Opini

Ibu dan Gen Z: Percakapan Senyap di Tengah Dunia yang Bising

70
×

Ibu dan Gen Z: Percakapan Senyap di Tengah Dunia yang Bising

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di tengah dunia yang kian bising oleh tuntutan dan layar digital, ibu dan Gen Z kerap hidup dalam satu rumah dengan bahasa yang berbeda. Percakapan senyap di antara keduanya menyimpan rindu untuk saling dimengerti dan dijaga.

Oleh Abdul Rokhim Ashari; Guru SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur

Tagar.co — Pagi itu, di sebuah rumah sederhana di sudut kota, seorang ibu berdiri sejenak di depan kamar anaknya. Pintu setengah terbuka. Dari dalam, cahaya layar ponsel memantul ke dinding, menandai hari yang baru saja dimulai—atau mungkin belum benar-benar berakhir.

Sang ibu tak banyak bertanya. Ia hanya memastikan sarapan sudah tersedia, lalu kembali ke dapur dengan langkah pelan.

Baca juga: Ibu Dulu dan Kini: Dari Letihnya Tangan hingga Tegaknya Arah Bangsa

Pemandangan seperti ini bukan cerita langka. Ia hadir di banyak rumah, terutama yang dihuni oleh Gen Z—generasi yang tumbuh bersama internet, hidup dalam ritme serba cepat, namun kerap merasa lelah bahkan sebelum hari benar-benar berjalan.

Baca Juga:  Lebaran di Ujung Penyesalan

Di antara jadwal kuliah, kerja lepas, dan tuntutan untuk selalu tampak “baik-baik saja”, banyak dari mereka berjuang dalam sunyi.

Bagi seorang ibu, dunia berjalan dengan cara yang berbeda. Ia dibesarkan oleh ritme kerja yang nyata dan terukur: bangun pagi, menuntaskan tugas, memikul tanggung jawab. Tak banyak ruang untuk membicarakan perasaan. Lelah dianggap lumrah, keluh kesah disimpan rapat.

Maka ketika anaknya mulai berbicara tentang burnout dan kesehatan mental, ibu kerap terdiam—bukan karena menolak, melainkan karena sedang berusaha memahami.

Hari Ibu hadir di tengah jarak itu. Ia bukan sekadar perayaan dengan bunga atau unggahan media sosial, melainkan momen untuk menengok ulang relasi yang perlahan berubah. Ibu dan Gen Z hidup di satu rumah, tetapi sering kali menggunakan bahasa yang berbeda. Yang satu mengekspresikan cinta lewat tindakan, yang lain melalui kata-kata dan pengakuan.

Di banyak rumah, perbedaan ini melahirkan kesalahpahaman kecil. Ibu merasa anaknya terlalu sering menyendiri. Anak merasa ibunya terlalu banyak menuntut. Padahal, keduanya sama-sama ingin dimengerti. Sayangnya, kelelahan kerap membuat niat baik gagal tersampaikan dengan utuh.

Baca Juga:  Mood Booster Pergi, Puasa Tetap Tinggal: Pelajaran Emosi bagi Gen Z

Namun, di balik perbedaan itu ada satu kesamaan mendasar: keinginan untuk saling menjaga. Ibu ingin anaknya kuat menghadapi dunia. Gen Z ingin diakui sebagai manusia seutuhnya—dengan segala rapuh dan cemasnya. Ketika keduanya mulai saling mendengar, di situlah percakapan yang sesungguhnya dimulai.

Sering kali tanpa disadari, ibu menjadi jangkar bagi Gen Z. Di tengah dunia digital yang penuh tuntutan dan perbandingan, ibu menyediakan ruang aman yang kehadirannya kerap dianggap biasa. Rumah menjadi tempat pulang—bukan untuk diadili, melainkan untuk bernapas dan beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia luar.

Sebaliknya, Gen Z perlahan belajar melihat ibunya dengan cara yang baru. Mereka mulai memahami bahwa kesabaran ibu bukanlah sesuatu yang otomatis hadir, melainkan hasil dari proses panjang. Bahwa ketenangan ibu di tengah keterbatasan adalah bentuk kekuatan yang jarang disorot, tetapi nyata.

Tak semua ibu sempurna. Tak semua percakapan berjalan mulus. Ada hari-hari ketika jarak terasa lebih lebar dari biasanya. Namun justru di sanalah proses saling belajar terjadi—ibu belajar melepas, anak belajar memahami. Relasi ini bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang bersedia bertahan dan terus merawat.

Baca Juga:  Anak Sekecil Itu kok Bisa Bunuh Diri?

Hari Ibu, dengan demikian, menjadi pengingat yang sederhana namun penting. Bahwa merawat hubungan antargenerasi adalah pekerjaan sehari-hari, bukan tugas seremonial setahun sekali. Kadang cukup dengan bertanya kabar, duduk bersama tanpa gawai, atau sekadar menemani tanpa banyak kata.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh tuntutan, pencapaian, dan perbandingan sosial, ibu dan Gen Z sesungguhnya sedang berjalan ke arah yang sama: mencari ketenangan. Dan mungkin, di sanalah makna Hari Ibu hari ini—bukan pada kemeriahan perayaan, melainkan pada upaya kecil yang konsisten untuk tetap saling mendengar dan saling menjaga. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni