
Memperingati Hari Guru Nasional, kita belajar dari kisah Nabi dan catatan Hamka tentang sejarah, akhlak, dan iman. Sebuah pengingat bagi guru untuk terus menanamkan nilai-nilai luhur melalui sejarah dan kisah bermakna.
Oleh M. Anwar Djaelani, peminat pendidikan
Tagar.co – Tiap saat kita harus menghormati guru. Hanya saja, sikap kita bisa lebih istimewa saat memperingati Hari Guru setiap tanggal 25 November. Kita muliakan guru karena perannya yang besar dalam membersamai para murid.
Al-Qur’an adalah materi utama yang harus diajarkan guru. Nabi Saw, Guru Utama kita, memberikan perhatian yang besar terhadap pendidikan Al-Qur’an, khususnya untuk kalangan anak-anak.
Menurut Alwi Al-Maliki, hal itu bertujuan untuk mengarahkan mereka agar berkeyakinan bahwa sesungguhnya Allah itu Tuhannya dan Al-Qur’an pedoman hidupnya. Juga, bertujuan agar Al-Qur’an senantiasa tertanam pada jiwa mereka. Lalu, cahaya Al-Qur’an memancar pada pemikiran, pandangan, dan indera mereka. Bertujuan pula agar mereka menerima akidah-akidah Al-Qur’an sejak dini.
Baca juga: Menatap Guru Hebat, Berdampak Indonesia Kuat
Dari banyak materi pembelajaran, Nabi Saw. memperhatikan peristiwa-peristiwa sejarah dan kisah-kisah umat yang hidup dahulu kala. Beliau meluangkan waktu khusus dalam menuturkannya kepada para Sahabat.
Hal itu sejalan dengan perintah Allah dalam Surah Ibrahim 3 yang pada pokoknya mengingatkan tentang peristiwa-peristiwa penting yang telah terjadi, seperti turunnya azab dan siksa Allah bagi umat-umat dahulu karena ingkar.
Dengan penjelasan ini, kita dapat menyusuri jalan lurus yang tidak menyimpang dari tuntunan agama. Dalam ilmu sejarah dibahas kondisi umat terdahulu beserta catatan tokoh-tokohnya secara lengkap. Juga, terdapat pelajaran dari keruntuhan dan kebangkitan suatu kaum.
Lebih jauh, diharapkan saat anak-anak beranjak dewasa, mereka senantiasa mencintai Al-Qur’an, terus berinteraksi dengannya, menjalankan perintah-perintahnya, dan menjauhi larangan-larangannya. Intinya, mereka berakhlak seperti akhlak Al-Qur’an serta berjalan di atas prinsip-prinsipnya (Alwi Al-Maliki, Prinsip-prinsip Pendidikan Rasulullah, Jakarta: Gema Insani Press, 2002: 29 dan 42).
Terkait itu, Nabi Saw memang kerap menyampaikan kisah-kisah. Kisah dijadikan oleh Nabi Saw sebagai media untuk membantu menjelaskan suatu pemikiran dan mengungkapkan suatu masalah. Kisah-kisah yang berasal dari Nabi Saw selalu lengkap karena mengandung banyak manfaat dan mengajarkan berbagai masalah.
Ada kisah yang bertalian erat dengan tauhid, yang melalui kisah itu Nabi Saw menerangkan keimanan kepada Allah. Ada kisah tentang keharusan bersabar terhadap takdir dan menyerahkan secara penuh segala urusan kepada-Nya. Ada kisah tentang keutamaan bertobat dan jujur dalam pergaulan, juga tentang keutamaan tawakkal.
Di samping itu, ada kisah yang menjelaskan gambaran bagaimana orang-orang yang telah bertauhid dahulu diintimidasi, diteror, bahkan dibunuh saat berada di Jalan Allah. Ada juga kisah yang berkaitan dengan etika umum antarmakhluk, yang mengandung dasar-dasar akhlak yang luhur, berbakti kepada orang tua, bersilaturahim, berbuat baik kepada kaum dhuafa, dan sebagainya.
Kisah dari Nabi Saw memiliki nilai keistimewaan karena didasarkan pada kejujuran dan nonfiksi peristiwanya, bukan khayalan pelakunya. Kisah yang disampaikan tidak bercampur dengan hawa nafsu. Ceritanya merupakan wahyu yang disampaikan kepada Nabi Saw.
Dengan demikian, kisah-kisah dari Beliau Saw bukanlah sembarang kisah, melainkan kisah yang memiliki tujuan serta target tinggi dan jelas. Kisah-kisah itu mengandung rangkaian faedah secara lengkap, mencakup seluruh etika terpuji (Alwi Al-Maliki, 2002: 94-95).
Di samping arahan dari Rasulullah Saw di atas, ada ayat Al-Qur’an yang senada dengan hal itu. Perhatikan (terjemah) ayat ini: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (Yusuf: 111).
Dengan demikian, mengingat bahwa menyampaikan sejarah dan/atau kisah sangat penting di hadapan Allah, Rasulullah Saw, maka semua guru harus mempedulikannya. Guru harus memiliki persediaan materi sejarah dan/atau kisah yang banyak dan baik. Materi itu bisa disampaikan kepada murid.
Pelajaran dari Hamka
Aspek dalam sejarah itu banyak. Salah satunya, bahwa iman seseorang atau sebuah kaum bisa berkurang atau bertambah. Misalnya, bisa saja berangkat dari pertanyaan ini: Apakah dengan semata-mata taat mengerjakan ibadah seseorang sudah bisa disebut Mukmin, atau apakah hanya karena telah meninggalkan kejahatan seseorang sudah boleh disebut Mukmin? Belum tentu, sebab iman itu adalah kemuliaan yang mahal harganya (Hamka, Tasawuf Modern, Jakarta: Republika, 2020: 74).
Semua manusia diuji, termasuk para Nabi. Siapa yang lebih susah dibanding Nabi Adam Saw? Dia di dalam surga senang bersama istri, tapi kemudian disuruh keluar. Siapa yang lebih menderita dibanding Nabi Nuh As yang menyeru umat kepada Islam, tetapi anaknya sendiri tidak mau mengikuti.
Siapa yang lebih menderita dibanding Nabi Ibrahim As yang disuruh menyembelih anaknya sendiri? Lihatlah Nabi Ya’qub As yang dipisahkan dari Yusuf sang putra, sementara belakangan Yusuf As diperdaya oleh seorang perempuan.
Perhatikanlah, Nabi Ayub As ditimpa penyakit yang parah. Nabi Daud As dan Nabi Sulaiman As kena bermacam-macam fitnah. Demikian juga Nabi Zakaria As dan Nabi Yahya As yang sampai mengorbankan jiwa mereka. Nabi Isa As, ujiannya juga berat. Tentu, ujian Nabi Muhammad Saw lebih hebat lagi.
Pernahkah mereka mengeluh? Tidak! Hal ini karena mereka yakin bahwa kepercayaan kepada Allah menghendaki perjuangan dan keteguhan. Mereka tidak menuntut kemenangan lahiriyah sebab merasa selalu menang.
Mereka, para Nabi, menempuh berbagai kesusahan dan menghadapinya dengan sabar. Pertama, ini membuktikan cinta terhadap Allah. Kedua, bagian dari proses menggembleng batin. Ketiga, karena rasa kasih dan sayang kepada segenap umat.
Alhasil, pelajaran besar bisa kita ambil. Dengan melihat performa para Nabi, apa yang akan kita keluhkan? Bukankah cobaan para Nabi itu sangat berat?
Mari tempuh liku-liku hidup. Mari berjuang. Mari bersabar dan bertawakal. Mari berani meneladani para Nabi saat menghadapi ujian (Hamka, Tasawuf Modern, Republika, Jakarta, 2020: 79-80).
Selamat, Selamat!
Selamat Hari Guru, 25 November 2025. Semoga para guru istiqomah di jalan kebaikan, yaitu menjadi pendidik yang tekun dan sabar. Untuk itu, antara lain, terus usahakan menyampaikan materi sejarah dan/atau kisah kepada murid. Tentang cara dan waktu, insya Allah para guru punya kiat masing-masing.
Duhai semua guru, selamat berjuang! (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












