Feature

Dongeng Bunda May Hidupkan Peringatan Maulid Nabi SD Mutu Dukun

56
×

Dongeng Bunda May Hidupkan Peringatan Maulid Nabi SD Mutu Dukun

Sebarkan artikel ini
Sesi tanya jawab antara KL Lazismu Dukun dengan siswa SD Mutu Dukun (Tagar.co/Hasbi Amirudin)

SD Mutu Dukun rayakan Maulid Nabi dengan dongeng inspiratif dan edukasi zakat Lazismu, menanamkan jiwa filantropi Islami kepada siswa.

Tagar.co — SD Muhammadiyah 1 Dukun (SD Mutu Dukun) Gresik memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Pada sekolah berjargon Terampil, Optimis, Peduli, dan Semangat (TOPS) itu, peringatan Maulid Nabi bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Dukun lantai 2, Sabtu (13/9/2025).

Seluruh siswa larut dalam suasana belajar yang menyenangkan bersama tim Kantor Layanan (KL) Lazismu Dukun dan seorang pendongeng inspiratif. Kejutan datang ketika KL Lazismu Dukun menghadirkan sosok Bunda May, nama panggung dari Siti Maimunah bersama boneka kesayangannya, Caca.

Dengan gaya komunikatif dan penuh keceriaan, Bunda May membawakan kisah-kisah keteladanan Nabi Muhammad Saw menggunakan bahasa sederhana. Alhasil, anak-anak mudah paham.

Bunda May bukan pendatang baru di dunia dongeng Islami. Ialah Ketua Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI) Pengurus Daerah Gresik. Namanya sudah melanglang buana di Jawa Timur dan sekitarnya, menebarkan dakwah dengan bahasa anak-anak melalui cerita dan boneka.

Selain aktif di PPMI, ia juga kerap mengisi siaran radio untuk menyebarkan kisah Islami serta mendampingi anak-anak belajar di Sekolah Al-Quran Al-Ikhlas pada sore hari. Ia bahkan membuka ruang belajar di rumahnya setiap malam.

SD Mutu Dukun rayakan Maulid Nabi dengan dongeng inspiratif dan edukasi zakat Lazismu, menanamkan jiwa filantropi Islami kepada siswa.
Siswa SD Mutu Dukun mendengarkan kisah keteladanan Nabi Muhammad Saw, Sabtu, 13 September 2025. (Tagar.co/Muhammad Habibullah)

Kebaikan Nabi

Pada kesempatan itu, Bunda May membawakan kisah keteladanan Nabi Muhammad Saw yang sarat makna. Ia menceritakan tentang seorang wanita tua yang kerap menghina Nabi, namun selalu mendapat balasan berupa kasih sayang.

Baca Juga:  Merawat Autentisitas di Dunia Kerja: Strategi Zam Zam Amanah bersama Biro Gemilang Consulting

Juga tentang pengemis buta Yahudi di pasar Madinah yang setiap hari mencerca Nabi, tetapi tetap Nabi suapi dengan penuh kelembutan. “Setelah Nabi Muhammad Saw wafat, tugas memberikan makanan kepada pengemis buta itu Abu Bakar As-Siddiq teruskan. Namun, pengemis itu menyadari perbedaan dalam cara penyuapan makanan,” ujarnya.

Akhirnya, sang pengemis mengetahui orang yang biasa memberinya makan adalah Nabi Muhammad Saw. Hingga akhirnya tersentuh hatinya dan memeluk Islam setelah mengetahui sosok yang selama ini menyuapinya.

“Dari kisah ini, kita belajar pentingnya sabar, tidak membalas keburukan dengan keburukan, serta senantiasa menebarkan kebaikan,” tutur Bunda May.

Dongeng itu bukan hanya menghibur, tetapi juga menggerakkan hati para siswa. Seusai mendengarkan cerita, anak-anak dengan penuh semangat turun mengisi Kotak Filantropis Cilik dengan uang yang telah mereka siapkan dari rumah. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembiasaan berderma sejak dini sekaligus menanamkan nilai filantropi Islami di kalangan siswa.

Baca Juga: Juri LLSMS Tinjau Taman Karakter Hewan di SD Mutu Dukun

Kepala KL Lazismu Dukun Muflikhun, S.Pd. menjelaskan peran Lazismu pada Siswa SD Mutu Dukun. (Tagar.co/Hasbi Amirudin)

Peran Lazismu

Kepala Kantor Layanan (KL) Lazismu Dukun Muflikhun, S.Pd., hadir memberikan penjelasan sederhana namun penuh makna. Dengan bahasa yang mudah anak-anak cerna, ia menjelaskan perbedaan zakat, infak, dan sedekah. Selain itu dia juga memaparkan orang yang berhak menerima zakat dan bagaimana dana tersebut Lazismu kelola.

Baca Juga:  Ketika Mars Muhammadiyah dan Mars NU Dibahas di Kajian Ramadan Muhammadiyah Dukun

“Dana Lazismu disalurkan untuk lima pilar, yakni pendidikan, kesehatan, ekonomi, dakwah, dan kemanusiaan,” terangnya di hadapan siswa SD Mutu Tops.

Tak lupa, ia juga mengingatkan tentang keutamaan berzakat sebagai wujud kepedulian dan ibadah sosial dalam Islam.

Setelah pemaparan usai, suasana semakin meriah ketika sesi tanya jawab berlangsung. Beberapa pertanyaan sederhana ia lemparkan kepada siswa. Mulai dari apa itu Lazismu, siapa saja yang berhak menerima zakat, hingga pertanyaan ringan khusus bagi kelas I-III seperti, “Siapa nama Ketua PCM Dukun?”

Tanpa ragu, anak-anak pun menjawab dengan penuh percaya diri. Suasana riuh tepuk tangan terdengar setiap kali jawaban mereka tepat. Bagi guru maupun tamu undangan, momen ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bukti bahwa anak-anak dapat memahami nilai-nilai filantropi Islami sejak dini.

Baca Juga: SD Mutu Dukun Kirim Dua Kontingen Terbaik di Gerak Jalan Kecamatan Dukun 2025

Siswa SD Mutu Dukun mengisi kotak Filantropis Cilik, Sabtu, 13 September 2025. (Tagar.co/Ziyan Rosyidah)

Alasan Anak Kenal Lazismu

Kepala SD Mutu Tops Zakiyatul Faikhah, S.Pd., menegaskan bahwa memperkenalkan anak-anak dengan Lazismu bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari pendidikan karakter Islami yang harus tertanam sejak kecil.

Baca Juga:  SD Mutu Dukun Ajak Siswa TK Menyentuh Teknologi IFPD

“Melalui kunjungan ke Kantor Layanan Lazismu Dukun, kami ingin anak-anak memahami bahwa rezeki yang mereka miliki bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi ada hak orang lain yang perlu mereka bantu,” ujarnya.

Zakiyatul menyebutkan beberapa alasan penting di balik program ini. Pertama, menanamkan nilai kepedulian sosial, agar anak terbiasa melihat berbagi sebagai bagian dari kehidupan. Kedua, membiasakan budaya sedekah dan infak, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi dermawan.

Selain itu, kegiatan ini juga melatih tanggung jawab beragama. Sehingga anak-anak memahami bahwa zakat, infak, dan sedekah bukan hanya ibadah personal, melainkan juga kewajiban sosial. Mereka pun belajar bahwa ada lembaga resmi dan amanah, seperti Lazismu yang mengelola dana umat secara profesional.

“Dengan begitu, anak tidak hanya belajar berbagi, tetapi juga terbiasa menyalurkan bantuan lewat jalur yang tepat,” tambahnya.

Zakiyatul berharap, program ini mampu membangun jiwa filantropi siswa sejak dini. Sejalan dengan itu, anak-anak juga akan tumbuh dengan rasa cinta pada organisasi Muhammadiyah, sebab Lazismu merupakan bagian dari gerakan persyarikatan tersebut.

“Semoga nilai berbagi dan kepedulian ini benar-benar tertanam kuat dalam jiwa mereka, sehingga kelak tumbuh menjadi generasi yang peduli, dermawan, dan tidak individualis,” pungkasnya. (#)

Jurnalis Mohammad Hasbi Amirudin Penyunting Sayyidah Nuriyah/MS