
Dua sepupu, Miftahul Jannah dan Faradilla Azzahra, menorehkan prestasi hafalan Al-Qur’an. Wisuda pesantren mereka menjadi awal langkah mengabdi dan membawa cahaya Al-Qur’an ke masyarakat.
Tagar.co – Ada momen yang begitu dalam maknanya ketika para santri berdiri gagah di hadapan orang tua, guru, dan teman-teman mereka. Hari itu bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan simbol keberhasilan menaklukkan perjalanan panjang penuh ujian: menuntaskan hafalan, belajar ilmu agama, menjaga disiplin, serta mengasah akhlak.
Dalam dua hari berturut-turut, 31 Mei dan 1 Juni 2025, dua santriwati sepupu dari tempat berbeda merayakan puncak perjuangan mereka. Miftahul Jannah, asal Balikpapan, Kalimantan Timur, menyelesaikan pendidikan di Darul Marhamah Al-Qur’an Boarding School Makassar. Prosesi wisudanya berlangsung khidmat di Hotel Unhas.
Baca juga: Rihlah Santri SMP Luqman Al-Hakim Balikpapan: Merajut Persaudaraan
Sementara Faradilla Azzahra dari Desa Aska, Kecamatan Sinjai Selatan, menyelesaikan studinya di Yayasan Pendidikan Islam Al-Amin, dengan prosesi penamatan digelar di halaman Pondok Pesantren Al-Amin, di Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Meski menempuh jalan di tempat berbeda, keduanya sama-sama menunjukkan semangat belajar yang ulet. Miftahul Jannah berhasil mengkhatamkan 30 juz Al-Qur’an hanya dalam waktu enam bulan, sementara Faradilla Azzahra menyelesaikan 10 juz dengan penuh kesungguhan. Ini adalah capaian luar biasa yang tak hanya membanggakan keluarga, tapi juga menjadi teladan bagi teman-teman seangkatannya.
Hari-hari penuh makna itu menjadi pengingat bagi semua: perjuangan seorang santri tak berhenti di wisuda. Di balik jubah hitam dan senyum bangga, terselip pesan penting: ilmu yang telah diperoleh di pesantren harus terus dijaga, dimurojaah, dan diamalkan dalam kehidupan nyata.
“Kepada para orang tua, inilah buah dari doa dan kesabaran panjenengan semua. Kepada para asatidz dan ustadzah, semoga amal dan perjuangan dalam mendidik menjadi jariyah tak terputus hingga akhir zaman,” demikian ungkapan syukur Suriani, ibunda Miftahul Jannah.
Bagi para santri, prosesi wisuda bukanlah garis akhir, melainkan garis start menuju medan pengabdian yang lebih luas. Mereka kini membawa bekal ilmu untuk menebar cahaya di masyarakat, menjadi pribadi rahmatanlilalamin, dan terus berjuang sebagai lentera umat.
Semoga Miftahul Jannah, Faradilla Azzahra, dan para santri lainnya tetap istiqamah menjaga akhlak dan semangat belajar. Karena sejatinya, jalan menuntut ilmu itu tiada berujung, dan pengabdian sejati baru saja dimulai. (#)
Jurnalis Muhammad Aswar Akbar Penyunting Mohammad Nurfatoni










