
Ia tidak meminta mati—ia hanya kehabisan tempat untuk bercerita. Tragedi ini membuka luka sunyi tentang kemiskinan, sekolah, dan anak-anak yang terlalu dini belajar menanggung beban.
Oleh Abdul Rokhim Ashari; Guru SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur
Tagar.co – Kalimat itu pertama kali terdengar bukan dari mimbar, bukan pula dari layar televisi. Ia muncul dari obrolan santai di warung kopi pinggir jalan.
“Nggih serius iki? Anak kecil?”
Yang lain menimpali pelan, hampir berbisik, “Kok iso…”
Baca juga: Bunuh Diri Anak dan Dua Cara Membacanya
Berita itu memang terasa tak masuk akal bagi logika orang dewasa. Seorang anak sekolah dasar dari pelosok Nusa Tenggara Timur memilih mengakhiri hidupnya. Bukan karena perang, narkoba, atau kejahatan rumit. Hanya cerita tentang kebutuhan sekolah yang tak terpenuhi—lalu bunuh diri menjadi jalan keluar.
Kita, orang dewasa, refleks menyederhanakan.
“Ah, cuma buku tulis.”
Padahal, justru di situlah letak kekeliruannya. Kita menilai dengan ukuran dewasa, sementara yang menanggung adalah jiwa anak-anak. Kita lupa bahwa dunia anak tidak luas seperti dunia kita. Bagi mereka, satu masalah kecil bisa terasa seperti runtuhnya seluruh langit.
Akhir Januari 2026, seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR, berusia 10 tahun, ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Ia ditemukan di kebun keluarga, tergantung di pohon cengkih. Polisi memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain.
Di tangan korban ditemukan sepucuk surat. Ditulis dengan bahasa daerah, isinya sederhana, tetapi menyayat. Ungkapan kecewa, sedih, dan perpisahan. Tidak ada kalimat “ingin mati”. Tidak ada ancaman. Yang ada hanyalah luka batin seorang anak yang tak tahu harus bercerita kepada siapa.
Pemicu awalnya terdengar sepele: ia kecewa karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen. Permintaan itu tak bisa dipenuhi ibunya, seorang orang tua tunggal yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Dua benda kecil yang bagi kita mungkin remeh, tetapi bagi seorang anak bisa terasa seperti tembok besar yang menutup seluruh dunianya.
Ironisnya, kemudian terungkap bahwa YBR tercatat sebagai penerima Program Indonesia Pintar (PIP). Bantuan itu ada di data, tetapi belum sempat dicairkan karena kendala administrasi keluarga. Negara hadir di atas kertas, tetapi absen pada saat paling genting.
Fakta lain pun mencuat. Di sekolah tempat YBR belajar, terdapat pungutan pendidikan hingga sekitar Rp1,2 juta per tahun. Angka yang berat bagi keluarga miskin, terlebih di wilayah terpencil. Sekolah negeri, tetapi beban biaya tetap terasa nyata.
Di sinilah tragedi personal berubah menjadi potret sosial.
Bagi seorang anak, sekolah adalah dunia utama. Guru adalah otoritas. Teman adalah cermin harga diri. Ketika ia datang tanpa buku, ia bukan sekadar tidak siap belajar—ia merasa gagal sebagai anak. Rasa gagal itu datang tanpa filter, tanpa kemampuan menenangkan diri, tanpa bahasa untuk berkata, “Aku sedang tertekan.”
Anak-anak belum punya kosakata untuk menjelaskan beban batin. Mereka tidak tahu cara meminta tolong selain diam. Mereka tidak mengerti bahwa kesedihan bisa dibagi. Yang mereka tahu hanya menahan.
Pendidikan kita—sering kali tanpa niat buruk—terlalu sibuk dengan target: nilai, tugas, peringkat, capaian. Sekolah berubah menjadi ruang evaluasi, bukan ruang aman. Anak datang membawa persoalan rumah, kemiskinan, dan rasa tidak berdaya, tetapi yang pertama ditanya tetap sama: PR mana?
Guru pun manusia. Lelah. Dikejar administrasi. Kurikulum padat. Kelas besar. Akhirnya, empati sering kalah oleh jadwal. Bukan karena guru tidak peduli, melainkan karena sistem jarang memberi ruang untuk peduli.
Pelan-pelan anak belajar sejak dini:
bahwa perasaan bukan prioritas,
bahwa merepotkan orang dewasa adalah kesalahan,
bahwa diam lebih aman daripada jujur.
Ketika rasa malu bertemu rasa tidak berdaya, dan tidak ada satu pun orang dewasa yang duduk sejajar lalu bertanya, “Kamu baik-baik saja?”, situasinya menjadi sangat berbahaya.
Kasus ini bukan tentang anak yang “tidak kuat”.
Ini tentang anak yang tidak ditemani saat rapuh.
Peristiwa ini menyedot perhatian nasional. Pemerintah pusat, DPR, hingga pemerintah daerah menyampaikan duka dan keprihatinan. Namun duka saja tidak cukup jika tidak diikuti perubahan nyata.
Kita sering bangga berbicara tentang pendidikan karakter. Tetapi karakter tidak tumbuh dari tekanan terus-menerus. Ia tumbuh dari rasa aman. Dari keyakinan bahwa gagal itu boleh. Bahwa tidak punya bukan aib. Bahwa menangis tidak membuatmu lemah.
Anak itu mungkin tidak ingin mati.
Ia hanya ingin berhenti merasa sakit.
Dan kita terlambat mendengarnya.
Tragedi ini seharusnya menjadi cermin—bukan sekadar berita viral. Cermin bagi keluarga, sekolah, dan sistem pendidikan kita. Bahwa mendidik anak bukan hanya soal membuat mereka pintar, tetapi memastikan mereka tidak merasa sendirian di dunia yang terlalu besar untuk tubuh sekecil itu.
Mungkin, setelah ini, pendidikan perlu sedikit melambat. Memberi ruang untuk mendengar. Memberi waktu untuk bertanya. Memberi tempat aman untuk gagal.
Karena bisa jadi, satu kalimat sederhana dari seorang guru—“Tenang, kita cari jalan bareng yuk”—adalah pelajaran terpenting yang tak pernah tertulis di buku mana pun. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












