Feature

Dewan Dakwah Bekali UMKM Sertifikasi Halal hingga Manajemen Keuangan

40
×

Dewan Dakwah Bekali UMKM Sertifikasi Halal hingga Manajemen Keuangan

Sebarkan artikel ini
Para pejabat Kementerian Agama, pengurus Laznas Dewan Dakwah, dan tokoh masyarakat berfoto bersama dalam Workshop Orientasi Program Pemberdayaan Ekonomi Umat di Masjid Al-Hilal, Bubutan, Surabaya, Kamis (2/10/2025). (Tagar.co/Istimewa)

Dewan Dakwah Jawa Timur membekali pelaku UMKM dengan empat materi strategis: sertifikasi halal, etika bisnis Islami, perencanaan usaha, hingga manajemen keuangan. Workshop di Masjid Al-Hilal ini menjadi upaya nyata memperkuat kemandirian ekonomi umat.

Tagar.co – Kamis pagi (2/9/25), Masjid Al-Hilal Surabaya bukan sekadar tempat berjemaah salat, melainkan ruang belajar dan berbagi.

Pelaku UMKM dari berbagai latar belakang hadir mengikuti Workshop Orientasi Program Pemberdayaan Ekonomi Umat yang digagas Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur bersama KUA Kecamatan Bubutan dan Laznas Dewan Dakwah.

Kegiatan ini menjadi momentum penting, bukan hanya karena menghadirkan pembekalan praktis bagi UMKM, tetapi juga meneguhkan kembali semangat kemandirian ekonomi umat.

Nilai yang diusung jelas: usaha yang dijalankan harus berdaya saing sekaligus berlandaskan syariat Islam.

Dakwah yang Menyapa Kebutuhan

Kegiatan dibuka oleh Kepala Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Kota Surabaya , Mualifi, S.H.. Dilanjutkan deggan sambutan yang menggugah dari Ketua DDII Jawa Timur Dr. K.H. Fathur Rohman.

Ia menyampaikan bahwa dakwah dewasa ini harus bilhikmah—tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga kondisi nyata umat.

Baca Juga:  Desa Digital, UMKM Wiyurejo Makin Dikenal

Baca juga: Dakwah Bilhikmah, Laznas Dewan Dakwah Salurkan Modal Usaha untuk 10 Warga

“Ketika umat butuh solusi duniawi, dakwah tidak boleh hanya berhenti di pesan,” tegas Fathur Rohman. Dia mengajak agar aktivitas zakat, sedekah, dan bantuan diarahkan agar mampu “mengangkat derajat” masyarakat — dari penerima bantuan menjadi pelaku ekonomi produktif.

Salah satu bukti nyata keseriusan program ini adalah penyaluran bantuan modal senilai Rp50 juta kepada 10 penerima. Acara simbolis itu dihadiri tokoh masyarakat dan pejabat setempat, menegaskan bahwa dukungan terhadap pelaku UMKM bukan sekadar formalitas.

Nur Azizah dalam Workshop Orientasi Program Pemberdayaan Ekonomi Umat di Masjid Al-Hilal, Bubutan, Surabaya, Kamis (2/10/2025). (Tagar.co/Istimewa)

Empat Materi Workshop dan Sinergi Harapan

Para peserta juga beroleh bekal pengetahuan yang aplikatif. Workshop ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata para pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha mereka.

Empat materi utama disampaikan secara runtut, dengan gaya komunikatif dan penuh semangat. Sesi pertama dibuka oleh Nur Azizah, S.Ag., Penyuluh Agama Islam KUA Bubutan, yang membicarakan tentang sertifikasi halal.

Dengan bahasa sederhana, ia menekankan bahwa label halal bukan sekadar stempel formalitas, melainkan jaminan syariah, perlindungan konsumen, sekaligus kunci meningkatkan daya saing produk. Ia juga menjelaskan bahwa proses sertifikasi kini lebih mudah diakses melalui skema self declare berbasis digital, sehingga pelaku UMKM tidak lagi terkendala birokrasi rumit.

Baca Juga:  UMKM Dominan, Industrialisasi Terlambat: Alarm bagi Ekonomi Nasional
Iwan Setiawan dalam Workshop Orientasi Program Pemberdayaan Ekonomi Umat di Masjid Al-Hilal, Bubutan, Surabaya, Kamis (2/10/2025). (Tagar.co/Istimewa)

Suasana semakin hidup ketika Iwan Setiawan tampil dengan materi pengarahan pusat. Ia mengingatkan kembali bahwa UMKM adalah tulang punggung ekonomi bangsa.

Namun, lebih dari itu, ia mengajak peserta untuk selalu menanamkan etika bisnis Islami. “Jangan hanya mengejar keuntungan. Keberkahan dan kejujuran adalah modal utama yang akan membuat usaha bertahan panjang,” tegasnya, disambut anggukan peserta.

Materi ketiga hadir lebih praktis dan strategis. Dr. H. Hairul Warizin, S.E., M.M., mengajak peserta menyusun rencana bisnis dan kewirausahaan. Dengan berbagai contoh kasus, ia menekankan pentingnya kreativitas, keberanian membaca peluang, dan kemampuan beradaptasi terhadap pasar modern yang terus berubah.

Banyak peserta tampak mencatat serius, bahkan sesekali bertanya tentang strategi pemasaran digital dan inovasi produk.

Tak berhenti di situ, Hairul Warizin kembali tampil dengan materi terakhir: manajemen laporan keuangan. Ia menegaskan bahwa usaha sekecil apa pun membutuhkan pencatatan yang rapi, transparan, dan akuntabel.

“Keuangan yang sehat adalah kunci keberlanjutan usaha. Tanpa catatan jelas, kita tidak pernah tahu apakah usaha kita benar-benar untung atau justru rugi,” jelasnya sambil menunjukkan contoh format sederhana pencatatan.

Baca Juga:  Jangan Lompong, Menu Pembuka Kopdar Aisyiyahpreneur Jember
Hairul Warizin dalam Workshop Orientasi Program Pemberdayaan Ekonomi Umat di Masjid Al-Hilal, Bubutan, Surabaya, Kamis (2/10/2025). (Tagar.co/Istimewa)

Keempat materi tersebut melengkapi satu sama lain: mulai dari aspek syariah, etika bisnis, perencanaan usaha, hingga pengelolaan keuangan. Semuanya dirancang sebagai bekal penting agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu tumbuh dan naik kelas.

Sinergi inilah yang ditekankan Ketua Panitia Pelaksana, Syayid Al Ghazali dari DDII. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan langkah nyata untuk menyiapkan UMKM agar semakin mandiri.

“Dengan sertifikasi halal, perencanaan bisnis yang matang, serta manajemen keuangan yang tertata, insyaAllah usaha para pelaku UMKM akan semakin berkah, dipercaya masyarakat, dan mampu menembus pasar yang lebih luas,” ujarnya penuh keyakinan.

Workshop ditutup dengan doa bersama. Suasana khidmat itu seolah meneguhkan harapan besar agar semangat wirausaha terus tumbuh, ekonomi umat semakin kokoh, dan produk UMKM hadir sebagai pilihan halal, sehat, serta tayib yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni