Opini

Kelilipan: Sepele tapi Jangan Disepelekan

30
×

Kelilipan: Sepele tapi Jangan Disepelekan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Kelilipan tampak sepele, tapi bisa berujung pada tindakan medis. Lebih dari itu, ada pelajaran berharga tentang kehati-hatian dan refleks hidup.

Oleh Jamaluddin; Dokter Spesialis Mata, Tinggal di Kamal, Madura

Tagar.co – Mata adalah organ yang luar biasa. Sebagai indera penglihatan, ia memiliki mekanisme perlindungan alami, salah satunya melalui gerakan berkedip.

Setiap hari, kita berkedip ribuan kali tanpa menyadarinya. Frekuensi normalnya berkisar antara 15–20 kali per menit, dengan satu kedipan berlangsung sekitar 100–150 milidetik. Kecepatan ini memungkinkan mata tetap lembab, terlindungi dari debu, serta menjaga kejernihan penglihatan.

Baca juga: Oplosan: Antara Kreativitas dan Manipulasi

Sekarang, bayangkan jika mata kita mogok berkedip. Apa yang akan terjadi? Mata akan terasa kering, mudah iritasi, dan rentan terhadap gangguan luar. Namun, meskipun berkedip adalah refleks alami yang sangat cepat, tetap saja ada momen di mana benda asing lebih gesit masuk ke mata sebelum kita sempat berkedip. Inilah yang disebut kelilipan.

Sekejap, tapi …

Kelilipan terjadi saat benda asing superkecil masuk ke dalam mata, bisa mengenai kornea (bagian bening depan mata) atau konjungtiva (selaput transparan yang melapisi bagian putih mata dan kelopak dalam).

Baca Juga:  Generasi Menunduk dan Ironi Board of Peace

Dalam praktik medis, saya sering menemui kasus kelilipan akibat serpihan kecil besi dari aktivitas menggerinda. Secepat apa pun refleks mata berkedip, tetap saja ada partikel kecil yang melesat lebih cepat. Akibatnya, benda asing ini bisa melukai kornea dan menyebabkan trauma permukaan mata dengan komplikasi corpus alienum.

Bagaimana Penanganannya?

Dioperasi! Ya, meskipun tergolong operasi kecil—tidak sakit karena menggunakan anestesi lokal—tetap saja ini adalah tindakan medis yang harus dilakukan oleh dokter mata. Biasanya, prosedur ini dilakukan di poli mata dengan bantuan slit lamp, bukan di ruang operasi besar.

Sebuah Pelajaran

Dari fenomena kecil ini, ada banyak hikmah yang bisa kita petik:

1. Hati-hati dalam setiap aktivitas

  • Kita sering merasa aman dalam rutinitas, tetapi risiko bisa datang kapan saja.
  • Secepat apa pun refleks mata berkedip, tetap ada kemungkinan benda asing masuk ke mata.
  • Artinya, dalam kehidupan, secepat atau sepandai apa pun kita dalam menghindari bahaya, ada saatnya kita lengah.

2. Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu bisa jatuh juga

  • Sepintar apa pun kita, tetap bisa melakukan kesalahan.
  • Seahli apa pun kita, tetap ada momen kita kalah oleh keadaan.
  • Sekuat apa pun kita, tetap bisa terkena “batu”-nya.
Baca Juga:  Generasi Menunduk dan Ironi Board of Peace

Sebagai contoh:

  • Seorang pengemudi handal tetap bisa mengalami kecelakaan jika lalai sedetik saja.
  • Seorang atlet profesional tetap bisa cedera meskipun sudah berlatih bertahun-tahun.
  • Seorang dokter berpengalaman tetap bisa membuat kesalahan jika terlalu percaya diri tanpa kehati-hatian.

3. Kehati-hatian adalah kunci dalam segala hal

  • Tidak hanya dalam pekerjaan atau aktivitas fisik, tetapi juga dalam menjaga hati dan niat kita.
  • Misalnya, kita bisa beramal dengan penuh keikhlasan, tetapi bisa saja tergoda oleh pujian atau riya’ di kemudian hari.
  • Godaan selalu ada, dan jika kita tidak waspada, amal yang awalnya ikhlas bisa berubah menjadi tidak murni lagi. Nauzubillah.

Waspada dan Berdoa

Kelilipan mungkin terlihat sepele, tetapi jangan disepelekan. Ia bisa menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan, tidak ada yang benar-benar bebas dari risiko. Oleh karena itu, kehati-hatian harus selalu dijaga, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Semoga kita selalu dalam zona aman, terlindungi dari bahaya yang terlihat maupun yang tersembunyi. Tentu saja, semua ini harus dibarengi dengan doa kepada Allah Swt, karena hanya Dia yang mampu menjaga kita dengan sempurna.

Baca Juga:  Generasi Menunduk dan Ironi Board of Peace

“Ya Allah, lindungilah kami dari kelalaian, baik dalam menjaga diri maupun menjaga niat dalam beramal.” Amin. (#)

Penyuntingg Mohammad Nurfatoni