Cerpen

Kanaya, Tumbuh tanpa Tergesa

76
×

Kanaya, Tumbuh tanpa Tergesa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ia sering datang terlambat, tetapi selalu tiba tepat waktu untuk mengajarkan arti peduli, mandiri, dan bertumbuh tanpa perbandingan.

Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK IT Handayani Menganti, Gresik, Jawa Timur

Tagar.co — Kanaya, gadis kecil berusia lima tahun itu, membuka pintu kelas dengan senyum yang selalu sama setiap pagi. Senyum yang membuatku tak pernah benar-benar bisa marah, meskipun ia datang terlambat hampir setiap hari. Cahaya matahari masih menggantung rendah ketika ia melangkah masuk, tas kecilnya bergoyang di pundak.

“Maaf, Ustazah. Aku terlambat lagi,” katanya pelan, seolah takut senyumnya tak cukup untuk menebus waktu.

“Kenapa hari ini?” tanyaku sambil berjongkok agar sejajar dengan matanya.

“Menunggu mama,” jawabnya singkat, lalu tersenyum lagi.

Kalimat itu tiba-tiba menarikku pada kenangan lama—tentang ibuku sendiri, yang setiap pagi berkejaran dengan waktu demi memastikan anak-anaknya berangkat sekolah dalam keadaan rapi dan siap.

Baca juga: Ibu, Restui Aku

Aku mengelus kepala Kanaya pelan. Dalam hati, terlintas niat untuk berbincang dengan ibunya selepas sekolah.

Baca Juga:  Mahar dari Sampah Masjid

Kanaya sama seperti anak-anak lain: ceria, penuh rasa ingin tahu, dan gemar bercerita. Namun ada sesuatu yang berbeda darinya. Saat teman-temannya masih sering minta ditemani ke toilet atau kebingungan memakai kaos kaki, Kanaya melangkah sendiri dengan penuh percaya diri. Ia tahu ke mana harus pergi, apa yang harus dilakukan, dan kembali ke kelas tanpa banyak suara.

“Kanaya sudah selesai?” tanyaku ketika ia masuk kembali.

“Sudah, Ustazah,” jawabnya sopan, lalu duduk rapi di tempatnya.

Sekolah kami bukan sekolah mewah. Dinding kelas sederhana, mainan pun tak berlebihan. Tetapi di tempat inilah anak-anak belajar bertumbuh sesuai tahapnya.

Tidak ada lomba siapa paling cepat. Tidak ada paksaan siapa harus lebih dulu. Setiap proses kami hormati, sekecil apa pun itu.

##

Sore itu, aku akhirnya bertemu Novita, mama Kanaya. Wajahnya tampak lelah, matanya menyimpan kegelisahan yang tak sempat ia sembunyikan.

“Ustazah,” katanya ragu, “apa yang sebenarnya harus saya lakukan untuk Kanaya?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam sejenak. Dalam keseharianku bersama Kanaya, tak ada yang terasa mengkhawatirkan. Justru sebaliknya.

Baca Juga:  Mi Sahur Pukul 02.10

Novita bercerita panjang. Tentang keluarga besar. Tentang perbandingan. Tentang sepupu-sepupu Kanaya yang sudah bisa membaca, berhitung, bahkan menghafal ini dan itu. Suaranya sedikit bergetar ketika menyebutkan bahwa ia sempat membawa Kanaya berkonsultasi ke psikiater.

Aku menatapnya lembut.

“Bu,” kataku pelan, “kita tidak sedang berlomba.”

Ia mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca.

“Kanaya itu baik sekali,” lanjutku. “Ia peduli pada teman-temannya. Kalau ada yang kesulitan, ia menolong tanpa diminta. Ia membereskan mainannya sendiri. Bahkan sering membantu saya membersihkan kelas, sementara yang lain masih harus diingatkan.”

Novita terdiam. Tangannya saling menggenggam.

“Usia lima tahun itu ya seperti Kanaya,” kataku. “Bukan yang sudah paling cepat membaca. Bukan yang paling banyak prestasi. Tapi yang tumbuh sesuai usianya.”

Ia menghela napas panjang.

“Keluarga sering lupa,” sambungku, “bahwa fondasi terpenting anak seusia Kanaya adalah karakter. Dan itu sudah ia miliki.”

Beberapa hari kemudian, aku melihat perubahan kecil. Novita tak lagi menunggu di gerbang dengan wajah tegang. Ia mulai tersenyum ketika Kanaya melambaikan tangan.

Baca Juga:  Azan Terakhir Pak Sam

Suatu pagi, seorang anak menangis karena tali sepatunya terlepas. Sebelum aku mendekat, Kanaya sudah berjongkok di hadapannya.

“Biar aku bantu,” katanya.

Tangannya kecil, gerakannya sederhana, tetapi penuh keyakinan.

Aku memandang adegan itu dari kejauhan. Tanpa pidato. Tanpa penjelasan panjang.

Di sanalah aku paham—ada cahaya yang tak selalu tampak terang, tetapi cukup untuk menuntun. Kanaya melangkah dengan caranya sendiri, menyalakan lentera kecil di sekelilingnya, dan mengajarkan kami bahwa harapan tak selalu lahir dari kecepatan, melainkan dari keteguhan menjadi diri sendiri. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni