
Film yang menampilkan Zainal Arifin Mochtar, Feri Amsari, Bivitri Susanti, dan bintang tamu Bima Yudhistira Adhinegara ini menjelaskan O3 sebagai cara membaca kekuasaan Prabowo–Gibran pasca-Pemilu 2024. Dari diagnosis legitimasi hingga usulan reformasi.
Tagar.co — Baru 20 jam diunggah di YouTube, film dokumenter Dirty Vote II O3 telah ditonton sebanyak 192.028 kali—hingga tulisan ini dibuat pada Senin (20/1/2025) pukul 22.00 WIB.
Film ini dibuka dengan suasana yang kontras: jernih dalam gelap. Di antara cahaya dan bayangan itu, tiga pakar hukum tata negara—Zainal Arifin Mochtar, Feri Amsari, dan Bivitri Susanti—muncul bergantian, bukan sekadar sebagai akademisi, melainkan sebagai saksi atas cara kekuasaan bekerja.
Baca juga: Empat Jam “Dirty Vote II o3”: Dandhy Dwi Laksono Buka Tabir Kartu-Kartu Politik Oligarki
“Banyak hal yang baru di republik ini,” ujar Zainal Arifin Mochtar membuka film, “jadi ya harus kita coba jelaskan. Akhirnya kita bikin film lagi.”
Ia menatap kamera, lalu menegaskan alasan mengapa Dirty Vote harus lahir kembali. “Kalau di Dirty Vote pertama,” katanya, “kami menggambarkan bahwa ada semacam kecurangan sistematis di balik kemenangan 58 persen yang dipegang oleh Prabowo dan Gibran.”
Menurutnya, kecurangan sistematis itu bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan titik berangkat dari struktur kekuasaan baru yang kini berdiri di atas legitimasi rendah.
“Kecurangan sistematis itu membuat Prabowo dan Gibran juga merasa insecure,” ucap Zainal.
“Karena dia tidak percaya diri, maka kemudian dia membangun apa yang akan kita istilahkan dalam hampir seluruh dari acara Dirty Vote ini sebagai O3 — otot, otak, dan ongkos.
Bagian awal Dirty Vote II O3 memperlihatkan pola berpikir film secara utuh: dimulai dari penyakit kekuasaan yang ditelusuri Zainal, dijabarkan dalam tujuan kekuasaan oleh Feri, ditutup dengan terapi reformasi dari Bivitri, dan disempurnakan oleh Bima.
Sistematika ini membuat film terasa seperti perjalanan intelektual—bukan sekadar tudingan, tapi analisis yang menyusun logika bagaimana kekuasaan bekerja dari dalam.
Di menit-menit terakhir bab awal, layar menampilkan kalimat besar: “Legitimasi rendah, konsolidasi kuat.”
Teks itu seolah menjadi simpulan dari bab pembuka: bahwa semakin lemah dukungan rakyat, semakin besar dorongan kekuasaan untuk memusatkan kekuatan di tiga porosnya — Otot, Otak, dan Ongkos.
Film ini pun tidak hanya berbicara tentang politik hari ini, tetapi tentang cara membaca masa depan kekuasaan jika lingkaran itu tak segera diputus. (#)
Mohammad Nurfatoni

















