
Sering dianggap sepele, buang angin justru menyimpan pesan kesehatan dan spiritual. Islam mengajarkan bahwa setiap nikmat, sekecil apa pun, layak untuk disyukuri.
Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.
Tagar.co – Buang angin adalah bagian dari rangkaian metabolisme tubuh manusia. Dalam perspektif Islam, buang angin merupakan proses alami yang memiliki hikmah dan manfaat, baik spiritual maupun kesehatan.
Ia bukan sesuatu yang harus diremehkan, melainkan perlu disyukuri dan dikelola dengan adab yang baik.
Bahkan Nabi Saw. melarang mentertawakan orang yang buang angin. Disebutkan dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari, dari Abdullah bin Zam’ah, beliau berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَظَهُمْ فِي ضَحِكِهِمْ مِنْ الضَّرْطَةِ وَقَالَ : لِمَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَفْعَلُ
“Sesungguhnya Nabi Saw memperingatkan para sahabat ketika mereka tertawa karena buang angin. Beliau bersabda: Mengapa kalian mentertawakan sesuatu yang kalian sendiri melakukannya?”
Buang Angin sebagai Nikmat Allah
Buang angin adalah bagian kecil dari tanda kekuasaan Allah dan nikmat kesehatan yang sering dianggap remeh, bahkan dilupakan manusia. Nabi Saw bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (Sahih H.R. Bukhari)
Baca juga: Menyingkap Makna Mendalam di Balik Ucapan Insyaallah
Hadis ini mengingatkan kita untuk mensyukuri nikmat kesehatan. Dalam konteks medis, ketidakmampuan seseorang untuk buang angin bisa menjadi tanda adanya penyakit serius.
Seperti obstruksi usus (penyumbatan), konstipasi parah, radang usus buntu, hingga kanker usus atau perlengketan pascaoperasi. Semua ini memerlukan penanganan medis segera dan tentu menimbulkan biaya besar.
Menjaga Etika saat Buang Angin
Buang angin adalah hal yang umum terjadi dan termasuk bagian dari fungsi pencernaan. Nabi Saw juga melarang seseorang menahan buang angin atau kencing ketika salat. Beliau bersabda:
لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ وَلَا وَهُوَ يُدَافِعُهُ الْاَخْبَثَانِ
“Tidak ada salat di hadapan makanan, begitu juga tidak ada salat sementara ia menahan kencing dan buang hajat (termasuk buang angin).” (H.R. Muslim)
Oleh karena itu, tidak perlu malu ketika hendak buang angin, dan tidak pantas pula menertawakan orang lain yang melakukannya.
Namun, yang perlu diperhatikan adalah menjaga adab: tidak melakukannya di depan umum, tidak mengeluarkannya dengan suara atau bau yang mengganggu orang lain, serta berusaha menjauhkan diri dari keramaian ketika harus buang angin.
Kesimpulan
Kehidupan akan lebih bermakna jika setiap nikmat kesehatan disyukuri dan digunakan untuk beribadah kepada Allah. Dengan begitu, seseorang dapat meraih ketenangan spiritual, fisik, dan psikis. Allah Swt berfirman dalam Surah Ar-Rahman ayat 13:
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Sudah sepatutnya seorang muslim mengakui segala nikmat Allah dan bersyukur atasnya, termasuk nikmat kecil yang sering dianggap remeh seperti buang angin. Wallāhualambisaawāb. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












