
Melalui Program Sedekah Ilmu, Erna Kusumawati menghadirkan wajah baru Perpusda Sidoarjo — bukan sekadar tempat membaca, tapi ruang berbagi pengetahuan dan tumbuh bersama masyarakat.
Tagar.co — Acara Bedah Buku yang digelar di Aula Lantai 3 Sekretariat Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, Selasa (21/10/2025), menjadi ruang bertemunya insan literasi daerah.
Hadir di antara mereka, Erna Kusumawati, S.P., M.M., Kepala Bidang Pengolahan, Layanan, dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sidoarjo, yang selama ini dikenal sebagai penggerak inovasi literasi di kota udang tersebut.
Baca juga: Belajar Keberanian dari Luka: Dari Bedah Buku ‘Aku (Tidak) Baik-Baik Saja’
Sedekah Ilmu: Dari Buku Menuju Aksi Nyata
Erna bukan sekadar pejabat di balik meja. Ia adalah motor penggerak di balik hidupnya kembali Perpusda Sidoarjo sebagai ruang publik yang dinamis dan berdaya.
Salah satu inovasi yang ia lahirkan adalah Program Sedekah Ilmu — wadah berbagi pengetahuan yang telah berjalan lebih dari dua tahun dan terus berkembang.
“Kami ingin membangun semangat berbagi, bukan hanya lewat buku, tapi juga lewat pengalaman dan pengetahuan nyata,” ujarnya.
Melalui program ini, siapa pun dapat menjadi penebar ilmu: komunitas, profesional, tenaga kesehatan, hingga pendidik.
Mereka diundang untuk berbagi pengalaman secara sukarela. Topiknya beragam — dari konsultasi kesehatan gratis bersama dokter, bincang parenting, pelatihan menulis, hingga kewirausahaan.
Formatnya fleksibel: kadang tatap muka di ruang Perpusda, kadang melalui Zoom agar menjangkau peserta lebih luas. Semua disiapkan oleh tim Perpusda—mulai tempat, undangan, hingga publikasi kegiatan.
Literasi untuk Semua
Bagi Erna, perpustakaan bukan sekadar tempat membaca, tetapi “ruang hidup bagi masyarakat.” Ia memastikan layanan Perpusda inklusif dan ramah bagi semua, termasuk penyandang disabilitas. Akses fisik, koleksi, hingga naskah kuno disiapkan agar dapat dijangkau oleh siapa pun.
“Perpustakaan itu milik semua, tanpa kecuali,” katanya tegas.
Selain itu, Erna juga menaruh perhatian besar pada pelestarian naskah kuno. Ia dan timnya meneliti, merawat, serta mendigitalisasi koleksi agar bisa terus dipelajari generasi muda. Baginya, pelestarian bukan sekadar menyelamatkan teks lama, tetapi juga menjaga jejak sejarah dan peradaban.
Inklusif, Humanis, dan Penuh Empati
Salah satu momen paling berkesan dalam kiprahnya adalah ketika Perpusda menghadirkan pendongeng autis dalam kegiatan Sedekah Ilmu Anak. Anak-anak terlihat terpukau oleh cara bercerita sang pendongeng yang ekspresif dan tulus.
“Saya ingin membuktikan bahwa setiap anak, dengan segala keistimewaannya, punya ruang untuk berkontribusi di dunia literasi,” ungkapnya.
Baginya, literasi sejati adalah keberanian untuk membuka ruang dan hati. Dari sanalah masyarakat belajar saling memahami.
Literasi Keluarga dan Buku Anak
Erna juga aktif mengampanyekan literasi keluarga. Ia percaya, membaca sejak dini adalah investasi karakter. Buku anak, menurutnya, bukan sekadar hiburan, melainkan “jembatan imajinasi yang membentuk cara berpikir kritis.”
“Anak-anak bukan hanya perlu membaca, tapi juga belajar memahami dan mempertanyakan: kenapa penulis menulis buku itu?” tuturnya.
Ia berharap koleksi buku anak di Perpusda terus bertambah — terutama karya inspiratif dari penulis-penulis besar dunia yang bisa membuka cakrawala berpikir anak-anak Sidoarjo.
Menyuluh Ilmu, Menyemai Harapan
Kini, di bawah tangan dingin Erna Kusumawati, Perpusda Sidoarjo bukan lagi sekadar ruang penyimpanan buku. Ia menjelma rumah pengetahuan, tempat orang datang untuk tumbuh, belajar, dan berbagi.
“Kalau setiap orang mau menyedekahkan sedikit ilmunya, maka dunia ini akan menjadi ruang belajar yang tak pernah berhenti,” ucapnya menutup perbincangan, dengan senyum yang menyimpan ketulusan seorang pelayan ilmu. (#)
Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni












