Opini

Kasih yang Bertumbuh: Menemukan Makna Cinta Sejati dalam Pernikahan

93
×

Kasih yang Bertumbuh: Menemukan Makna Cinta Sejati dalam Pernikahan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI/Mohammad Nurfatoni

Cinta sejati bukan sekadar gejolak perasaan, melainkan komitmen untuk tumbuh bersama hingga akhir hayat. Dari masa muda hingga senja, kasih menemukan bentuknya dalam kesabaran, pengorbanan, dan rasa syukur yang tiada henti.

Oleh Muhammad Aswar Akbar

Tagar.co – Berbicara tentang kasih, sayang, dan cinta sering kali terasa mudah secara teoritis. Namun, pemaknaan sejati tidak cukup hanya dengan kata-kata. Sebagai makhluk Tuhan yang dibekali hati, manusia memiliki ruang terdalam untuk merasakan, mengolah, sekaligus mengambil keputusan.

Hati tidak hanya berfungsi memompa darah, tetapi juga menuntun manusia menjalani hidup dengan cinta yang penuh makna.

Pada intinya, perjalanan cinta yang bertahan hingga akhir hayat bukanlah sekadar gejolak emosi di awal, melainkan pilihan sadar dan komitmen berkelanjutan. Kasih di sini melampaui perasaan sesaat; ia hadir sebagai tindakan nyata—kesabaran, pengertian, dan pengorbanan yang terus diulang hari demi hari.

Di situlah letak makna sesungguhnya: dua insan yang memilih tetap melangkah bersama melewati suka dan duka, sehat maupun sakit, lapang ataupun sempit. Kasih menjadi jangkar yang kokoh.

Dinamika Kasih Sejati

Yang menarik dari cinta sejati adalah kemampuannya beradaptasi. Kasih di usia muda mungkin penuh gairah dan impian, tetapi kasih di usia senja berubah menjadi persahabatan yang mendalam, penerimaan tanpa syarat, dan rasa syukur atas setiap momen yang telah dilalui.

Pasangan tidak lagi sekadar dipandang sebagai kekasih, melainkan saksi hidup, teman seperjalanan, dan bagian tak terpisahkan dari identitas diri. Dengan demikian, kasih adalah sesuatu yang dinamis—ia tumbuh, berubah, dan menemukan bentuk baru sesuai perjalanan hidup.

Makna Cinta

Cinta, layaknya iman, bersifat naik turun; seperti qalb yang mudah berubah. Namun cinta bisa diciptakan, dirawat, dijaga, dan diperbarui. Vries (2006) menyatakan bahwa pernikahan lebih dari sekadar cinta—ia adalah usaha dan perhatian, suka dan duka, sehat maupun sakit, muda hingga tua, serta upaya menghadapi berbagai masalah besar maupun kecil.

Pada akhirnya, cinta dalam pernikahan adalah seni yang tua, diwariskan sepanjang sejarah peradaban. Tidak mengherankan jika cinta sering disebut fenomena yang membedakan manusia beradab dari sekadar makhluk instingtif.

Sejumlah pemikir menyoroti fenomena cinta. Bergler (dalam Krich, 2015) menyebutkan salah satu tandanya adalah kesiapan menyakiti diri demi orang lain. Roche menambahkan bahwa cinta sering kali membuat orang putus asa, sementara sebagian kalangan menganggap cinta sebagai wilayah suci yang hanya pantas dimasuki penyair. Namun ketika cinta diteliti secara ilmiah, pesona dan misterinya seolah terurai.

Meski begitu, cinta tak bisa dibatasi. Ia memang bebas, tetapi bukan tanpa nilai. Justru cinta penuh dengan nilai kebaikan dan kehidupan. Dari cinta, lahir tangis bahagia, kegilaan kreatif, hingga keberanian berkorban. Reik (dalam Krick, 2009) menegaskan bahwa cinta tak hanya sebatas relasi dua insan berlainan jenis kelamin, tetapi juga meliputi kasih pada keluarga, tetangga, teman, bahkan musuh; pada bangsa, kemanusiaan, keindahan, dan Tuhan. Cinta sejati berarti tanpa batas—penuh kebaikan.

Menemukan Kebahagiaan dalam Cinta Sejati

Kebahagiaan sejati dalam cinta tidak datang dari hubungan yang sempurna, melainkan dari kemampuan menerima ketidaksempurnaan dan bertumbuh bersama. Fondasi utamanya adalah komunikasi yang jujur dan terbuka. Pasangan yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi akan menumbuhkan rasa percaya yang mendalam, yang menjadi dasar keintiman emosional.

Kebahagiaan juga hadir ketika pasangan menghargai satu sama lain apa adanya. Alih-alih berusaha mengubah, mereka justru merayakan keunikan masing-masing. Perbedaan tidak lagi dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai kekuatan yang memperkaya hubungan. Dari situlah lahir kesediaan untuk saling mendukung impian pribadi dan mendorong pasangan menjadi versi terbaik dirinya.

Terakhir, kebahagiaan ditemukan dalam kehadiran penuh di setiap momen sederhana: makan malam bersama, berjalan sore, atau sekadar bergenggaman tangan. Hal-hal kecil ini memperkuat ikatan emosional sekaligus mengingatkan alasan mengapa dua insan memilih hidup bersama.

Singkatnya, kebahagiaan dalam cinta sejati bukan hadiah di ujung jalan, melainkan buah dari upaya harian—kesediaan untuk mencintai, menghargai, dan tumbuh bersama hingga akhir hayat. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni