Rileks

Hujan Deras Berakhir, Siap Saksikan Pesona Alpha Male Silent

82
×

Hujan Deras Berakhir, Siap Saksikan Pesona Alpha Male Silent

Sebarkan artikel ini
Di bawah langit kelabu, rombongan wisatawan memulai petualangan hari kedua di Sungai Sekonyer Taman Nasional Tanjung Puting. Saat hujan deras berakhir, mereka siap bertemu orang utan alpha male Silent yang malu-malu tapi karismatik.
49 kelotok berjajar parkir di sekitar depan gerbang menuju feeding camp 2 Pondok Tanggui, Sabtu (28/6/2025). (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Di bawah langit kelabu, rombongan wisatawan memulai petualangan hari kedua di Sungai Sekonyer Taman Nasional Tanjung Puting. Saat hujan deras berakhir, mereka siap bertemu orang utan alpha male Silent yang malu-malu tapi karismatik.

Tagar.co – Hari kedua bertualang di jantung Sungai Sekonyer–sungai sepanjang 45 kilometer yang membelah Taman Nasional Tanjung Puting di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah–dimulai dengan fajar yang berawan. Semburat langit merah muda dan abu-abu tampak malu-malu di balik celah gumpalan awan, Sabtu (28/6/2025).

Pemandangan ini tercermin indah di permukaan sungai yang tenang, tanpa riak air karena kelotok masih bersandar di pinggir sungai. Tali tambang masih terikat kuat di pohon terdekat yang mencuat, memastikan kelotok tak bergeser dari titik parkirnya. Kelotok kami mengapung di seberang Feeding Camp 2: Pondok Tanggui. Ada dua kelotok lain yang juga parkir berdekatan.

Padahal saya bangun sejak pukul 3.15 WIB sambil menenun doa, berharap semburat matahari terbit muncul indah di langit pagi. Nyatanya, hingga jam 5.00 WIB, langit masih memilih berselimut. Awan menggantung rendah.

Sebelum menjelajah hutan, kami wajib mengisi energi. Acil (Bahasa Banjar untuk tante) Masnih awalnya menyajikan pempek hangat lengkap dengan dua mangkuk berisi cuko. Salah satu anggota rombongan open trip drg. Anissa Wiranti dari Palembang, Sumatera Selatan, membawa makanan khas itu.

“Akhirnya,” kata kami kompak. Sejak kemarin sore, kami sudah membayangkan makan pempek di atas kelotok tiga lantai itu. Mata saya tentu berbinar. Siapa sangka bisa melahap jajanan favorit di antara hutan hujan tropis. Obrolan di meja makan pagi pun mengupas referensi merek pempek yang lezat.

Di bawah langit kelabu, rombongan wisatawan memulai petualangan hari kedua di Sungai Sekonyer Taman Nasional Tanjung Puting. Saat hujan deras berakhir, mereka siap bertemu orang utan alpha male Silent yang malu-malu tapi karismatik.
Rombongan open trip menikmati sarapan di lantai 2 kelotok, Sabtu (28/6/2025). (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Menu Sarapan Lengkap

Selain itu, Acil Masnih juga menyajikan sepiring nasi goreng, telur mata sapi, dan timun. Roti bakar plus dua pilihan selai juga ada, tapi kami kompak memilih nasi.

Untuk minuman, dibantu putranya Raju, Acil Masnih menyajikan segelas air jeruk segar. Tidak hangat maupun dingin. Pasalnya, semalam kami memang hampir tidak ada yang mencicipi buah jeruk yang telah kru suguhkan.

Baca Juga:  Psikolog Eko Hardi Ansyah Membedah Segitiga Sukses Ahmad Dahlan

Kalau mau bikin teh atau kopi sendiri juga bisa. Sudah tersedia seperangkat cangkir lengkap dengan teh, kopi, gula, dan air hangat.

Sambil makan, saya membayangkan serunya bertemu orang utan di camp kedua. Kata pemandu wisata yang akrab dengan sapaan Rusmin, karakter orangutan di tiap feeding camp berbeda. Rasanya sudah tidak sabar.

Hujan Deras

Lantas Allah memutuskan untuk menumpahkan hujan deras. Di tengah lahap makan pempek, saya perlu menggeser kursi karena ternyata tepat di atas saya bocor. Hanya saya yang kena bocor, lainnya aman. Mungkin bergantung amal ibadah, hehee.

Saya tetap bersyukur bisa menikmati pemandangan berkabut oleh hujan yang memberikan sensasi magis tersendiri. Di kejauhan, satu per satu kelotok lain mulai berdatangan ketika waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB. Bersiap ramai, sebab rombongan kami bukan satu-satunya penjelajah hari ini.

“Tiduran dulu ya atau HPan kalau ada sinyal. Kalau hujan gini, orang utan sama kayak kita, punya insting berlindung. Sama saja di sana kita juga menunggu hujan reda,” terang Rusmin bersambut riuh rombongan. Dia tak bercanda soal ini.

Terbersit kecewa di antara kami bersebelas. Namun kami hanya bisa merapal doa, agar hujan bergeser atau berhenti sehingga memungkinkan kami trekking ke hutan. Doa kami baru terkabul pukul 8.55 WIB. Langit perlahan kembali berwajah cerah. Sementara kelotok lain kian berdatangan.

Berselang 15 menit, dengan ikut menumpang kelotok sebelah karena kelotok kami terjepit oleh kelotok lain, akhirnya bisa menginjakkan kaki lagi di camp kedua. Melangkah dari satu kelotok ke kelotok lain bukan pengalaman baru.

Di musim liburan yang banyak wisatawan seperti ini, permukaan sungai bisa penuh kelotok yang parkir berjajar di sekitar gerbang masuk camp. Alhasil, untuk mencapai seberang hutan, perlu melewati kelotok yang tengah parkir.

Baca Juga:  Risma: Perempuan Tak Perlu Takut saat Berniat Baik
Di bawah langit kelabu, rombongan wisatawan memulai petualangan hari kedua di Sungai Sekonyer Taman Nasional Tanjung Puting. Saat hujan deras berakhir, mereka siap bertemu orang utan alpha male Silent yang malu-malu tapi karismatik.
Rusmin menjelaskan informasi yang ada di papan tepi jembatan sepulang dari menyaksikan orang utan di Pondok Tanggui. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Orang Utan Pertama

Di dekat pos penjaga, setelah berjalan menyusuri jembatan kayu selama lima menit, kami langsung bertemu seekor Pongo pygmaeus (Orang utan Kalimantan). Beruntung sekali! Kami tiba bersamaan dengan ranger–sebutan untuk staf yang bertugas membawakan makanan untuk orang utan–yang mau berangkat ke feeding camp.

Pengunjung yang tiba bersamaan dengan kami pun terpesona dengan kecerdasan hewan berambut oranye kecokelatan ini. Mereka langsung mengacungkan ponsel untuk merekam makhluk yang berDNA 97% sama dengan manusia tersebut.

Pasalnya, great ape (kera besar) ini hafal kapan ranger berangkat membawa makanan untuknya. Ia pun melangkah gesit menerobos pepohonan, lalu naik bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya.

Saya sempat melangkah seirama dengan orang utan itu tapi lantas sulit mengimbangi kegesitannya. Langkah ranger tak kalah cepat. Padahal saya sudah berusaha berjalan cepat, tak mau ketinggalan momentum berharga menyaksikan orang utan sarapan.

Kata Rusmin, ranger hanya memberi makanan tambahan itu sekali dalam sehari. Mengingat orang utan di sana baru dilepasliarkan. Proses rehabilitasi ini harapannya menumbuhkan insting liar mereka.

“Selebihnya mereka cari makanan sendiri di hutan,” imbuh Rusmin yang selalu ramah menjawab segala pertanyaan kami.

Di bawah langit kelabu, rombongan wisatawan memulai petualangan hari kedua di Sungai Sekonyer Taman Nasional Tanjung Puting. Saat hujan deras berakhir, mereka siap bertemu orang utan alpha male Silent yang malu-malu tapi karismatik.
Silent, alpha male orang utan di Camp 2 Pondok Tanggui, Taman Nasional Tanjung Puting. (Tagar.co/Anissa Wiranti)

Datang Silih Berganti

Setibanya di feeding camp–tempat pemberian makanan–jajaran kursi kayu sudah penuh wisatawan lokal maupun asing. Saya menyelinap di antara bule yang tinggi-tinggi, lalu duduk di kursi kayu paling depan. Tersisa celah kecil, cukup untuk saya yang tergolong mungil jika dibandingkan dengan bule. Banyak di antara mereka bersiap memotret pakai kamera tele.

Orang utan yang termasuk hewan arboreal, selalu datang dari pucuk-pucuk pepohonan. Bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain. Warna tubuh mereka yang mencolok memungkinkan tetap terlihat dari kejauhan meski mereka sembunyi di antara dedaunan.

Awalnya ada orang utan remaja yang malu-malu menuju panggung kayu tempat makanan digelar. Ia menikmati beberapa ubi dan pisang di sana sambil duduk bersila. Orangutan betina lain datang bergabung di jamuan makan pagi itu dengan menggendong anak.

Baca Juga:  Taawun Napas Gerak Muhammadiyah

Berselang sepuluh menit, mereka segera memasukkan ke mulutnya dan menggenggam beberapa sebagai bekal untuk lanjut mereka nikmati di atas pepohonan. Mereka makan dengan cemas karena alpha male–individu jantan dewasa yang dominan dalam suatu wilayah di camp tersebut–tampaknya segera muncul.

Kemudian, justru ibu dan anak orang utan yang datang. Pengunjung kembali terpana sampai beberapa lupa mengeluarkan suara keras. Di sana telah ada imbauan untuk tenang dan menghormati orang utan di rumah aslinya, hutan Kalimantan.

Pasangan ibu-anak muncul lagi tak lama setelahnya. Selama 12 menit mereka khusyuk menikmati makanan, selama itu pula decak kagum terdengar. Tingkah anaknya yang selalu menempel dengan sang ibu sambil sesekali mengambil makanan terdekat memang menggemaskan.

Pesona Silent

Hingga akhirnya Silent mendekat. Panggung seketika kosong, seolah hanya tersedia untuk alpha male yang baru menjabat 8 bulan itu. Tak seperti lainnya yang datang dari atas pepohonan, Silent berjalan menapak tanah perlahan.

Silent pantas terpilih sebagai alpha male karena memiliki cheek-pad atau flange (bantalan pipi) lebar dan melengkung. Dia duduk anggun setengah miring, menyangga tubuh besarnya dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya lincah memilih makanan lalu memasukkan ke mulutnya.

Sebelum makan, ia sesekali mengedarkan pandangan ke penonton maupun hutan di sekitarnya. “Beda karakter memang. Karena masih baru, Silent masih malu-malu, tolah-toleh dulu,” terang Rusmin.

Silent satu-satunya alpha male yang terlambat tiba di feeding camp. Mungkin ia masih mengitari hutan untuk menjalankan perannya sebagai penjaga teritori.

Usai puas menyaksikan Silent makan selama sepuluh menit, kami memutuskan kembali ke kelotok. Bersiap memulai petualangan berikutnya. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni