Feature

O3: Rumus Membaca Kekuasaan Prabowo–Gibran dalam Dirty Vote II

32
×

O3: Rumus Membaca Kekuasaan Prabowo–Gibran dalam Dirty Vote II

Sebarkan artikel ini
Zainal Arifin Mochtar dalam Dirty Vote II O3 (tangkapan layar YouTube)

Film yang menampilkan Zainal Arifin Mochtar, Feri Amsari, Bivitri Susanti, dan bintang tamu Bima Yudhistira Adhinegara ini menjelaskan O3 sebagai cara membaca kekuasaan Prabowo–Gibran pasca-Pemilu 2024. Dari diagnosis legitimasi hingga usulan reformasi.

Tagar.co — Baru 20 jam diunggah di YouTube, film dokumenter Dirty Vote II O3 telah ditonton sebanyak 192.028 kali—hingga tulisan ini dibuat pada Senin (20/1/2025) pukul 22.00 WIB.

Film ini dibuka dengan suasana yang kontras: jernih dalam gelap. Di antara cahaya dan bayangan itu, tiga pakar hukum tata negara—Zainal Arifin Mochtar, Feri Amsari, dan Bivitri Susanti—muncul bergantian, bukan sekadar sebagai akademisi, melainkan sebagai saksi atas cara kekuasaan bekerja.

Baca juga: Empat Jam “Dirty Vote II o3”: Dandhy Dwi Laksono Buka Tabir Kartu-Kartu Politik Oligarki

“Banyak hal yang baru di republik ini,” ujar Zainal Arifin Mochtar membuka film, “jadi ya harus kita coba jelaskan. Akhirnya kita bikin film lagi.”

Ia menatap kamera, lalu menegaskan alasan mengapa Dirty Vote harus lahir kembali. “Kalau di Dirty Vote pertama,” katanya, “kami menggambarkan bahwa ada semacam kecurangan sistematis di balik kemenangan 58 persen yang dipegang oleh Prabowo dan Gibran.”

Menurutnya, kecurangan sistematis itu bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan titik berangkat dari struktur kekuasaan baru yang kini berdiri di atas legitimasi rendah.

“Kecurangan sistematis itu membuat Prabowo dan Gibran juga merasa insecure,” ucap Zainal.

“Karena dia tidak percaya diri, maka kemudian dia membangun apa yang akan kita istilahkan dalam hampir seluruh dari acara Dirty Vote ini sebagai O3 — otot, otak, dan ongkos.

O3: Tiga Poros Kekuasaan

Zainal terlebih dahulu menjelaskan tiga unsur O3 yang menjadi kerangka bacaan film.

“Otot itu lebih pada sesuatu yang bersifat hardware, penggunaan kekerasan, lalu penggunaan kekuatan yang koersif,” ujarnya.

Dari sini, ia bergeser ke poros kedua yang menyasar wilayah politik dan hukum. “Otak itu bicara soal sesuatu yang lebih merangkul parpol agar parlemen tanpa oposisi, begitu juga ongkos.”

Setelah memperkenalkan ketiganya, Zainal masuk pada uraian cara kerja masing-masing poros dalam praktik kekuasaan.

“Nah, kalau otot, itu kira-kira dia banyak membiarkan polisi untuk makin berkuasa, lalu kemudian mengembalikan militerisme. Yang kedua, otak, dia merangkul parpol agar parlemen tanpa oposisi, termasuk produk hukumnya untuk memperkuat rezim, dan ongkos tentu saja adalah gentong babi untuk para elit, oligarki, hingga massa pemilih.”

Menutup penjelasan awalnya, Zainal menilai bahwa ketika legitimasi melemah, kekuasaan cenderung bertahan dengan tiga cara tersebut—menguatkan otot, mengakali otak, dan membagi ongkos—yang bersama-sama membentuk kerangka kekuasaan baru yang disebut O3.

Feri Amsari (kanan) dalam Dirty Vote II O3 (tangkapan layar YouTube)

Tiga Tujuan Akhir Kekuasaan

Setelah menguraikan cara kerja O3, Zainal Arifin Mochtar menutup bagiannya dengan nada yang lebih tajam. Dengan menatap kamera dia menegaskan bahwa kekuasaan hari ini tidak berhenti pada strategi bertahan, melainkan sudah bergerak ke arah konsolidasi baru.

Baca Juga:  Paradoksnya Paradoks

“Balik ke soalan O3 yang tadi sudah dijelaskan di awal,” ujarnya, “otot, otak, dan ongkos mudah untuk menciumnya bahwa ini adalah bagian dari upaya menggunakan itu terhadap pemilu berikutnya.”

Namun Zainal segera menambahkan, persoalan ini lebih dalam daripada sekadar perebutan suara lima tahunan.

“Tetapi kami menenggarai sebenarnya, bisa jadi ini bukan hanya berkaitan soal pemenangan pemilu,” katanya.

“Dan karenanya, untuk menjelaskan lebih lanjut, saya minta kawan saya, Feri Amsari, untuk menjelaskan apa mau diapakan sebenarnya 3O ini selain dari soalan pemilu.”

Kamera lalu berpindah. Dalam pencahayaan temaram dan latar layar berisi bagan—Pemenangan Pemilu, Kapitalisme Terpimpin, Kembali ke UUD 1945 Orde Baru, Memperkuat Oligarki—Feri Amsari berdiri mengambil alih narasi.

“Baik,” katanya tenang, “sebagaimana disampaikan oleh Prof. Zainal Arifin Mochtar, dengan tiga kekuatan—otot, otak, dan ongkos—apa saja yang bisa digunakan oleh rezim Prabowo kepada Indonesia?”

Feri Amsari\dalam Dirty Vote II O3 (tangkapan layar YouTube)

Feri memulai dengan menjawab pertanyaannya sendiri. “Pertama, tentu saja, sebagaimana disinggung tadi, ini semua untuk memenangkan pemilu 2029 nanti.”

Ia menyebut bahwa belum genap setahun setelah pelantikan, Presiden terpilih Prabowo Subianto sudah mendapat dukungan terbuka dari mantan Presiden Joko Widodo untuk melanjutkan ke periode berikutnya.

“Selain kepentingan banyak orang-orang politik soal kemenangan pemilu itu,” lanjut Feri, “Presiden Prabowo Subianto sendiri punya dua obsesi lain terkait O3 itu.”

Obsesi pertama, kata Feri, adalah membangun kapitalisme terpimpin. Bukan sekadar sistem ekonomi terpusat, tetapi pola kekuasaan yang mengendalikan siapa yang boleh kaya dan siapa yang harus tunduk.

“Kapitalisme terpimpin,” katanya, “bukan sekadar ekonomi terpusat, tapi cara kekuasaan mengendalikan siapa yang boleh kaya dan siapa yang harus tunduk.”

Dalam paparannya, Feri menilai bahwa pola ekonomi semacam itu hanya mungkin dijalankan bila tiga kekuatan O3 bekerja beriringan.

Otot digunakan untuk mengamankan situasi politik dan mengintimidasi oposisi; otak menjustifikasi langkah kekuasaan melalui kebijakan dan hukum; sementara ongkos menjadi bahan bakar yang mengikat semua kepentingan, dari elite politik sampai masyarakat bawah.

“Dengan tiga kekuatan itu,” jelasnya, “rezim tidak hanya mempertahankan kekuasaan, tetapi juga menata ulang seluruh sistem ekonomi dan politik agar berpusat pada satu figur.”

Feri menyebut bahwa tujuan ketiga dari konsolidasi O3 adalah mengembalikan sistem ketatanegaraan ke UUD 1945 naskah asli—suatu upaya yang menurutnya akan membuka peluang lahirnya kekuasaan yang terlampau kuat di tangan presiden.

“Kalau ini dibiarkan,” katanya, “maka seluruh lembaga negara akan kembali menjadi kaki tangan eksekutif. Demokrasi tinggal nama, sementara kedaulatan rakyat semakin tipis.”

Baca Juga:  Baitul Maqdis Institute Minta Indonesia Tinjau Ulang Keikutsertaan dalam Board of Peace

Ia menutup bagiannya dengan kalimat yang menjadi semacam pengingat:

“Kita sedang menyaksikan bagaimana kekuasaan yang lahir dari legitimasi rendah mencoba bertahan bukan dengan kepercayaan rakyat, melainkan dengan otot, otak, dan ongkos yang terorganisasi.”

Bivitri Susanti dalam dalam Dirty Vote II O3 (tangkapan layar YouTube)

Bagian awal Dirty Vote II O3 memperlihatkan pola berpikir film secara utuh: dimulai dari penyakit kekuasaan yang ditelusuri Zainal, dijabarkan dalam tujuan kekuasaan oleh Feri, ditutup dengan terapi reformasi dari Bivitri, dan disempurnakan oleh Bima.

Sistematika ini membuat film terasa seperti perjalanan intelektual—bukan sekadar tudingan, tapi analisis yang menyusun logika bagaimana kekuasaan bekerja dari dalam.

Di menit-menit terakhir bab awal, layar menampilkan kalimat besar: “Legitimasi rendah, konsolidasi kuat.”

Teks itu seolah menjadi simpulan dari bab pembuka: bahwa semakin lemah dukungan rakyat, semakin besar dorongan kekuasaan untuk memusatkan kekuatan di tiga porosnya — Otot, Otak, dan Ongkos.

Film ini pun tidak hanya berbicara tentang politik hari ini, tetapi tentang cara membaca masa depan kekuasaan jika lingkaran itu tak segera diputus. (#)

Mohammad Nurfatoni