Opini

Gerakan Kemanusiaan Muhammadiyah: Dari Recehan Jumat Jadi Miliaran Rupiah

56
×

Gerakan Kemanusiaan Muhammadiyah: Dari Recehan Jumat Jadi Miliaran Rupiah

Sebarkan artikel ini
Fot dokumentasi saat Ketua Umum PP aedar Nashir (kedua dari kiri) menyerahkan bantuan senilai Rp6 miliar untuk korban banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Dari selembar edaran hingga bantuan nyata di wilayah bencana, solidaritas warga Muhammadiyah membuktikan bahwa kekuatan umat lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama.

Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.

Tagar.co – Gerakan besar tidak selalu lahir dari panggung megah atau pidato yang menggetarkan emosi. Dalam tradisi Muhammadiyah, ia justru bisa bermula dari sesuatu yang sangat sederhana: selembar surat edaran.

Instruksi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah tentang pengalihan infak Jumat untuk membantu korban bencana di Aceh dan wilayah Sumatra menjadi contoh nyata bagaimana keputusan yang ringkas dan tenang mampu menggerakkan solidaritas berskala nasional.

Dari kotak-kotak infak masjid, dari recehan jemaah, terkumpul dana hingga miliaran rupiah. Sebuah fenomena yang tidak lahir dari sensasi, melainkan dari jiwa kolektif yang telah lama ditempa.

Setiap Jumat, jemaah memasukkan uang ke kotak infak tanpa banyak pikir. Dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu rupiah—nominal kecil yang nyaris tak terasa.

Baca Juga:  Khotbah Idulfitri: Memakmurkan Masjid Pascaramadan, saatnya Jadi Pusat Solusi Umat

Namun ketika ribuan masjid Muhammadiyah melakukannya serentak, recehan itu menjelma kekuatan ekonomi yang nyata. Di sinilah hukum sosial bekerja: yang kecil pada level individu menjadi besar pada level kolektif.

Berdasarkan data Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah, dana yang terkumpul hingga pertengahan Desember 2025 telah menembus Rp80 miliar.

Selembar edaran PP Muhammadiyah berfungsi sebagai pemantik kesadaran. Ia menyatukan gerak yang tersebar, mengubah niat baik personal menjadi energi solidaritas yang terorganisasi.

Yang menarik, edaran ini diterima tanpa hiruk-pikuk. Tidak ada perdebatan terbuka, tidak ada penolakan berarti, bahkan nyaris tanpa keluhan. Warga Muhammadiyah tampak patuh—bukan karena terpaksa, melainkan karena ketaatan rasional.

Dalam kultur Muhammadiyah, keputusan pimpinan dipahami sebagai hasil ijtihad kolektif berbasis ilmu, pengalaman, dan tanggung jawab moral. Karena itu, instruksi tidak dibaca sebagai perintah birokratis, melainkan sebagai ajakan berpartisipasi dalam misi kemanusiaan.

Solidaritas terasa ringan sebab memberi bukan peristiwa insidental. Infak, zakat, dan donasi filantropi telah menjadi denyut keseharian warga Muhammadiyah. Untuk pendidikan, kesehatan, dakwah, hingga kebencanaan—semuanya mengalir tanpa kelelahan sosial. Solidaritas telah menjadi kebiasaan, bukan sensasi; disiplin sunyi, bukan letupan emosional sesaat.

Baca Juga:  Aji Damanuri Dorong Transformasi Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Umat

Baca juga: MDMC dan Wajah Islam Aplikatif di Tengah Bencana

Di balik ketenangan itu, bekerja etos ikhlas yang tidak narsistik. Gerakan infak Jumat berjalan hampir tanpa panggung. Tidak ada kewajiban memamerkan nominal, tidak ada dorongan membangun citra diri. Memberi tidak perlu diumumkan; cukup dipastikan sampai dan bermanfaat. Solidaritas pun dinikmati sebagai pengalaman batin, bukan sebagai konten sosial.

Keefektifan edaran ini juga bertumpu pada kepercayaan. Jamaah percaya karena Muhammadiyah memiliki rekam jejak panjang dalam mengelola filantropi dan penanganan bencana. Lazismu dan MDMC bukan lembaga musiman, melainkan institusi yang telah berkali-kali hadir di garis depan kemanusiaan.

Dana yang diberikan tidak berhenti di kotak amal, tetapi bergerak menjadi bantuan nyata: logistik, layanan kesehatan, hunian sementara, hingga pemulihan pascabencana.

Dari sudut pandang ekonomi Islam, infak Jumat berfungsi sebagai mekanisme redistribusi kekayaan berbasis kesadaran iman—sukarela, tetapi terlembaga; sederhana, tetapi sistemik. Dalam situasi bencana, mekanisme ini menjelma jaring pengaman sosial yang cepat dan lentur. Negara boleh hadir dengan anggaran besar, tetapi masyarakat sipil, melalui Muhammadiyah, hadir dengan kecepatan respons dan kepercayaan publik.

Baca Juga:  Mengapa Muhammadiyah Selalu Tampak “Mendahului”?

Lebih dari itu, ada dimensi teologis yang bekerja senyap: tauhid sosial. Dalam pandangan Muhammadiyah, iman tidak berhenti pada pengakuan, tetapi menuntut keberpihakan. Membantu korban bencana bukan aksi heroik, melainkan konsekuensi logis dari iman itu sendiri. Karena itu, jamaah tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa—mereka hanya menjalankan apa yang diyakini benar.

Yang juga penting, warga Muhammadiyah tidak dibebani ilusi bahwa memberi harus besar. Recehan pun bermakna. Partisipasi lebih utama daripada nominal. Kesadaran ini membuat solidaritas terasa ringan dan inklusif: setiap orang punya ruang untuk berkontribusi, dan setiap kontribusi dihargai.

Ketika recehan bertemu sistem kolektif, ia menemukan daya ungkitnya.

Akhirnya, kisah “dari selembar edaran jadi miliaran” adalah potret Islam yang hidup dan bekerja—tanpa banyak jargon, tanpa kebisingan, namun berdaya. Dari masjid-masjid sederhana, dari tangan-tangan jamaah biasa, lahirlah solidaritas yang menggurita: mengalir sunyi, tetapi menyejukkan mereka yang terluka. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni