

Pelajaran ini sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya mudah ditangkap oleh siapa saja—dari anak-anak hingga orang dewasa.

Merawat Tradisi di Era Digital

Di tengah arus modernisasi dan gempuran hiburan digital, lomba makan kerupuk adalah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu mahal. Anak-anak yang terbiasa dengan gawai diajak untuk bergerak, tertawa, dan merasakan interaksi nyata.

Baca Juga:  Lebaran Pengorbanan: Dari Cinta Kuasa Menuju Kuasa Mencintai

Sementara orang dewasa diingatkan kembali pada kenangan masa kecilnya: bahwa dulu mereka juga pernah berdiri di depan seutas tali rafia, berjuang melahap kerupuk dengan penuh semangat.

Sosiolog Koentjaraningrat pernah menekankan pentingnya tradisi sebagai pengikat sosial. Lomba makan kerupuk, meski sederhana, adalah bagian dari tradisi itu—tradisi yang meneguhkan identitas bangsa sekaligus mempererat hubungan antarwarga.

Simbolisme Lomba Makan Kerupuk

Mungkin ada yang menganggap lomba makan kerupuk hanyalah permainan kampung yang remeh. Namun di balik kesederhanaannya, ia menyimpan nilai kebangsaan yang mendalam. Ia mengajarkan perjuangan, melatih kesabaran, menumbuhkan tawa kebersamaan, dan merawat tradisi di tengah perubahan zaman.

Kerupuk yang rapuh itu ternyata mampu menjadi simbol ketangguhan bangsa. Tawa yang lahir darinya menguatkan persatuan. Maka setiap kali kita menyaksikan lomba ini di bulan Agustus, sesungguhnya kita sedang merayakan lebih dari sekadar permainan. Kita sedang merayakan identitas bangsa Indonesia yang merdeka, bersahaja, dan selalu mampu menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni