FeatureUtama

Kajian Ramadan PWM Jatim di Umla: Meretas Jalan Baldah Tayibah untuk Kemajuan Negeri

47
×

Kajian Ramadan PWM Jatim di Umla: Meretas Jalan Baldah Tayibah untuk Kemajuan Negeri

Sebarkan artikel ini
Kampus Universitas Muhammadiyah Lamongan (Foto Facebook Umla)

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur akan menggelar Kajian Ramadan 1446 di Universitas Muhammadiyah Lamongan, mengupas konsep Baldah Tayibah sebagai refleksi kebangsaan bersama ulama, akademisi, dan pemimpin bangsa.

Tagar.co – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur akan menggelar Kajian Ramadhan 1446 pada 8 Ramadan 1446 atau 8 Maret 2025, di Dome Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla).

Mengusung tema Baldah Tayibah, Refleksi untuk Negeri, kegiatan ini menghadirkan tokoh-tokoh penting di bidang keislaman, akademik, serta pemerintahan.

Sekretaris PWM Jatim Prof. Biyanto, M.Ag., menjelaskan tema tersebut diangkat sebagai rangkaian dari tema Milad Ke-112 dan Tanwir Muhammadiyah di Kupang, 3-6 Desember 2024 silam. Waktu itu, tema yang diangkat PP Muhammadiyah adalah “Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua”.

“PWM Jawa Timur lebih jauh ingin mengkaji konsep negara yang baik (baldah tayibah) dalam Al-Qur’an dan sejarah panjang perjalanan umat Islam,” jelasnya pada Tagar.co, melalui pesan WhastApp, Rabu (5/3/25) siang.

Dia menerangkan, konsep itu merujuk pada Al-Qur’an Surah Saba’ Ayat 15 tentang baldatun tayibatun warabun gafur.

“Pertanyaannya, bagaimana konsep ini diimplementasikan dalam sejarah perjalanan umat Islam. Seperti diketahui, dalam sejarah perjalanan itu umat Islam pernah mengalami masa kejayaan atau keemasan dan kemunduran,” ujar Staf Ahli Bidang Regulasi dan Antar Lembaga Kemendikdasmen itu.

Dengan begitu, lanjutnya, kita ingin mengkaji, konsep baldah tayibah pada masa lalu sehingga melahirkan negeri yang mampu menyejahterakan dan memakmurkan rakyatnya. Juga negeri yang rakyatnya religius dan beradab sehingga memperoleh ampunan Allah Swt. Termasuk dalam hal ini penting dipelajari: mengapa suatu negara yang sejahtera dan makmur itu kemudian mengalami kejatuhan, kemunduran, dan dihancurkan Allah Swt.

Menurut dia, pelajaran-pelajaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan pengalaman sejarah itu sangat penting untuk dijadikan refleksi bagi negeri tercinta. Negeri Saba’ yang rakyatnya sangat makmur dan sejahtera akhirnya berubah menjadi negeri yang menderita dan miskin.

Baca Juga:  Hisab Dituding Menyimpang dari Sunah—Benarkah?

“Sebagai bagian dari warga bangsa ini, kita tentu tidak ingin mengalami nasib yang sama dengan Negeri Saba. Karena itu, perlu dikaji komponen-komponen penting dari konsep baldah thayyibah itu untuk menjadi referensi bagi para pemimpin negeri tercinta. Apalagi negeri tercinta sedang menghadapi berbagai persoalan yang kompleks,” ungkapnya.

Soal penentuan Umla sebagai tempat kajian, Prof Bi, sapaannya, menjelaskan, hal itu bermula dari penunjukkan Ketua PWM Jatim Dr. dr. Sukadiono, M.M., waktu menyampaikan sambutan pembukaan Kajian Ramadhan 1445 di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, yang langsung menunjuk Umla sebagai host Kajian Ramadhan 1446.

“Tantangan ini disambut Rektor Umla Dr. A. Aziz Alimul Hidayat, M.Kes. dengan senang hati. Dukungan Badan Pembina Harian (BPH) Umla dan PDM Lamongan juga luar biasa. Dalam dua kali koordinasi dengan panitia lokal Umla, BPH Umla, dan PDM Lamongan, PWM Jatim sangat percaya Umla mampu menjadi tuan rumah yang baik sehingga kegiatan berlangsung sukses,” jelas Prof. Bi.

Dia menambahkan, pembangunan Dome Umla yang akan menjadi pusat kegiatan juga menunjukkan perkembangan yang meyakinkan. Sekitar 3.000 peserta dan panitia akan menyaksikan perhelatan Kajian Ramadan dengan peserta terbanyak setelah musim pandemi. “PWM Jatim mengucapkan terima kasih pada pimpinan Umla, BPH Umla, dan PDM Lamongan,” ucapnya.

Jadwal Acara

Sesuai dengan Jadwal Acara yang diterima Tagar.co, Selasa (4/3/25), kajian ini akan diawali sejak pukul 07.00 WIB dengan registrasi peserta dan dilanjutkan dengan pembukaan. Selain sambutan dari A. Aziz Alimul Hidayat dan Sukadiono acara ini juga akan menampilkan peluncuran buku sebagai bagian dari upaya Muhammadiyah dalam menyebarkan gagasan keislaman yang berbasis ilmu pengetahuan.

Baca juga: Ketua PWM Jatim: Allah Angkat Derajat Muhammadiyah

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si, akan membuka kajian ini dengan sebuah keynote speech bertajuk “Kiprah Muhammadiyah dalam Mewujudkan Baldah Tayibah”. Sebagai pemimpin tertinggi Muhammadiyah, pemikiran Haedar Nashir selalu menekankan pentingnya membangun peradaban Islam yang membawa maslahat bagi negeri.

Baca Juga:  Bumi kian “Mendidih”, Din Syamsuddin Ajak Umat Islam Perlakukan Alam sebagai Subjek

Dua sesi diskusi panel akan menjadi inti kajian ini, dengan menghadirkan berbagai narasumber dari kalangan ulama, akademisi, dan pemimpin bangsa.

Menggali Konsep Baldah Tayibah dalam Perspektif Islam dan Sejarah

Pada sesi Panel I, diskusi akan berfokus pada konsep Baldah Tayibah dalam Al-Qur’an dan Sunah, serta bagaimana nilai-nilai tersebut terefleksi dalam sejarah umat Islam. Dr. M. Saad Ibrahim, M.A., yang merupakan Ketua PP Muhammadiyah, akan mengulas bagaimana Al-Qur’an memberikan gambaran tentang negeri yang baik serta syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu bangsa bisa mencapai kondisi tersebut.

Sementara itu, Prof. Achmad Jainuri, MA., Ph.D., Penasihat PWM Jawa Timur, akan membahas bagaimana realitas umat Islam di berbagai belahan dunia mencerminkan atau bertentangan dengan konsep ini. Bagaimana umat Islam dahulu mampu membangun peradaban yang unggul dengan prinsip-prinsip Baldah Tayibah? Dan mengapa kini banyak negeri Muslim yang justru berada dalam kondisi yang bertolak belakang dengan konsep ini? Diskusi ini akan dipandu oleh Dr. Syamsudin, M.Ag, Wakil Ketua PWM Jatim.

Setelah sesi pertama ini, peserta akan diberikan waktu untuk istirahat dan salat Zuhur berjemaah sebelum memasuki sesi diskusi kedua.

Refleksi Baldah Tayibah dalam Konteks Dunia Islam dan Indonesia

Memasuki Panel II, pembahasan akan lebih mengarah pada kondisi terkini dunia Islam serta refleksi konsep Baldah Tayibah dalam membangun negeri. Drs. Hajriyanto Y. Thohari, MA., yang saat ini menjabat sebagai Duta Besar LBBP RI untuk Lebanon, akan berbagi perspektifnya mengenai tantangan yang dihadapi negeri-negeri Muslim saat ini.

Sementara itu, Prof. M. Din Syamsudin, MA., Ph.D., yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015, akan mengajak peserta untuk merefleksikan konsep ini dalam konteks Indonesia. Apakah Indonesia telah memenuhi kriteria Baldah Tayibah? Apa yang bisa dilakukan oleh umat Islam agar negeri ini semakin mendekati cita-cita tersebut?

Baca Juga:  Fatwa Tarjih: Dam Bisa Disembelih di Tanah Air

Diskusi ini akan dimoderatori oleh Prof. Ir. M. Sasmito Djati, M.S., seorang akademisi yang juga Wakil Ketua PWM JAtim.

Menjelang Buka Puasa: Dialog dengan Pemimpin Bangsa

Setelah panel diskusi selesai, peserta akan diberikan waktu untuk beristirahat sejenak sebelum memasuki sesi Kajian Jelang Berbuka. Pada sesi ini, berbagai pemimpin akan memberikan pandangan mereka, termasuk:

  1. Rektor Umla, Dr. A. Aziz Alimul Hidayat, M.Kes.
  2. Ketua PWM Jawa Timur, Dr. dr. Sukadiono, M.M.
  3. Gubernur Jawa Timur, Dr. (HC) Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si.

Acara ini menjadi istimewa karena menghadirkan langsung pemimpin daerah dalam diskusi keislaman yang berbobot. Bagaimana pemerintah daerah melihat peran Muhammadiyah dalam membangun negeri? Bagaimana konsep Baldah Tayibah bisa diimplementasikan dalam kebijakan publik? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam sesi ini.

Sebagai penutup sebelum berbuka, H. Shodikin, M.Pd., yang merupakan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, akan menyampaikan Hikmah Ramadan, sebuah refleksi spiritual yang akan memberikan pencerahan bagi seluruh peserta.

Penutupan dan Buka Puasa Bersama

Setelah seharian penuh berdiskusi dan menggali makna Baldah Tayibah, acara akan ditutup dengan buka puasa bersama dan salat Magrib berjemaah. Suasana kebersamaan ini menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah Islamiah dan semakin mengukuhkan peran Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagi yang tidak dapat hadir langsung, kajian ini juga akan disiarkan melalui Umla TV, sehingga masyarakat luas tetap dapat mengikuti dan mengambil manfaat dari diskusi ini. (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni