
Guru adalah fondasi bangsa. Tanpa guru hebat, kurikulum hanyalah dokumen dan generasi emas hanya jargon. Penghargaan, kesejahteraan, dan pengembangan guru menjadi kunci Indonesia kuat dan berdaya saing global.
Oleh. Prof Triyo Supriyatno Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Tagar.co -Dalam diskursus pendidikan nasional, satu frasa terus berulang di berbagai forum, seminar, hingga ruang-ruang kelas: guru adalah ujung tombak pendidikan. Namun dalam praktik kebijakan, guru sering kali menjadi pihak yang paling terbebani, paling tersisihkan, dan paling tidak dihargai secara proporsional. Padahal, tidak ada negara yang maju tanpa guru yang dihormati.
Jepang bangkit pascaperang dengan memuliakan guru. Finlandia membangun pendidikan kelas dunia dengan memberi otonomi dan kepercayaan luas kepada guru. Indonesia, bila ingin melompat menjadi bangsa besar, harus menempatkan guru sebagai fondasi strategis pembangunan nasional.
Karena itu, Guru Hebat, Indonesia Kuat bukan sekadar slogan—ia adalah rumus peradaban.
Pertama, guru adalah pemroduksi kualitas manusia. Di tengah dinamika dunia yang ditandai kecerdasan buatan, transformasi digital, dan kompetisi global yang semakin ketat, sumber daya manusia menjadi modal utama.
Mesin dapat menggantikan pekerjaan administratif, aplikasi dapat mengajarkan materi akademik, tetapi tidak ada teknologi yang mampu mengganti sebuah hal yang hakiki: sentuhan kemanusiaan dari seorang guru. Guru membentuk karakter, mengajarkan nilai, menanamkan kejujuran, membangkitkan rasa ingin tahu, dan menanamkan integritas. Teknologi hanya alat; guru adalah ruhnya. Oleh karena itu, investasi pada guru sesungguhnya adalah investasi pada masa depan bangsa.
Kedua, guru hebat bukan hanya guru yang menguasai materi pelajaran, tetapi guru yang memiliki kompetensi pedagogis, emosional, dan moral. Ketika seorang guru mampu menciptakan kelas yang inklusif, menghargai perbedaan, menumbuhkan keberanian untuk berpendapat, dan membangun budaya belajar yang menyenangkan, di situlah pondasi Indonesia yang kuat sedang ditanam.
Sayangnya, beban administratif yang berlebihan membuat banyak guru kehilangan waktu untuk memikirkan inovasi pembelajaran. Laporan tahunan berbagai lembaga pendidikan menunjukkan bahwa tidak sedikit guru menghabiskan lebih banyak waktu mengisi dokumen ketimbang merancang bahan ajar. Pemerintah perlu serius melakukan debirokratisasi agar guru dapat kembali menjadi pengajar, bukan sekadar pengisi laporan.
Ketiga, profesionalisme guru harus dijamin secara ekonomi. Realitas di lapangan menunjukkan masih banyak guru yang menerima gaji di bawah standar hidup layak. Ada guru honorer yang digaji kurang dari Rp 500.000 per bulan—angka yang tidak cukup untuk hidup layak di zaman sekarang.
Bagaimana mungkin kita menuntut inovasi, dedikasi, dan kualitas tinggi bila kebutuhan dasar guru saja tidak terpenuhi? Model negara-negara berpendidikan unggul menunjukkan pola yang konsisten: guru ditempatkan sebagai profesi prestisius, bukan pelengkap birokrasi. Indonesia membutuhkan keberanian politik untuk menjadikan standar kesejahteraan guru sebagai prioritas nasional, bukan sekadar wacana musiman setiap Hari Guru.
Keempat, guru hebat adalah guru yang diberi ruang untuk berkembang. Pelatihan peningkatan kompetensi sering kali masih bersifat seremonial, menekankan formalitas alih-alih kebutuhan pedagogis yang nyata. Padahal, guru membutuhkan akses pada coaching, komunitas pembelajaran profesional, dan pelatihan berbasis praktik, bukan hanya seminar satu arah.
Digitalisasi harus dimanfaatkan untuk membuka kesempatan guru mengikuti pelatihan berkualitas, baik di dalam negeri maupun internasional. Indonesia memiliki jutaan guru; bila separuh saja mampu berkembang menjadi teacher-leaders, maka sekolah-sekolah di seluruh Nusantara akan menjadi pusat kemajuan, bukan hanya ruang mengajar.
Kelima, peran masyarakat harus diperkuat. Dalam budaya kita, guru sering ditempatkan pada posisi simbolis namun tidak diberi penghargaan fungsional. Guru dihormati dalam ucapan, tetapi sering dikorbankan dalam kebijakan dan keputusan struktural. Orang tua menuntut kualitas layanan, tetapi belum tentu mendukung proses pendidikan di rumah.
Sekolah ingin berinovasi, tetapi lingkungan sekitar tidak selalu memberikan rasa aman dan dukungan sosial. Padahal, keberhasilan pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Guru hanya bisa hebat bila masyarakat memberi mereka ruang untuk dihargai, bukan hanya dievaluasi.
Keenam, guru hebat adalah guruyang memegang misi moral: mencerdaskan, memperkuat karakter bangsa, dan melahirkan warga negara yang berintegritas. Dalam situasi sosial yang penuh polarisasi dan kegaduhan digital, guru adalah penjernih nalar. Di kelas, guru mengajarkan toleransi, nalar kritis, empati, dan etika.
Di saat arus disinformasi mengalir deras, guru menjadi penjaga pengetahuan. Itulah sebabnya mengapa guru bukan sekadar profesi, tetapi panggilan peradaban. Indonesia kuat bukan hanya karena ekonomi tumbuh, tetapi karena warganya mampu berpikir jernih dan bersikap dewasa—dua hal yang ditempa oleh guru.
Terakhir, menjadi bangsa yang kuat berarti berani mengambil keputusan strategis. Jika Indonesia ingin menjadi negara maju pada 2045, maka agenda pertama haruslah memperkuat kualitas guru. Tanpa guru hebat, kurikulum baru hanya akan menjadi dokumen.
Tanpa guru sejahtera, sekolah unggulan hanya menjadi mimpi. Tanpa guru dihargai, generasi emas hanya jargon. Sudah saatnya kita berhenti memuji guru dengan kata-kata, lalu melupakan mereka dalam kebijakan. Negara maju adalah negara yang memuliakan gurunya dengan tindakan nyata.
Pada akhirnya, Guru Hebat, Indonesia Kuat bukan sekadar semboyan. Ia adalah kompas moral pembangunan bangsa dan peradaban umat. Karena itu, marilah kita pastikan bahwa setiap kebijakan pendidikan, setiap anggaran, setiap reformasi, dan setiap program nasional dimulai dari satu pertanyaan sederhana: apakah ini membuat guru kita semakin hebat?
Jika jawabannya ya, maka Indonesia sedang bergerak menuju masa depan yang kuat. Jika tidak, kita sedang mengabaikan fondasi utama peradaban kita sendiri.
Selamat Hari Guru Nasional, 25 November 2025. Semoga Guru Indonesia semakin hebat dan berdampak pada Indonesia kuat. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni









