
Kejahatan seksual jarang datang dengan ancaman. Ia tumbuh dari kepercayaan, empati palsu, dan kelengahan kolektif. Kasus Epstein hanyalah cermin—bukan pengecualian.
Oleh Abdul Rokhim Ashari; Guru SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur; Guru SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur
Tagar.co – Kejahatan seksual hampir tak pernah datang dengan wajah menyeramkan. Ia justru kerap hadir dalam rupa yang akrab, ramah, bahkan tampak penuh kepedulian.
Inilah pelajaran paling getir dari kasus Jeffrey Edward Epstein. Meski pelakunya telah mati, pola kejahatannya tidak pernah benar-benar hilang. Ia beradaptasi, berganti wajah, dan menyusup ke ruang-ruang yang paling kita percaya.
Hari ini, predator tidak selalu tampil kasar atau memaksa. Ia bisa hadir sebagai mentor yang perhatian, relawan yang dermawan, pelatih yang dihormati, atau teman daring yang terasa “paling mengerti”.
Baca juga: Ibu dan Gen Z: Percakapan Senyap di Tengah Dunia yang Bising
Ia tidak datang dengan ancaman, melainkan empati. Tidak memaksa, tetapi menunggu. Inilah yang dikenal sebagai grooming—proses sistematis untuk menipiskan batas, sedikit demi sedikit, hingga korban kehilangan daya menolak.
Ironisnya, banyak orang tua dan lingkungan sekitar baru tersadar ketika dampaknya telah jauh. Anak menjadi lebih pendiam, prestasi menurun, atau terlihat terikat secara emosional dengan seseorang di luar keluarga. Gejala-gejala ini sering dianggap remeh, sekadar fase lelah atau perubahan usia. Padahal, kejahatan paling berbahaya justru tumbuh dari kelengahan yang dibiarkan.
Al-Qur’an sejak lama memberi peringatan dengan bahasa yang sederhana, tetapi mendalam: “Dan janganlah kamu mendekati zina.” (Al-Isra’: 32). Larangan ini tidak berhenti pada perbuatan akhir, melainkan menyoroti proses awal—langkah-langkah kecil yang tampak wajar, tetapi sejatinya membuka pintu kerusakan yang lebih besar. Kejahatan seksual hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui kedekatan, kepercayaan, dan ketergantungan.
Berbagai riset internasional menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: pelaku kekerasan seksual terhadap anak paling sering berasal dari lingkar terdekat—orang yang dikenal, dipercaya, bahkan dikagumi.
Inilah sebabnya banyak korban memilih diam. Mereka takut tidak dipercaya, takut disalahkan, atau takut merusak nama baik keluarga dan komunitas. Diam menjadi mekanisme bertahan, meski harus dibayar dengan luka yang panjang.
Dalam konteks ini, pengasuhan tidak lagi cukup dimaknai sebagai pemenuhan kebutuhan fisik dan pendidikan formal. Al-Qur’an menegaskan, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …” (At-Tahrim: 6). Menjaga keluarga, dalam konteks hari ini, berarti membangun rumah yang aman secara emosional—rumah tempat anak bisa bercerita tanpa takut dihakimi, tempat rasa tidak nyaman dapat diungkapkan tanpa dicurigai.
Sayangnya, masih banyak keluarga yang canggung membicarakan tubuh, batasan, dan relasi yang sehat. Topik ini dianggap tabu, lalu dihindari. Padahal, pendidikan nilai tidak tumbuh dari keheningan, melainkan dari bahasa yang tepat. Anak perlu memiliki kosa kata untuk berkata, “Saya tidak nyaman,” sekaligus keyakinan bahwa suaranya akan didengar.
Di era digital, tantangan ini kian kompleks. Grooming tidak lagi membutuhkan pertemuan fisik. Ia berlangsung melalui pesan pribadi, komunitas tertutup, dan obrolan larut malam yang terasa intim. Al-Qur’an mengingatkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban (Al-Isra’: 36). Pendampingan digital karenanya bukan soal memata-matai, melainkan menyertai—hadir sebagai orang dewasa yang dapat dipercaya.
Bahaya lain yang kerap luput adalah jebakan citra. Sosok yang dermawan, religius, atau berpengaruh sering membuat kewaspadaan publik menurun. Padahal, keadilan menuntut kejernihan, bukan kekaguman. “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah penegak keadilan …” (An-Nisa’: 135). Melindungi anak menuntut keberanian untuk bersikap kritis, termasuk kepada figur yang selama ini dihormati.
Jika dilihat secara global, pola “Epstein gaya baru” hadir lintas negara. Di Amerika Utara dan Eropa Barat, modus banyak bergeser ke ruang digital. Di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, ia kerap berkait dengan ketimpangan ekonomi dan relasi kuasa.
Konteksnya berbeda, tetapi polanya sama: pelaku dari lingkar dekat, proses bertahap, dan korban yang lama bungkam. Kesimpulannya jelas—tidak ada masyarakat yang benar-benar kebal.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Solusinya tidak selalu rumit. Ia dimulai dari hal-hal paling dekat: dialog yang jujur di rumah, pendidikan tentang tubuh dan batas aman sejak dini, serta aturan yang jelas tentang hadiah dan waktu berdua.
Di sekolah dan komunitas, diperlukan standar operasional prosedur perlindungan anak yang tidak sekadar tertulis, tetapi dijalankan. Dan yang terpenting, keberanian untuk memercayai anak ketika ia berani berbicara.
Pada akhirnya, “Epstein tak pernah mati” bukan sekadar metafora. Ia adalah peringatan bahwa kejahatan bisa hadir dengan wajah paling ramah. Perlindungan anak menuntut kesadaran kolektif—di rumah, di sekolah, dan di ruang sosial.
Anak-anak tidak membutuhkan orang dewasa yang sempurna. Mereka membutuhkan orang dewasa yang hadir.
Rumah yang dialogis adalah benteng pertama. Sekolah yang tegas adalah benteng kedua. Masyarakat yang berani bersuara adalah benteng ketiga.
Diam kita hari ini bisa menjadi luka anak esok hari. Sebaliknya, keberanian kecil kita hari ini bisa menyelamatkan masa depan seseorang. Karena sejarah jarang berulang dengan nama yang sama—ia kembali dengan wajah yang lebih ramah. Dan tugas kitalah memastikan, wajah itu tidak lagi menemukan tempat. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












