
Perbedaan awal Ramadan antara Muhammadiyah dan pemerintah membuat hitungan malam ganjil tidak selalu sama. Akibatnya, ruang pencarian Lailatulqadar justru semakin luas—seolah semua malam di sepuluh hari terakhir berpeluang menjadi malam ganjil.
Oleh Abdul Rokhim Ashari Guru SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur
Tagar.co – Suasana masjid pada malam-malam terakhir Ramadan terasa berbeda. Lampu-lampu tetap menyala hingga lewat tengah malam. Beberapa jemaah bersandar di dinding sambil membuka mushaf Al-Qur’an. Ada yang terlelap sejenak sebelum bangun kembali untuk melanjutkan salat malam.
Di sudut lain, seseorang berzikir pelan dengan tasbih di tangannya. Ada pula yang menengadahkan tangan dalam doa panjang setelah salat.
Baca juga: Lailatulqadar: Malam ketika Malaikat Turun Berbondong-bondong
Semua berada dalam satu harapan yang sama: menjemput Lailatulqadar.
Malam yang oleh Al-Qur’an disebut lebih baik daripada seribu bulan itu selalu menjadi pusat perhatian pada penghujung Ramadan. Ia seperti misteri spiritual yang setiap tahun kembali dicari oleh umat Islam di seluruh dunia.
Di Indonesia, pencarian malam istimewa itu sering berjalan berdampingan dengan satu perbincangan lain yang tak kalah akrab: perbedaan kalender antara Muhammadiyah dan pemerintah.
Di sebagian rumah, percakapan sederhana kadang muncul menjelang sepuluh malam terakhir.
“Kalau menurut Muhammadiyah malam ini sudah malam ke-21.”
“Kalau menurut pemerintah masih malam ke-20.”
Percakapan seperti ini bukanlah hal baru. Sejak lama, awal Ramadan, Idulfitri, maupun awal bulan hijriah di Indonesia memang tidak selalu dimulai pada hari yang sama.
Pemerintah melalui Kementerian Agama menggunakan metode rukyat yang didukung oleh perhitungan hisab. Setiap menjelang awal bulan penting dalam kalender hijriah, sidang isbat digelar untuk memastikan apakah hilal telah terlihat atau belum.
Laporan dari berbagai titik pengamatan di seluruh Indonesia menjadi bahan pertimbangan sebelum keputusan resmi diumumkan kepada publik.
Sementara itu, Muhammadiyah mengembangkan pendekatan yang lebih sistematis melalui konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa umat Islam kini hidup dalam dunia yang semakin terhubung, sehingga diperlukan sistem kalender hijriah yang berlaku secara global.
KHGT disusun berdasarkan perhitungan astronomi modern yang sangat presisi. Dengan metode ini, awal bulan hijriah dapat diproyeksikan jauh ke depan, bahkan bertahun-tahun sebelumnya, tanpa harus menunggu proses rukyat setiap bulan.
Bagi sebagian orang, perbedaan pendekatan ini mungkin terasa membingungkan. Namun bagi mereka yang melihatnya dari perspektif sejarah keilmuan Islam, perbedaan tersebut justru menunjukkan kekayaan tradisi intelektual dalam peradaban Islam.
Sejak masa klasik, para ulama memang telah berdiskusi panjang tentang cara menentukan awal bulan hijriah. Ada yang menekankan pentingnya pengamatan langsung terhadap hilal, ada pula yang mengembangkan perhitungan astronomi sebagai instrumen ilmiah untuk menentukannya.
Di tengah perbedaan metode tersebut, ada satu hal yang tetap sama: pencarian terhadap Lailatulqadar.
Menariknya, Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan tanggal pasti turunnya malam tersebut. Nabi Muhammad Saw. justru memberikan petunjuk yang sederhana: carilah Lailatulqadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Petunjuk ini seakan mengandung hikmah yang mendalam. Lailatulqadar tidak ditempatkan pada satu malam yang pasti. Ia seolah disembunyikan agar manusia tidak hanya beribadah pada satu waktu saja, tetapi terus menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dengan ibadah yang sungguh-sungguh.
Karena itu, ketika kalender berbeda, ruang pencarian Lailatulqadar sebenarnya tetap terbuka luas.
Sebagian umat mungkin memulai sepuluh malam terakhir sedikit lebih dahulu, sementara yang lain menghitungnya dari titik awal yang berbeda. Namun pada hakikatnya mereka melakukan hal yang sama: memperbanyak ibadah, memperpanjang doa, dan berharap menjadi bagian dari orang-orang yang memperoleh keberkahan malam tersebut.
Di atas segala perhitungan manusia, Lailatulqadar tetaplah sebuah rahasia ilahi.
Ia tidak tunduk sepenuhnya pada sidang isbat. Ia juga tidak sepenuhnya terikat oleh rumus astronomi. Ia hadir pada malam yang Allah kehendaki, kepada siapa saja yang sungguh-sungguh mencarinya.
Karena itu, mungkin yang paling penting bukanlah memperdebatkan malam ke berapa Lailatulqadar jatuh menurut kalender masing-masing.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan benar-benar kita hidupkan dengan ibadah, zikir, dan doa.
Sebab bisa jadi, pada satu malam yang tampak biasa—di antara lantunan ayat yang pelan, doa yang lirih, dan sujud yang panjang—Lailatulqadar datang diam-diam.
Tanpa pernah bertanya, kita mengikuti kalender siapa. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












