
Film dokumenter Dirty Vote II o3 resmi tayang hari ini di YouTube. Dalam durasi empat jam, Dandhy Dwi Laksono menelusuri tiga pilar konsolidasi kekuasaan pasca-Pemilu 2024 melalui data, arsip, dan rekaman lapangan.
Tagar.co — Film dokumenter Dirty Vote II o3 karya Dandhy Dwi Laksono resmi tayang penuh hari ini, Senin 20 Oktober 2025, tepat setahun pemerintahan Prabowo-Gobran, melalui kanal YouTube resmi Dirty Vote. Film berdurasi empat jam satu detik (4:00:01) itu dirilis bersamaan dengan unggahan di akun X terverifikasi @DirtyVote, yang menulis:
“Dipersambahkan untuk seluruh rakyat Indonesia. Selamat menyaksikan.”
Unggahan tersebut menampilkan poster dengan visual kartu raja terbakar dan subjudul “Membaca Kartu-Kartu Politik Oligarki”, disertai tautan langsung ke video Dirty Vote II o3 – Full Movie.
Baca juga: O3: Rumus Membaca Kekuasaan Prabowo–Gibran dalam Dirty Vote II
Dalam tujuh jam pertama, film ini telah ditonton lebih dari 20 ribu kali di YouTube dan tayangan perdananya di X mencatat lebih dari 84 ribu kali dilihat, dengan ribuan interaksi dari warganet.
Rilis Lengkap, Empat Tahun sebelum Pemilu
Berbeda dengan Dirty Vote (2024) yang tayang tiga hari sebelum masa tenang pemilu, sekuel kali ini diluncurkan empat tahun sebelum pemilu berikutnya. Dalam pembuka film tertulis:
“Sekuel ini datang empat tahun sebelum pemilu itu terlaksana. Belum ada kandidat yang dicalonkan. Belum ada partai yang terlibat.”
Konteks ini menegaskan bahwa film bukan tanggapan terhadap kontestasi elektoral, melainkan pembacaan awal terhadap arah kekuasaan pasca-Pemilu 2024.

Tiga Bab Utama Film Dirty Vote II O3
Film dokumenter ini dibagi menjadi tiga bab besar (chapter) yang saling bertaut dalam menjelaskan bagaimana kekuasaan bekerja setelah Pemilu 2024.
Bab 1 — Dari Kecurangan ke Konsolidasi
Bagian pertama dibuka dengan paparan Zainal Arifin Mochtar, yang menjelaskan akar persoalan kekuasaan: legitimasi yang rendah akibat proses pemilu yang dianggap penuh rekayasa dan ketimpangan.
Dari titik itu, muncul pola kekuasaan baru yang ditopang oleh tiga pilar utama: memperkuat otot (politik) dengan mengembalikan militerisme dan memperluas peran aparat, mengakali otak (hukum) melalui regulasi yang memihak, serta membagi ongkos (ekonomi) lewat patronase kepada elite dan pemilih.
Tiga pilar ini dirumuskan menjadi konsep O3 – Otot, Otak, Ongkos, yang menjadi pusat narasi film.
Bab 2 — Tiga Tujuan Kekuasaan
Bab kedua dijelaskan oleh Feri Amsari dengan menggambarkan arah dan tujuan akhir dari pola O3.
-
Pemenangan Pemilu, dengan menggunakan seluruh instrumen negara.
-
Kapitalisme Terpimpin, yakni pengendalian ekonomi oleh segelintir elite dan oligarki.
-
Kembali ke UUD 1945 naskah asli, yang oleh film dimaknai sebagai upaya menghidupkan kembali pola kekuasaan terpusat ala Orde Baru.
Ketiga tujuan ini membentuk apa yang disebut film sebagai “lingkaran setan rezim otoriter.” Kekuasaan menjadi stabil bukan karena kepercayaan rakyat, melainkan karena kemampuan mengontrol tiga hal: otot, otak, dan ongkos.
Bab 3 — Memutus Lingkaran Setan
Bab terakhir membawa nada solutif. Bivitri Susanti menawarkan gagasan “Solusi Memutus Lingkaran Setan.”
Ada tiga langkah yang disampaikan:
-
Reformasi Polisi, agar fungsi keamanan kembali pada kepentingan negara, bukan kekuasaan.
-
Reformasi TNI, agar militer tak lagi digunakan sebagai alat politik.
-
Perombakan Sistem Politik, agar otot, otak, dan ongkos dikembalikan untuk rakyat, bukan rezim. Bab ini menutup film dengan pesan: demokrasi hanya bisa diselamatkan bila kekuasaan kembali berpijak pada legitimasi rakyat, bukan pada tiga O yang menopangnya.
Produksi dan Rilis Resmi
Film ini diproduksi oleh WatchDoc, rumah produksi yang sebelumnya menggarap Sexy Killers dan Dirty Vote pertama. Kanal YouTube Dirty Vote dan akun X @DirtyVote menjadi satu-satunya platform resmi perilisan film ini.
Tim produksi menuliskan bahwa karya ini dipersembahkan sebagai “dokumen publik bagi warga negara” agar dapat memahami dinamika kekuasaan secara lebih utuh.
Baca juga: Militeristik
“Film Dirty Vote II o3 membuka dan membaca kartu-kartu politik oligarki yang selama ini tersembunyi di balik panggung kekuasaan. Menunjukkan bagaimana kebijakan, bisnis, dan birokrasi saling bertaut,” deskripsi di YouTube
Reaksi Publik
Sejak dirilis, unggahan @DirtyVote langsung menjadi salah satu topik terpopuler di X Indonesia. Hingga Senin pagi (20/10/25) pukul 09.00 WIB, unggahan tersebut mencatat lebih dari 84 ribu tayangan, 1.100 kali retweet, 149 kutipan, 1.600 lebih tanda suka, dan dan 433 markah.
Banyak akademisi, aktivis, dan jurnalis membagikan tautan film ini dengan komentar senada: film ini menandai babak baru dokumentasi politik Indonesia setelah Pemilu 2024. Sementara YouTube-nya sudah ditonton 20 ribu kali.
Bivitri Susanti, salah satu pakar hukum tata negara yang tampil di film pertama, ikut mengunggah tautan film ini dengan keterangan singkat:
“Kali ini datang lebih awal agar publik punya waktu membaca.”
Lanjutan dari Film Pertama
Film Dirty Vote edisi pertama (2024) menampilkan Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar sebagai pembicara utama. Ketiganya menyoroti penggunaan sumber daya negara dalam Pemilu 2024.
Hingga kini film tersebut telah ditonton 10 juta orang dalam dan menjadi bahan diskusi nasional di berbagai universitas serta lembaga publik.
Sekuel Dirty Vote II o3 memperluas cakupan dengan pendekatan riset visual. Tidak lagi menampilkan narator utama, melainkan mengandalkan rekaman, data, dan kronologi kebijakan sebagai narasi utama.
Dapat Diakses Gratis
Dirty Vote II o3 dapat diakses gratis di YouTube tanpa pembatasan wilayah. Belum ada pengumuman terkait penayangan khusus di bioskop atau platform lain. Kanal resmi menegaskan bahwa film ini akan tetap menjadi tayangan publik agar masyarakat dapat menontonnya tanpa biaya dan memanfaatkannya untuk pendidikan politik. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












